Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 67 Tamu Aksa


__ADS_3


Puncak pegunungan ini memang punya pemandangan yang bagus. Lisa duduk dengan senyuman di bibirnya. Meski pernah berkata bahwa ia tidak peduli soal pemandangan saat makan, tapi sekarang ia terpukau dengan tempat ini.


 


"Kamu menikmati tempat ini juga rupanya," kata Aksa yang baru datang dari toilet. Sedikit mencela Lisa yang tadinya tidak terlalu tertarik. Kepala gadis itu mengangguk tanpa menoleh.


 


"Mumpung di sini, aku harus menikmati tempat ini dengan puas," kata Lisa tetap takjub melihat pemandangan. Aska tersenyum simpul melihat Lisa terkagum-kagum. "Aku sangat menyukai gunung yang membumi. Berbeda dengan laut. Meski laut itu indah, tapi di dalam laut masih penuh misteri. Aku jadi terlalu takut pada pikiranku sendiri tentang apa isi di laut terdalam," gumam Lisa.


 


Aksa yang hendak mengirim pesan terhenti. Ia mendengarkan kalimat Lisa barusan.


 


"Kalau begitu kamu bisa berlama-lama menikmati pemandangannya. Orang dari pihak sana belum datang karena ada keperluan sedikit," ujar Aksa.


 


Lisa menoleh.


 


"Benarkah? Berarti waktu makan masih lama?" tanya Lisa merasa kecewa. Pertanyaan ini membuat Aksa tergelak.


 


"Benar, tapi kamu masih bisa makan dulu jika mau," tawar Aksa.


 


"Emm ... tidak jadi deh. Aku makan nanti saja kalau orangnya datang. Aku senang jika makan dobel, tapi takut kekenyangan." Lisa ingat jika nanti dia juga harus makan dengan baik di depan tamu Aksa. "Tapi kalau sekedar camilan boleh," sahut Lisa berharap. Lisa terlihat kelaparan. Itu wajar. Dia menculik gadis ini saat pulang sekolah. Dimana mungkin perutnya masih keroncongan.


 


"Oke. Aku akan meminta mereka menyiapkan menu tambahan untukmu." Aksa pergi menemui pelayan yang ada di sana. Mereka sudah menyiapkan makanan yang di pesan tamunya. Tinggal menunggu orang yang di undang Aksa.


 


Lisa kembali melihat pemandangan di bawah sana yang menakjubkan. Ia membiarkan Aksa memesan camilan lebih dulu untuknya.


 


"Ini meja tempat Aksa Candika?" tegur sebuah suara membuat Lisa terhenyak kaget.


 


"Ya?" Dia menoleh dengan pikiran masih belum terkumpul karena terpaku pada pemandangan di sana.

__ADS_1


 


Ia melihat ada dua orang di dekat mejanya. Seorang perempuan dan laki-laki.


 


"Apakah benar, ini meja Aksa Candika?" ulang pria tinggi dengan jambang tipis itu ramah.


 


Lisa segera bangkit dari kursinya. "Ah, ya. Benar. Anda pasti tamu Aksa. Silakan. Dia ..."


 


"Kamu sudah datang, Biema?" Aksa rupanya memperhatikan dari tempatnya tadi. Lalu dia segera mendekat ke mejanya lagi setelah memesan camilan. "Ayo, duduklah. Dengan siapa kamu datang?" tanya Aksa yang melihat seorang perempuan di samping pria ini.


 


"Dia istriku, Paris." Biema mengenalkan istrinya pada Aksa dan Lisa. Sebelum duduk mereka bersalaman dulu.


 


"Oh, nyonya Biema ternyata."


 


"Benar. Ini sekretaris mu atau ..." Paris menunjuk Lisa.


 


 


"Oh, tunangan. Maaf aku tidak mengenalinya," ujar Paris tergelak merasa tidak sopan.


 


"Tidak apa-apa. Pesta itu memang tidak mengundang banyak orang." Aksa memaklumi.


 


**


 


Dalam sekejap, obrolan di meja makan terasa begitu akrab. Aksa tidak menduga istri Biema begitu ramah dan bisa mengimbangi Lisa yang awalnya canggung.


 


"Istrimu begitu ceria dan aktif. Mungkin kamu membuat hidupnya bahagia, dia terlihat awet muda," kata Aksa saat kedua perempuan itu ke toilet bersama-sama.


 

__ADS_1


"Bukan awet muda. Istriku memang masih muda," sanggah Biema.


 


"Muda?" tanya Aksa terkejut.


 


"Aku menikahinya saat dia masih duduk di bangku SMA. Dia baru saja lulus sekolah."


 


"Benarkah?" Aksa makin terkejut.


 


"Ya." Biema tersenyum mengingat pertemuan pertama dengan istri tercintanya.


 


"Apa bagusnya punya pasangan seorang bocah?" tanya Aksa tanpa sadar. Biema melirik. "Aku hanya penasaran, Biema. Karena aku belum pernah menjalin hubungan dengan gadis di bawah umur seperti itu."


 


"Bukannya tunangan mu juga masih bocah?" tanya Biema mengoreksi. Saat pertama kali bertemu, ia tahu tunangan Aksa terlihat mirip dengan istrinya.


 


"Ya. Itu pengecualian. Kamu tahulah, aku dijodohkan. Dia bukan pilihanku."


 


"Jadi kamu sekarang bersamanya karena terpaksa?" Biema menerka. Aksa mengangguk.


 


"Dia pilihan kakekku," ungkap Aksa pasrah. Biema tergelak.


 


"Tidak masalah bukan?" Biema mengerti soal di jodohkan. Karena dia sendiri bertemu dengan istrinya karena perjodohan.


 


"Tentu itu sebuah masalah, Biema. Seorang bocah tidak akan mengerti keinginan laki-laki dewasa seperti kita." Aksa meneguk minumannya. "Aku tahu kamu mengerti kan?"


 


"Dasar. Kamu masih tetap saja seperti itu."


 

__ADS_1


"Jangan bicara tentangku. Ceritakan soal istrimu yang masih muda belia itu." Aksa sangat tertarik akan kisah Biema dan Paris.


__ADS_2