Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 109 Kenapa harus dia?


__ADS_3

"Apa yang di katakan Aksa itu benar. Daripada mencintai Aksa yang tidak jelas kemana hatinya, lebih baik kamu mencari pria yang mencintai kamu dengan sepenuh hatinya," ujar Noah seakan sedang memberi nasehat. Juga sedang mencemooh sepupunya. Padahal ia sedang membicarakan dirinya sendiri. ia ingin mempromosikan hatinya.


 


Aksa tergelak. Dia tahu sepupunya itu sedang kebingungan karena tiba-tiba dirinya membahas soal cinta dan menunjuk Noah. Meskipun kenyataannya adalah benar, tapi Noah takut jika itu akan membuat gadis ini menjauh darinya. Karena sekarang cinta itu akan terlihat hanya memanfaatkan keadaan hati Yora yang sedang patah hati.


 


Yora tidak mengerti. Mungkin karena di hatinya masih ada Aksa.


 


"Aku ingin pulang," kata Yora seraya berdiri.


 


"Aku akan antarkan." Noah berinisiatif. Aksa mengangguk. Setuju kalau gadis itu di antar. Yora melangkah menuju ke pintu. Noah membuntutinya. Namun saat hendak membuka pintu, gadis itu membalikkan badan.


 


"Aku tidak tahu bagaimana hubungan kalian berdua, tapi aku harap itu adalah hal baik. Dan Kak Aksa harus ingat. Permasalahan perjodohan ini tidak hanya sampai di sini. Jika mama tahu, aku tidak tahu harus bilang apa,” kata Yora memberi nasehat.


 


Aksa memang hanya fokus pada hatinya yang ingin memiliki Lisa. Dia tidak berpikir dari sisi Yora. Pria ini memang egois. Dia akui hal itu. Setelah mengatakan itu, Yora berjalan keluar tanpa pamit. Namun ada Noah yang mendampinginya. Aksa tidak perlu takut gadis itu kenapa-kenapa karena kejadian ini.


 


...***...


 


"Kamu naik apa ke sini?" tanya Noah di lorong. Dia baru ingat bahwa tidak mungkin Yora sendirian ke sini.


 


"Aku di antar Maya."

__ADS_1


 


"Jadi aku tidak bisa mengantarmu pulang ya?" Noah sedikit kecewa. Ia pikir bisa mengantar gadis ini pulang.


 


"Aku akan bilang pada Maya untuk pulang sendiri. Jadi aku akan bilang kalau aku dengan Kak Noah sekarang," kata Yora berinisiatif sendiri. Noah kegirangan Yora ingin pulang dengannya.


 


Yora mengetikkan sesuatu di papan ponselnya. Setelah selesai, Yora memasukkan ponselnya pada tas.


 


"Dimana mobil Kak Noah? Aku enggak mau pulang. Aku ingin berkeliling dulu," kata Yora seperti memohon Noah untuk mengajaknya menghilangkan rasa stres yang menyerangnya karena Aksa.


 


"Di sana." Noah menunjuk mobilnya. Yora membelokkan kakinya untuk menghampiri mobil pria ini. Setelah menyalakan mesin mobil. Mereka siap pergi.


 


 


"Kenapa Kak Aksa mencintai Lisa?" tanya Yora sambil tetap menatap ke jendela. Noah hanya menoleh ke samping. Menatap gadis ini tanpa bisa menjawab. "Jika itu Chelsea atau perempuan lain, aku tidak akan berkecil hati. Karena bisa saja Kak Aksa mencintaiku karena kita berbeda. Dari segi kepribadian dan wajah. Namun ini ... Kak Aska justru jatuh cinta pada Lisa yang pernah menjadi pengganti ku saat aku koma. Bukankah sebenarnya wajah kita sama?" tanya Yora dengan mata nanar. Gadis ini ingin menangis.


 


Noah menepikan mobilnya. Yora menangis lagi. Sedikit demi sedikit air mata berjatuhan mengenai pipinya. Noah menarik tubuh Yora lagi. Gadis itu menangis dalam pelukannya.


 


...***...


 


Suasana menjadi sunyi lagi di ruang kerja Aksa. Pria ini melirik Lisa di sampingnya. Gadis ini diam sambil melihat ke luar jendela.

__ADS_1


 


"Mau pulang? Aku akan mengantarmu," kata Aksa.


 


"Kenapa baru sekarang mengijinkan aku pulang?" dengus Lisa.


 


"Karena apa yang ingin aku ketahui, sudah jelas," kata Aksa.


 


"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Lisa was-was. Aksa tersenyum mencurigakan.


 


"Hati mu."


 


"A-ada apa dengan hatiku?" tanya Lisa memaksa untuk berpikir bahwa perkiraannya keliru. Aksa mengelus lembut kepala gadis ini. Lisa menjauhkan kepalanya. Aksa justru menarik bahu Lisa agar gadis itu mendekat padanya.


 


“Jadi ... Kamu takut aku berpura-pura tertarik padamu? Kamu takut aku tidak bersungguh-sungguh?” tanya Aksa dengan senyum kemenangannya.


...____...



 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2