Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 155 Titik lemah Aksa


__ADS_3

"Hei!" teriak Lisa menggelegar. Ia marah.


Kakek dan Pak Aknam menoleh cepat. Ini sangat mengejutkan. Bahkan Aksa tertegun mendengar teriakan Lisa. Tidak ada yang menduga bahwa Lisa akan berteriak.


"Lisa ...," sebut Aksa.


"Bisa enggak sih bicara dengan sopan pada orang tua? Kamu pikir sedang bicara dengan bocah? Kakek ini orang tua yang patut kamu hormati Aksa!" Lisa marah. Ia membuat Aksa diam beberapa saat. Terpaku pada bentakan Lisa.


"Lisa, aku ini sedang membela kamu. Aku ada di pihak kamu ...," jelas Aksa dengan suara marah yang tertahan.


"Apa yang perlu di bela, Aksa? Tidak ada masalah apa-apa di sini ..." Lisa juga mulai melembutkan suaranya, tapi masih dengan ekspresi geram.


"Tidak ada masalah? Lalu kenapa kakek menculik mu pagi-pagi?" tanya Aksa. Bola mata Lisa mengerjap. "Juga soal ibu yang tidak menginginkan pernikahan. Itu karena kakek kan?"


Lisa melebarkan mata mendengar itu.


Kakek tergelak pelan. "Suasana hari ini memang cerah, Aknam," kata Kakek.


"Benar," sahut Pak Aknam yang sepertinya ada pada mood yang sama dengan atasannya.


Lisa menipiskan bibir.


"Apa yang kamu katakan Aksa?" tanya Lisa geram. "Aku ini bukan sedang di tekan kakek atau apapun yang kamu pikirkan itu, Aksa," jelas Lisa. "Aku tidak diculik."


"Lalu kenapa kalian ada di tempat seperti ini?" Aksa melebarkan tangannya ke tempat yang menurutnya aneh ini.


"Aku ini sedang memancing. Kakek mengajakku ke kolam pancing untuk memancing. Bukan yang lain. Bukan memarahi ku atau hal yang mirip dengan itu. Tidak. Bukan!" pungkas Lisa.


"Bukan?" tanya Aksa yang mulai merasa ganjil.


"Tentu saja bukan," jawab Lisa masih dengan ekspresi geregetan. "Kakek itu orang baik. Aku juga bukan orang penting yang pantas di culik dan ..."


Aska langsung menarik tubuh Lisa dan memeluknya erat.


"A-aksa?"


"Jika memang tidak ada apa-apa, syukurlah. Aku cemas ...," ujar Aksa. Lisa tertegun melihat tanggapan pria ini. Dia diam saja tanpa membalas pelukan Aksa. Kakek dan Pak Aknam melirik ke arah mereka.


"Lihatlah Aknam. Apa sekarang aku sedang melihat diriku sendiri?" tanya Kakek lirih. Pak Aknam tersenyum.


***


Beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"Ini Lisa?" tanya sebuah suara asing di sana.


"Ya. Saya Lisa." Karena asing, Lisa mencoba bicara dengan formal. "Ini siapa? Nomornya tidak ada dalam kontak telepon saya."


"Ini kakek Candika."


Deg! Kakek Candika? Mendengar nama itu, Lisa sempat bengong.


"Kakek ingin bicara berdua dengan mu tanpa Aksa tahu, apa bisa?" tanya Kakek.


"B-Bisa."


"Baiklah. Kakek akan datang ke rumahmu sekarang."


"Sekarang? Kakek sekarang ada di mana?" tanya Lisa melihat ke sekitar halaman rumah. Klik. Telepon terputus. Karena ponsel Lisa memang drop baterainya. Sekarang rumah lagi ramai. Tidak mungkin ia harus mempertemukan kakek Candika dengan ibu setelah perbincangan semalam.


Gadis ini langsung mencari Bi Sarah.


"Bi, aku mau bicara," kata Lisa langsung menyeret bibinya ke tempat yang sepi.


"Lagi cosplay jadi penculik ya Lis?" ledek Giri.


"Tutup mulutmu," hardik Lisa. Giri terkekeh.


"Ada apa? Kok kelihatannya gawat," tanya bi Sandra heran.


"Wow, itu hebat."


"Tidak. Itu menakutkan."


