Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 24 Arka dan Lisa


__ADS_3


Karena sudah tahu rumah Lisa karena mengantar ibu pulang, Arka tiba-tiba muncul di halaman.


"Arka? Mau nganterin Lisa?" tanya Giri yang baru saja mengeluarkan motor dari dalam rumah. Lisa mendelik.


"Mau mampir aja," sahut Arka.


"Sekalian aja nganterin. Jadi aku enggak perlu nganterin dia ke sekolah." Giri berharap sekali untuk tidak mengantarkan kakaknya.


"Hei ...," desis Lisa sambil menarik lengan Giri dengan mata geram.


"Apa? Ikut Arka aja enak. Lagian dia sendiri yang muncul di sini. Bukan aku yang minta." Giri masih kukuh untuk meminta Lisa ikut Arka.


"Biar Giri berangkat sendiri, Lis. Bangku motorku masih kosong di belakang." Arka menunjuk motornya.


"Ya dah. Aku serahkan Lisa ke kamu. Aku berangkat." Tanpa mempedulikan bagaimana kakaknya, Giri menyalakan motor dan pergi.


"Kita berangkat, Lis?" tawar Arka. Lisa terpaksa ikut karena Giri sudah menghilang. Kelamaan kalau ia harus menunggu angkot.


"Ya."


***

__ADS_1


Sebenarnya selain kata terima kasih yang lupa terucap, ada lagi yang membuat Lisa canggung untuk bertemu dengan cowok ini.


Motor sampai di tempat parkir sekolah.


"Eh, yang barusan itu Lisa dan Arka, ya?" seru Nero. Sabo dan Aris ikut menoleh ke arah yang di tunjuk Nero.


"Iya. Benar, tuh. Kenapa mereka bisa barengan?" tanya Aris.


"Mungkin setelah dari rumah sakit itu, mereka jadi akrab." Sabo memberi penjelasan positif.


Lisa mulai turun dari motor Arka. Saat itu Lisa kesulitan membuka pengunci helm.


"Bisa?" tanya Arka yang sudah memarkir motornya dengan benar. Lisa hanya senyum tipis dengan tangan masih berusaha membuka. Arka mendekat. "Aku bantu." Arka langsung merebut posisi tangan Lisa di dekat telinga.


Lisa terkejut. Tangannya terjuntai kebawah. Membiarkan Arka membantunya.


"Ini macet, jadi agak sulit membukanya." Arka perlahan. Lisa diam tidak berkomentar. "Jadi ... gimana jawabanmu?" tanya Arka makin membuat Lisa gugup. Dia membeku. "Lis ..."


"Ya? Oh sudah ya ... Terima kasih." Lisa tersenyum kaku.


"Kamu belum bisa menjawab, atau memang enggak ada jawaban pasti untukku?" tanya Arka lagi.


"Itu ..."

__ADS_1


"Aku beri waktu lagi. Sini. Aku taruh di jok motor." Arka meminta helm itu.


"Tidak," kata Lisa cepat. Arka yang sudah membalikkan tubuhnya, berhenti. Lalu menoleh pada Lisa.


"Jadi jawabanmu tidak? Oke." Arka menghela napas. "Aku kecewa, tapi tidak apa-apa. Karena aku tidak bisa memaksamu soal itu."


"Bukan. Bukan itu." Arka menaikkan alis saat Lisa meralat kalimatnya.


"Lalu?"


"Em ... ya. Aku jawab iya," kata Lisa dengan wajah gugup. Mendengar jawaban ini, bibir Arka tersenyum. Lisa salah tingkah. Arka menghela napas lega. Semua menyaksikan kejadian barusan dengan seksama.


"Wei! Ini berdua pada kenapa sih?" tanya Nero. Melihat kemunculan trio berandal, Lisa segera menghindar. "Kenapa terus-terusan main drama?" semprot Nero. Lisa mendelik ke arah cowok ini.


Namun ia tidak mau membalas. Ia lebih memilih pergi menghindari mereka bertiga. Sekarang ia merasa tidak aman.


"Mau kemana, Lis?!" teriak Nero. Lisa tidak peduli. Ia tetap berjalan menjauh dari tempat parkir. Arka tidak menahannya. Ia tahu gadis itu menghindari ketiga cowok ini. "Kenapa tu anak ..." Nero heran.


"Lagi ada yang baru jadian, nih?" canda Aris yang tidak ada niat serius, tapi saat melihat Arka tersenyum manis, Aris terkejut. "Beneran, Ka?" Yang lain langsung ikut menoleh pada Arka. Menunggu cowok ini menjawab pertanyaan Aris.


"Ya."


"Apa?!" Ketiga cowok itu langsung heboh. Arka hanya tersenyum simpul.

__ADS_1


_______


TUNANGAN PALSU


__ADS_2