
Perusahaan keluarga Candika. Pukul 11.17
Aksa mendengarkan staff keuangan melaporkan hasil kerja mereka selama satu bulan. Ini rapat bulanan yang penting. Dimana setiap staff bagian apapun melaporkan hasil kerja mereka pada Aksa.
Namun sepertinya pikiran Aksa bukan pada rapat pagi ini. Ia tengah di sibukkan dengan pikiran pada hal lain. Apakah itu?
Sesekali ia melirik ke arah ponselnya yang sejak tadi diam di atas meja. Tidak bergetar sedikitpun untuk menandakan bahwa ada orang yang sedang menghubunginya. Aksa gelisah.
Bagaimana kabar Lisa ya ... Apa dia sudah mendapatkan hasilnya? Ini sudah siang. Kenapa sejak tadi dia tidak menelepon ku? batin Aksa.
Noah melirik. Dia tahu Aksa gelisah. Ini hari penting. Hari penentuan Lisa akan di nyatakan lulus atau tidak.
"Ehem!" Noah mendehem. Sekedar menyadarkan Aksa kalau dia berada di dalam rapat.
Aksa melirik. Noah melebarkan mata guna memberi teguran Aksa untuk fokus pada laporan staff keuangan.Rupanya Aksa tahu kalau dia sedang di beri kode sepupunya. Bibir Aksa menipis geram. Dia sadar ada di dalam rapat, tapi rasa gelisah mengalahkan kesadaran itu sendiri.
Di sekolah Lisa.
Meskipun 99% kemungkinan di nyatakan lulus, tapi tetap saja ini membuat Lisa dan teman-teman yang lain dag dig dug.
Wali kelas di tempat duduknya, sudah bersiap membagikan surat kelulusan pada setiap siswa. Itu makin membuat Lisa yang duduk di tengah makin tidak tenang.
"Kira-kira kita pasti lulus kan?" tanya Lisa.
"Mudah-mudahan saja," sahut Sera yang lebih tenang. Gadis ini pasti dapat nilai yang baik. Tidak seperti Lisa yang besar kemungkinan pas-pasan.
Satu persatu nama di sebut oleh wali kelas. Hingga tiba giliran Lisa dan Sera. Keributan sudah di mulai setelah nama pertama yang di sebut membuka amplop. Namun Lisa yang sudah mendapat amplop tidak segera membuka amplop surat kelulusan miliknya. Sampai semua siswa mendapatkan amplop, Lisa masih belum membuka amplop miliknya.
"Lis, kamu lulus enggak?" tanya Sera yang sejak tadi tidak mendapat kabar soal temannya ini.
"Eh, enggak tahu."
"Kenapa enggak di buka?" tanya Sera.
"Iya. Nanti saja di rumah." Lisa tersenyum.
"Nanti? Kenapa enggak sekarang?" Sera heran.
"Iya," jawab Lisa singkat.
"Kenapa sih ini anak?" tanya Sera tidak mengerti. Saat itu Trio berandal muncul.
__ADS_1
"Gimana, kamu lulus kan? Aku cemas," tanya Sabo.
"Ya."
"Ya pastilah Sera lulus. Seharusnya Sera yang cemasin kamu, Bo. Kan yang enggak pintar kamu, bukan Sera," celetuk Nero. Sabo menjitak kepala Nero.
"Semua lulus kan?" tanya Sera pada yang lain. Mereka mengangguk seraya menunjukkan jempolnya pada Sera. Lisa ikut senyum.
"Terus kamu juga lulus kan? Kok sejak tadi diam aja?" tanya Aris pada Lisa.
"Lulus mungkin," jawab Lisa seenaknya.
"Mungkin? Emangnya belum jelas? Kan sudah ada kata lulus atau tidak lulus.
" Aris heran.
"Hehehe iya." Lisa hanya menggaruk kepalanya saja sambil meringis.
"Dia belum membuka amplopnya sama sekali, Ris,* celetuk Sera. Lisa langsung diam. Aris mengerutkan kening di ikuti yang lain dengan tatapan tidak mengerti.
"Kenapa enggak di buka, Lis? Emang segitu enggak pede-nya sama hasil ujian, jadinya enggak berani buka, begitu?" tanya Sabo. Lisa meringis.