"Eh, ternyata begitu ya ... "


"Semalam hape ku drop baterainya, jadi enggak bisa nyala. Bahkan saat di cas pun enggak bisa. Tahu-tahunya tadi pagi bisa. Dan itu pas saat kakek Aksa telepon. Bahkan belum selesai bicara, hape mati." Lisa menjeda kalimatnya. "Melihat riwayat panggilan, ada banyak telepon tidak terjawab dari Aksa. Aku yakin dia akan mencariku bahkan ke rumah ini. Tolong jangan bilang aku bersama kakek."


"Kalau ternyata kamu di temukan Aksa?" tanya bi Sarah. Lisa diam. Dia menghela napas.


"Tidak masalah jika di temukan. Karena mungkin saja aku butuh bantuan dia, tapi sebelumnya lebih baik aku mengikuti kata kakek dulu. Sepertinya beliau ingin bicara hal yang penting. Karena kalau ada Aksa mungkin kakek tidak bisa bicara bebas. Pria itu kan mulai seenaknya sendiri memotong pembicaraan saat menurutnya aku tidak aman. Bahkan melarangku bicara."


Giri yang entah kenapa tidak pergi dari sana menghela napas.


"Dilema orang miskin di cintai pria kaya ini seperti ini," gumam Giri pada dirinya sendiri. Lisa menoleh sekilas karena merasa ada yang menyentil telinganya. Giri buru-buru kabur.


"Aksa memang terlihat berapi-api jika itu urusannya denganmu. Dia pria hot pokoknya." Bi Sarah gemas.

__ADS_1


"Kata hot ini bukan tanda kutip kan?" tanya Lisa menatap bibinya lurus-lurus.


"Hei ... kenapa kalau memang tanda kutip?" Bi Sandra mencolek tangan keponakannya sambil mengerlingkan matanya. "Sepertinya bibi harus menikah lagi deh."


"Enggak. Kamu yang harus menikah karena sudah punya calon yang hampir saja sempurna."


"Aksa hampir sempurna?" tanya Lisa heran.


"Iya. Kenapa? Tidak suka? Maunya bibi bilang dia sempurna begitu?" cibir Bi Sarah.


"Kalau kategori pasanganku dia sangat sempurna, Bi," kata Lisa.


"Ya, tapi tetap saja kan namanya manusia ada titik lemahnya."


"Emangnya Aksa punya titik lemah?" Lisa penasaran.


"Bukannya titik lemahnya adalah kamu. Dia bahkan bisa cari gadis lain yang lebih cantik dan kaya. Namun dia bertekuk lutut di depanmu."


Blush! Lisa merona tanpa sadar.


"Berhenti, Bi. Aku malu. Sudah. Aku mau mencegat Kakek di gang depan saja. Biar kakek Aksa enggak datang ke rumah ini. Aku mau bersiap. Terima kasih, Bi." Lisa pun melesat masuk ke dalam rumah.


***


"Tempat memancing?" tanya Lisa saat mereka tiba di area pemancingan.


"Ya. Kakek sangat gemar memancing. Jadi temani kakek memancing," kata kakek Candika.


"Ah, iya Kek." Walaupun tidak suka, Lisa berusaha terlihat senang menemani.


Gadis ini sungguh beruntung. Kakek sempat terkejut melihat Lisa yang berdiri di pinggir jalan. Dengan berbagai alasan yang masuk akal, Lisa berhasil membuat kakek tidak datang ke rumahnya.


Ternyata kakek memang berniat ke tempat pancing ini. Berbeda dari suasana pancing yang biasa ia lihat. Ini sungguh mewah. Ada tenda. Lalu ada meja yang berisi makanan. Mungkin kakek adalah member VIP. Tempatnya pun punya privasi tinggi. Terpisah dari yang lain. Seperti yang ia lihat di depan tadi.


"Ayo, coba ikut memancing. Apa kamu pernah memancing?" tanya Kakek mengeluarkan pancing yang keliatannya mahal dari kotaknya.


"Pernah."


"Hah, pernah? Itu sangat mengejutkan," kata kakek terkejut dan juga takjub. Lisa memang biasa ikut Giri dan Bapak memancing di sungai. Itu di lakukan bukan karena senang, karena iseng aja. Namun akhirnya keterusan karena Bapak jadi sering mengajak dia untuk memancing. Karena rasa hormatnya, Lisa iya saja sampai dia juga jadi terbiasa.


Setelah menyiapkan pancing dan sebagainya, mereka mulai duduk dan menunggu ikan datang menghampiri umpan yang sudah di siapkan.


"Maaf, kakek mau bicara apa?"

__ADS_1


...________...



__ADS_2