Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 107 Bimbang


__ADS_3

Yora terkejut dengan adanya gadis itu di sana.


 


"K-kenapa Lisa ada di sini?" tanya Yora kelepasan bicara. Ia segera menutup mulutnya sendiri. Bola matanya melihat ke Arka dan Aksa dengan penuh rasa panik dan bingung. Karena terkejut, ia sampai menyebut sendiri nama Lisa. Padahal waktu itu berkelit kalau dia mengenal gadis itu.


 


Lisa hanya bisa diam melihat ini.


 


"Ya. Dia Lisa. Kamu pasti mengenalnya dengan baik. Penggantimu," kata Aksa lugas. Tatap matanya tajam saat mengatakan kata terakhir. Ia tidak lagi mengulur waktu untuk menangkap basah Yora. Aksa seakan tidak sabar mengatakan dia mengetahui semuanya.


 


"Tidak. Kak Aksa hanya membual. Hanya membual. A-aku tidak tahu apa yang di maksud Kak Aksa. Aku tidak mengerti." Yora tetap menyangkal. Tentu ia tidak ingin kehilangan pria ini. Makanya ia menyangkal.


 


"Sepertinya kamu datang tidak tepat waktu Yora," kata Arka. Yora menoleh perlahan.


 


"Tidak perlu berbohong lagi, Yora. Aku tahu soal Lisa dan perjanjiannya dengan nyonya Anne. Mama kamu," ungkap Aksa. Yora melebarkan bola matanya. Jantungnya berdetak kencang.


 


Wajah gadis itu memucat.


 


“Kami semua tahu kalau kamu koma dan di gantikan Lisa,” imbuh Arka. Lisa melirik Arka. Cowok ini ikut bicara. Ada apa dengan itu? Arka hanya menoleh sebentar ke Lisa kemudian memalingkan wajah tidak peduli.


 


“Terima kasih, Arka,” kata Aksa.


 


“Aku bukan membantu mu,” tepis Arka. Aksa tidak peduli itu.


 


"Karena pemeran asli sudah datang, lebih baik biarkan aku pulang, Aksa. Jadi kalian bisa bicara sesuka hati." Lisa bangkit dari duduknya.

__ADS_1


 


"Siapa bilang kamu boleh pergi?" Aksa menghadang langkah Lisa. Arka melirik.


 


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya kepentingan apa-apa di sini." Lisa mendorong tubuh Aksa. Namun pria itu kembali mendekat meski sempat mundur sejenak.


 


"Kamu datang ke ruangan ini karena aku yang membawamu. Jadi aku yang punya urusan denganmu Lisa. Aku ingin bertemu denganmu," kata Aksa seperti sengaja menyerukan kepada semua orang yang ada di ruangan ini, bahwa Lisa bukanlah orang biasa baginya. Ia sengaja mengajak gadis itu kesini.


 


Lisa melirik ke arah Yora. Raut wajahnya cemas. Gadis itu tampak tertekan melihat Aksa bersikap seperti itu.


 


"Apa kamu tidak terlalu santai mengatakan itu? Tunangan mu ada di sini. Namun kamu justru membawa gadis lain ke ruangan mu," lirih Lisa. Dia tidak ingin Yora mendengar apa yang dikatakannya.


 


"Tidak. Aku tidak peduli meskipun ada tunangan ku. Yora hanya gadis yang di jodohkan denganku. Kamu tahu itu,” kata Aksa seakan perjodohan itu tidak berarti baginya.


 


 


"Yora tahu kalau aku tidak tertarik padanya,” kata Aksa.


 


"Aksa. Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan sih?" Lisa gusar.


 


"Yora,” panggil Aksa. Pria ini menoleh ke arah gadis yang membeku di tempatnya. “Aku memilih Lisa. Jadi aku perjelas di sini, bahwa aku tidak akan membuka hati untukmu,” tukas Aksa berterus terang.


 


"Aksa!"


 


Lisa panik. Dia kebingungan.

__ADS_1


 


“Aku mengatakan apa adanya,” kata Aksa tidak peduli. Seringai menyebalkan terlintas di bibirnya.


 


"Kenapa aku yang jadi peran antagonis di sini?" protes Lisa.


 


Arka yang sejak tadi memperhatikan Lisa terdiam.


 


Kamu mulai tertarik dengan pria ini Lisa? Jika memang itu kamu, kamu yang seperti biasanya, kamu tidak akan peduli akan hal ini. Kamu akan pergi tanpa beban. Meninggalkan keributan yang tidak ada artinya ini. Karena kamu memang tidak pernah ingin membuat Yora sakit hati ataupun peduli pada Aksa.


 


Namun yang aku lihat sekarang, kamu sedang kebingungan. Kamu panik. Karena ulah mu dan sikap tidak tegas mu pada Aksa, itu menyakiti Yora. Dan kamu bimbang.


 


Sebaiknya kamu tidak perlu menyangkal Lisa, karena itu akan makin mempersulit keadaan. Jika hatimu sedikit tertarik pada Aksa, tunjukkan saja. Karena itu lebih baik. Seperti aku yang sadar bahwa bagaimanapun aku akan kalah jika melawan Aksa. Termasuk dalam memperebutkan mu.


 


Arka yang tadinya ingin langsung pergi urung. Melihat keadaan Yora, dia tidak sampai hati meninggalkannya. Meskipun ini tidak ada hubungan dengannya, ia masih punya hati. Dia tidak perlu mencemaskan Lisa. Nanti pasti ada yang akan menenangkannya. Itu Aksa.


 


Yora menggenggam tangannya erat. Dia mulai terisak. Air matanya sudah jatuh. Lisa makin kebingungan melihat Yora menangis.


 


Apa yang sudah aku lakukan? Batin Lisa.


 


Brak! Pintu terbuka dengan keras. Noah muncul. Terlihat sekali bahwa pria ini datang dengan tergesa-gesa.


 


Arka menggerakkan dagunya meminta tolong untuk menenangkan Yora yang sudah menangis. Dia tahu soal isi hati Noah pada gadis ini dari Lisa. Kepala Noah menoleh pada Yora. Gadis itu sedang menangis di tempatnya berdiri. Rupanya Arka menghubungi pria ini.


...______...

__ADS_1



__ADS_2