Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 70 AKsa dan ARka


__ADS_3


"Arka?" Lisa terkejut cowok ini muncul di rumahnya.


 


"Sepertinya sejak siang tadi kalian bersama dan sekarang baru pulang," kata Arka membaca situasi mereka berdua.


 


"Ya. Ada jamuan makan dengan rekan bisnis Aksa. Jadi aku ..." Lisa berusaha menjelaskan.


 


"Jadi sekarang Kak Aksa membuatmu sibuk dengan pekerjaannya?" tanya Arka tanpa menoleh pada Aksa. Lisa menoleh pada Aksa sejenak. Seperti meminta bantuan untuk menjelaskan. Namun pria itu diam. "Jadi selain sebagai tunangan palsunya, kamu juga memerankan peran lain?"


 


Lisa sudah membuka mulutnya, tapi ia rasa percuma karena Arka sudah bicara lagi.


 


"Jadi Kak Aksa mulai menggunakan kamu sebagai tunangan yang sesungguhnya?" Arka memberi pertanyaan baru. Padahal pertanyaan tadi saja, belum bisa di jawab.


 


"Aku tetap Lisa, Arka. Bukan tunangannya Aksa," kata Lisa membela diri. Bahkan ia sempat terlupa kalau dirinya Yora saat bersama tamu Aksa.


 


Entah kenapa Aksa hanya diam. Pria ini hanya memperhatikan. Seakan memberikan kesempatan untuk adiknya mengeluarkan semua keinginan untuk bertanya. Dia tidak menyangkal atau mengiyakan.


 


Bola mata Arka menunduk. Melihat ke arah tangan Lisa yang sedang memegang jas milik Aksa tanpa sadar.


 


"Bahkan kamu juga membawakan jas miliknya?" Ini pertanyaan Arka kesekian kalinya. Namun ini yang paling mengejutkan Lisa. Karena gadis itu tidak sadar telah membawanya.


 


Mendengar itu kepala Lisa menunduk melihat ke tangannya. Aksa juga mengikuti bola mata Arka dan melihat ke tangan Lisa.


 


"Oh, astaga!" seru Lisa terkejut seraya melempar jas milik Aksa ke tanah. Lalu melihat ngeri ke arah jas yang tadi sudah dipegangnya lama. Bola mata Aksa membulat sempurna.

__ADS_1


 


"Hei!" teriak Aksa protes karena jas miliknya di buang seenaknya ke tanah. Arka melirik ke Aksa.


 


"Aku enggak sadar sudah memegang jas miliknya. Itu tidak di sengaja," kata Lisa. Dia tidak peduli pada Aksa yang terpaksa membungkuk untuk mengambil jas miliknya.


 


"Tidak sadar?" tanya Aksa akhirnya mulai bicara. Lisa menoleh sinis. Dia tidak ingin mendengarkan Aksa bicara. "Kamu bilang tidak sadar? Bahkan sejak kamu tidur tadi jas milikku sudah menyelimutimu dari hawa dingin puncak. Sekarang setelah kamu hangat, kamu membuang jas ini seenaknya." Aksa protes.


 


Lisa berdecak kesal seraya melirik ke Aksa. Merasa Aksa akan menimbulkan kemarahan ARka makin parah.


 


"Kamu tidak tahu diri sekali. Kamu tahu. Kamu menggigil kedinginan saat tidur tadi, dan aku dengan terpaksa melepaskan untuk menyelimutimu. Aku ini menyelamatkanmu," kata Aksa terus saja membuat ARka menatap Lisa dan Aksa bergantian.


 


"Bisa diam enggak sih?" pinta Lisa akhirnya. Dia kesal. "Itu hanya sebuah jas." Lisa memandang remeh ke jas milik Aksa.


 


 


Ada apa dengan jas itu?


 


"Kalian tampak akrab sekali, sampai aku tidak berguna berada di sini," kata ARka seraya tersenyum merasa lucu. Tawa sinis yang membuat hati Lisa ciut.


 


"Aku sedang berdebat, bukan akrab, Arka," bantah Lisa dengan suara lembut. Aksa yang kesal segera masuk mobil dan menyalakan mesin. Dia pergi dari sana tanpa pamit.


 


Aksa marah? Serius? Yang benar saja.


 


Lisa tidak mengejar. Itu tidak penting. Ada hal sangat penting di sampingnya.


 

__ADS_1


"Maafkan aku, Ka," ujar Lisa langsung merendah.


 


"Kamu tidak bisa di salahkan soal sandiwara konyol ini. Karena kamu melakukannya sebelum menjadi kekasihku. Itu keputusanmu, tapi sepertinya jika begini ... aku tidak mampu menahan rasa marah yang terus menerus menyerangku saat kamu dan Aksa," kata ARka dengan wajah pasrah.


 


"Kita masih bertahan," kata Lisa cepat sebelum ARka mengatakan sesuatu yang tidak di inginkannya.


 


"Kamu tetap memaksa kita bertahan?" tanya Arka.


 


"Harus. Aku tidak ingin menyerah," kata Lisa berusaha mengatakan kalimat penyemangat. "Kita kencan besok. Kamu dan aku. Aku akan abaikan jadwal dengan Aksa. Kita harus keluar bersama untuk merefresh pikiran kita. Setuju?" tawar Lisa seenaknya seraya mengulurkan tangan.


 


Arka diam sembari menatap Lisa agak lama. Lisa tidak peduli. Ini tidak harus berakhir.


 


"Setuju?" tanya Lisa sambil menarik tangan Arka dan menyatukan dengan tangannya sendiri. Jadi tangan dan Lisa berjabat tangan.


 


Arka mendengus.


 


"Lucu. Aku marah, tapi aku setuju," kata Arka menghela napas.


 


"Tidak. Kamu tidak marah. Ini hanya intermeso," sanggah Lisa juga seenaknya. Arka tergelak akhirnya. Lisa menghela napa lega.


 


Dari dalam rumah, Giri bukannya sibuk. Cowok ini malah melihat semua kejadian barusan dengan santai.


 


"Tumben sekali, kakakku itu laris," gumam Giri.


______

__ADS_1


__ADS_2