
Lisa terkejut saat tahu orderan yang masuk ke dalam rumah makan tempatnya kerja sambilan. Itu adalah perusahaan milik keluarga Candika.
Arrggg!! teriak Lisa di dalam hati. Dia terpaksa mau karena ini pekerjaan. Sudah sudah payah mencari pekerjaan akan sangat menyakitkan jika di buang begitu saja karena hal ini.
"Oke. Aku bisa mengatasinya. Toh, yang pesan bukan mereka," gumam Lisa. Dia bertekad untuk yakin bahwa dia tidak akan bertemu dengan Aksa di tempat ini. Helm dengan ukuran kecil masih bertengger di
Dengan membawa kresek berisi makanan yang di pesan, Lisa masuk ke dalam gedung perusahaan. Seorang sekuriti menghampirinya.
"Ada apa, Mbak?"
"Mengantar pesanan." Lisa menunjukkan kresek berisi kotak makanan itu pada sekuriti.
"Boleh lihat siapa yang pesan?" tanya sekuriti. Lisa menunjukkan alamat penerima. Sekuriti itu membacanya. "Sebentar. Saya telepon dulu." Sekuriti itu mendekat ke meja lobi dan meminjam telepon. Sepertinya menghubungi orang yang memesan. "Di suruh ke atas? Ya. Oke." Pria itu meletakkan gagang telepon dan menoleh pada Lisa. "Naik ke lantai 4, Mbak. Mereka sudah menunggu."
"Terima kasih, Pak."
Lisa bergegas menuju lift. Sekilas tadi ia melihat ada keramaian di aula yang letaknya tidak jauh dengan lobi. Perempuan ini berdiri di depan lift. Sebuah langkah membuatnya melirik. Seseorang berdiri tepat di sampingnya.
Aksa?!!
Dengan cekatan, Lisa segera menutup kaca helmnya. Mendadak dia tidak tenang. Kakinya bergerak-gerak gelisah.
Ting!
Suara pintu lift terbuka. Lisa diam, membiarkan pria itu masuk lebih dulu. Kemudian dia menyusul masuk. Lisa memilih berdiri di dekat dinding lift di seberang Aksa. Samar-samar, ia mendengar geraman suara seorang pria. Bisa di pastikan itu suara Aksa yang geram. Mungkin karena ia memakai helm dalam ruangan tertutup.
Ini langsung memberi perintah pada kaki Lisa untuk geser.
Pintu lift terbuka. Ada dua orang karyawan masuk. Lisa memperhatikan saat dua orang itu membungkuk hormat pada Aksa. Namun tiba-tiba saja Aksa menoleh ke arahnya.
Sial!
Lisa segera menoleh ke arah lain. Dia mendadak merasa ketahuan karena Aksa menoleh padanya. Apalagi sepertinya pria itu sedang mengamatinya.
__ADS_1
Tenang. Tenang. Aksa tidak tahu siapa aku. Dengan kaca helm yang tertutup, dia tidak bisa menemukanku di sini. Tenanglah, tenanglah, rapal Lisa berulang kali di dalam hati.
Dia tidak bisa berpikir apa-apa jika pria itu menemukannya. Meski sebenarnya tidak ada apa-apa, tapi karena dia putus dari Arka di depan Aksa, Lisa canggung. Apalagi soal pertanyaan Aksa yang aneh. Pun karena tangannya yang di cekal Aksa dan di temukan oleh Arka.
Semua kejadian sebelum dia memutuskan untuk pisah dari Arka membuatnya menjauh dari Aksa.
Mendadak karyawan yang masuk tadi mundur saat sedang bercanda dalam sunyi karena ada Aksa di dalam lift. Itu membuat tas kresek yang di pegang Lisa tersenggol. Akibatnya, pegangan Lisa oleng. Untungnya saja tidak jatuh berantakan.
"Oh, maaf. Maaf." Dua karyawan itu meminta maaf.
“Tidak apa-apa,” sahut Lisa sambil mengangguk. Namun secepat kilat dia terkesiap. Mendadak gadis ini menutup mulutnya. Dia tersadar tidak seharusnya mengeluarkan suara. Itu berarti dia menunjukkan identitasnya adalah seorang perempuan.
Sialannn!!!
Dua karyawan itu keluar dari lift. Jadi tinggal Aksa dan Lisa di dalam lift.
