Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 38 Aneh


__ADS_3


"Aku pikir aku akan menjadi fosil jika terus menunggumu," keluh Lisa karena moodnya mendadak tidak baik. Aksa tergelak.


"Jadi ini cafe Strawberry kesukaanmu?" tanya Aksa seraya melihat ke arah bangunan di belakang Lisa.


"Tidak. Aku tidak suka Strawberry," sahut Lisa tidak setuju. Aksa melirik. Lisa menghela napas.


"Masuk ke mobilku," ajak Aksa seraya berjalan menuju mobilnya.


"Kenapa tidak di cafe ini saja?" tanya Lisa seraya menunjuk ke arah cafe.


"Aku ingin mengajakmu ke tempat lain."


"Ke mall itu?" tanya Lisa seraya menunjuk mall besar di daerah sini.


"Kamu ingin ke sana?" Aksa malah memberi tawaran.


"Ya." Maksud Lisa sekalian belanja keperluan warung di sana. Itu menghemat waktu.


"Oke. Aku ikuti keinginanmu."


"Terima kasih." Lisa kegirangan.


***

__ADS_1


Seorang security di pintu depan mengangguk sopan pada Aksa yang melintas. Pria ini hanya tersenyum tipis. Kemudian seorang security senior di selasar juga membungkuk sopan padanya.


"Kamu menjadi pelanggan VIP di sini?" celetuk Lisa


"Pelanggan VIP?" Aksa menoleh.


"Mereka semua bersikap sopan padamu." Lisa menunjuk ke arah security tadi.


"Jadi ... menurutmu aku pelanggan VIP?"


"Ya ... sepertinya." Lisa tahu karena pernah bertemu dengan pria ini di sini saat dirinya berperan menjadi dirinya sendiri. Lisa membetulkan letak tas ranselnya yang menggembung karena seragam sekolahnya. Ia ganti baju yang dititipkan nyonya Anne di cafe Strawberry.


"Ya. Aku pelanggan VIP." Setelah mendengus pelan, Aksa mengiyakan.


"Kita sudah terikat oleh perjodohan. Jadi wajar kalau ingin bertemu tunangan sendiri kan?" Aksa menunjukkan wajah tenang. Menurutnya ini wajar. Namun Lisa merasa aneh. Biasanya pria ini tidak pernah ingin bertemu dengan nona Yora ini.


Tiba-tiba perutnya berbunyi pelan. Bola mata Lisa mendelik. Berharap Aksa tidak mendengar.


"Jadi kamu lapar?" tanya Aksa. Pupus sudah harapan Lisa berharap pria ini tidak mendengar suara kelaparan dari perutnya. Ternyata bersandiwara membuatnya cepat lelah dan lapar. Lisa meringis karena ketahuan.


"Iya."


"Baiklah. Kita mencari tempat makan." Aksa menoleh ke kanan dan kiri. Dia menemukan tempat makan yang menurutnya cocok. "Kita ke sana." Aksa menunjuk gerai makanan yang di ketahui Lisa sebagai tempat makanan pedas. Gadis ini bergembira. Itu favoritnya. Makanan pedas.


Mereka pun berjalan menuju ke gerai makanan itu.

__ADS_1


Ternyata Aksa tidak memesan sama sekali. Ia justru membiarkan gadis ini memesan.


"Mana makananmu? Kenapa hanya aku yang memesan?" tanya Lisa bingung.


"Aku tidak lapar."


"Lalu?"


Kruukk ... suara lapar Lisa makin keras. Ini waktunya makan. Lisa tidak bisa membiarkan begitu saja makanan yang sudah ia pesan.


"Bisa aku makan dulu?" tanya Lisa dengan penuh permohonan.


"Ya. Makanlah. Perutmu sudah berteriak meminta makanan." Aksa membuka tangannya. Mempersilakan gadis ini untuk makan. Lisa langsung menyantap makanannya. Ia terlihat benar-benar lapar.


"Apa isi tasmu?" tanya Aksa yang penasaran dengan tas ransel yang menggembung itu. Mendengar itu, Lisa segera meraih tas itu dan mendekatkannya pada tubuhnya.


"Kenapa tanya?"


"Tidak. Hanya penasaran saja." Aksa menjawab dengan enteng. Lisa merasa curiga. Pria ini sungguh terlihat sangat santai dan tenang. Berbeda dengan Aksa yang biasanya enggan berlama-lama dengan Yora.


"Aku ... bisa lanjut makan?" tanya Lisa ternyata lebih perhatian pada makanannya daripada kecurigaannya pada Aksa yang aneh.


"Tentu."


***

__ADS_1


__ADS_2