"Memang kenapa Lis?" tanya Aris lagi. Sera hanya melihat dan membiarkan Lisa di interogasi yang lainnya.
"Enggak apa-apa."
"Kenapa sih?" tanya Nero enggak suka. Dia paling suka kalau menggoda Lisa. Tiba-tiba saja amplop yang hendak di masukkan ke dalam tas itu di sambar oleh Nero.
"Hei!" teriak Lisa. Yang lain pun menghalangi gadis ini untuk mengambil amplop dari Nero. "Kalian juga kenapa sih? Suka-suka aku-lah mau buka atau enggak," sungut Lisa.
"Lulus kok." Nero berhasil membuka amplop itu dan membacanya. Yang lain pun merespon dengan lega. Lisa menipiskan bibir. Dia yakin lulus, meskipun mungkin dengan nilai pas. Namun ada hal lain yang ia takutkan.
"Kita pergi ke pantai yok!" ajak Aris.
"Ayo!!" Semuanya setuju. Lisa menggelengkan kepala.
"Aku sudah memberi tahu Giri untuk ikut. Soalnya seru juga kalau ada adikmu," kata Aris yang paling cocok sama Giri. Dia sudah merencanakan ini rupanya.
"Enggak, aku enggak ikut," tolak Lisa.
"Kenapa?" tanya Nero tidak setuju.
__ADS_1
"Karena ..." Ponselnya berdering. Jantung Lisa berdegup kencang. "Karena aku ..." Kalimat Lisa terjeda lagi karena suara dering ponsel itu.
Awalnya ia mengabaikan tapi kemudian terpaksa menerima terima telepon itu karena sangat berisik juga terasa penuh dengan pemaksaan. Akhirnya ia memilih mengabaikan Nero.
"Aku terima telepon dulu." Lisa pamit. Lalu dia menjauh. Mereka pun mengira itu pasti Aksa. "Ya, halo," jawab Lisa.
"Aku pikir kamu sudah janji untuk memberi aku kabar. Kenapa sampai sekarang belum menghubungiku?" Itu suara Aksa.
"Eh, iya."
"Jangan beralasan kamu belum dapat surat kelulusan, Lisa. Aku sudah mencari informasi. Bahwa seluruh sekolah sudah memberikan surat kelulusan muridnya sejak tadi," kata Aksa yakin. "Lalu kenapa kamu belum memberi kabar padaku?"
Hah?! Ini orang semangat bener. Bukannya aku yang sedang lulus sekolah, kenapa dia yang berapi-api?
"Kamu lulus, Lis?" tanya Aksa.
"Eee ... i-ya," jawab Lisa lambat.
"Hhhh ... selamat ya sayang," kata Aksa lembut.
"Iya," sahut Lisa tapi wajahnya meringis. Sera yang mendekat jadi tahu ekspresi wajah itu.
"Aksa ya?" tanya Sera. Lisa mengangguk. "Kenapa mukanya begitu? Bukannya senang kalau di telepon Aksa, kenapa wajah kamu begitu?" Sera heran.
"Karena dia bisa menggila kalau dengar aku sudah lulus," terang Lisa dengan melebarkan mata betapa horornya jika Aksa menggila.
"Menggila?" tanya Sera tidak paham. "Dia bahagia banget kalau gadisnya lulus, begitu?"
"Lebih dari kata bahagia. Dia luar biasa bahagia daripada aku sendiri yang lulus sekolah."
"Karena?" kejar Sera ingin tahu.
Lisa diam. Dia mengepalkan tangan gelisah. Sera mencoba sabar mencari tahu. Dia menunggu jawaban Lisa dengan tenang.
"Karena ... Dia akan melamar ku." Lisa akhirnya mengungkap alasan dia gelisah. Lisa sengaja mempercepat kalimatnya.
"Oh, benarkah?!" Sera melebarkan mata dan berteriak histeris. Kepala Lisa mengangguk membenarkan. Sera langsung memeluk kawannya ini dengan erat. "Selamat ya ... Pantesan Aksa enggak sabar nunggu kabar kamu lulus." Sera melepas pelukannya. "Karena dia ngebet banget segera melamar kamu. Pingin unboxing ...," bisik Sera dengan mata nakalnya.
..._____...
__ADS_1