Lisa meringis di balik kaca helm-nya. Karena saat itu Aksa memperhatikannya lagi. Sekarang jadi lebih gugup daripada tadi. Apalagi saat Aksa melangkah maju ke arahnya pelan. Lisa langsung mundur menghindar. Bukannya berhenti, Aksa justru lebih maju.
Kaca helm yang ia pakai langsung di buka oleh Aksa. Sepertinya pria itu mulai menyadari siapa dirinya. Meskipun begitu, secepat kilat Lisa menutup kaca itu. Namun Aksa gigih memaksa membuka kaca helmnya. Itu terjadi hingga tiga kali.
“Apa-apaan sih?!” teriak Lisa dengan kesal. Kali ini wajahnya terlihat semua oleh Aksa. Dia tidak lagi bisa bersembunyi dan berpura-pura tidak kenal seperti tadi. Matanya melebar dengan geram.
Suara tadi membuat Aksa berpikir tentang Lisa. Aksa menemukan gadis ini setelah berulang kali mencarinya dengan hasil nihil. Aksa menatap lurus gadis di depannya.
“Jadi suara itu memang kamu, Lis.” Aksa lega kalau perkiraannya benar. “Akhirnya kita bertemu.” Bibir Aksa tersenyum.
Lisa membuang muka ke arah lain. Tangannya menggaruk pipi. Padahal tidak gatal. Hanya karena tidak bisa mengatasi suasana canggung yang muncul sekarang.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Aksa sambil melirik ke tas kresek yang di bawa Lisa. Gadis ini tahu. Aksa pasti bertanya soal dirinya yang menandai pengantar makanan.
“Tidak ada. Hanya kembali ke rutinitas Lisa yang lama. Mencari uang.” Kepala Lisa menoleh pada Aksa. “Untuk menambah uang saku,” tegas gadis ini.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Aksa.
__ADS_1
“Tentu saja. Karena aku bekerja keras mencari uang untuk menambah uang saku, bukan berarti aku tidak baik-baik saja. Ini memang sehari-hari sebelum menjadi Yora palsu,” jawab Lisa.
“Syukurlah.” Lagi-lagi Aksa tersenyum. Lisa mengerjapkan matanya. Lalu melihat ke arah lain lagi. Busyet. Lisa melebarkan mata dan menggeleng pelan.
Dia ambil kertas yang berisi informasi tentang pembeli.
Srek!
Aksa langsung merebut kertas itu dari tangan Lisa. Tentu saja ini membuat alis Lisa menyatu membentuk kerutan.
“Apa yang kamu lakukan Aksa?” tegur Lisa dengan wajah ingin marah. Aksa tidak membalas pertanyaan Lisa. Dia hanya membaca tulisan itu dan menyodorkan pada Lisa lagi. Ini membuat Lisa bingung.
Ting!
Pintu lift terbuka. Lisa tidak peduli dengan tindakan Aksa barusan. Dia keluar dari lift tanpa pamit. Namun sungguh mengejutkan bahwa pria itu justru ikut keluar. Lisa tidak bisa mengira kalau Aksa mengikutinya. Jadi gadis ini membiarkan pria itu.
“Tempat mereka ruangan sebelah kiri, Lis.” Aksa memberi tahu ruangan yang ada pada tulisan tadi. Lisa mengerutkan kening sambil menoleh ke belakang sekilas.
Melihat Aksa di lantai ini, semua orang terlihat terkejut. Namun mereka langsung membungkuk sambil memberi hormat. Lisa yakin Aksa sedang menguntitnya. Akhirnya Lisa menemukan orang yang memesan.
“Terima kasih, ya ...”
Lisa menyerahkan kresek itu sambil tersenyum. Orang-orang yang memesan makanan itu, terkejut melihat atasan mereka di belakang pengantar makanan ini. Mereka langsung membungkuk.
Setelah transaksi selesai. Lisa bergegas kembali mencari lift. Aksa masih mengikutinya. Lisa menoleh ke belakang.
“Kenapa mengikuti ku?” semprot Lisa yang berdiri di dekat tombol. Berbeda dengan tadi yang berdiri di belakang. Dia berani mengambil kesimpulan itu karena setelah menemani Lisa menyerahkan orderan, Aksa juga ikut pergi.
“Ini perusahaan ku,” jawab Aksa tepat. Lisa membalikkan wajahnya ke depan. Menggeram sebentar karena dia tidak bisa berdebat dengan tuan penguasa ini. Tiba-tiba Aksa menyerobot dari belakang, untuk menekan tombol.
...____...
__ADS_1