Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 88 Rival


__ADS_3

Sungguh mengejutkan Liliana muncul di sekolah. Gadis ini berambisi mendapatkan Arka karena sejak awal sudah tertarik pada cowok itu. Layaknya Yora yang jatuh cinta pada Aksa.


 


"Kenapa kamu muncul di sini, Lili?" desis Arka.


 


"Kamu tidak tahu? Aku sekarang menjadi siswi sekolah ini," kata gadis itu santai. Arka terkejut. Apalagi saat itu Lisa muncul bersama Sera. "Hai." Liliana menyapa lebih dulu. Sengaja ia melakukan itu untuk menunjukkan pada Lisa, kalau dia tidak main-main mendekati Arka.


 


Lisa mengangguk menerima sapaan Liliana. Dia sebenarnya terkejut tapi, berusaha diam. Sera makin mendekat ke Lisa. Dia ingin tahu siapa gadis ini.


 


"Anak baru?" bisik Sera. Lisa tidak menjawab.


 


"Aku tidak tahu soal ini, Lisa." Arka tidak ingin Lisa berpikiran lain. Gadis ini paham. Tidak mungkin Arka sengaja mengajak Liliana pindah sekolah, dimana ada dirinya di sini.


 


"Aku tahu," sahut Lisa menghela napas.


 


"Kamu tahu tujuanku pindah kesini bukan?" tanya Liliana provokatif.


 


"Ya. Tentu saja ingin mengejar Arka yang jadi tunangan mu," kata Lisa yang tetap dengan intonasi yang tenang. Sera mendelik. Jadi gadis ini tunangan Arka?


 


"Baguslah kalau kamu mengerti," ujar Liliana puas.


 


"Apa yang kamu bicarakan Lili? Aku sudah katakan, kalau aku tidak tertarik ke kamu," kata Arka.


 


"Sudah aku katakan juga, kalau aku tidak masalah. Karena kamu pasti denganku. Kamu tidak bisa menolak karena itu sudah keputusan kedua keluarga," jelas Liliana seraya tersenyum.


 


Lisa kian menyadari jurang antara dia dan Arka. Dia sudah mengira hubungannya dengan cowok ini akan musnah. Seiring dengan pemaksaan mama Arka yang menginginkan putranya punya kedudukan yang sama seperti Arka dan Allen dalam keluarga Candika.


 


"Aku rasa kamu tahu tentang sekolah Arka dari orang lain. Bukan dari bibir Arka sendiri," selidik Lisa. Liliana hanya tersenyum. Dia tidak menjawab. "Oke. Aku mengerti. Ayo Sera, kita pergi ke kantin."


 


"Tunggu Lisa," cegah Arka. Lisa berhenti. "Kita ke kantin bareng," kata Arka ingin menjauh dari Liliana. Lisa tidak menjawab, tapi kakinya berhenti menunggu cowok ini.


 


"Aku ikut," kata Liliana sambil tersenyum. Arka sungguh jengkel. Lisa memilih berjalan lebih dulu. Trio berandal yang tahu perdebatan barusan langsung menoleh ke arah lain saat Lisa melihat ke arah mereka.


 


"Aku tahu kalian mendengar semuanya," kata Lisa menunjukkan dia sudah tahu keberadaan mereka bertiga sejak tadi. Ketiga cowok itu garuk-garuk kepala sambil cengengesan. Akhirnya semua menuju ke kantin bersama-sama.


 


...***...


 


Lisa berdiri di tepi jalan sama Sera. Ia enggan menunggu Arka.


 


"Bukannya Arka sudah bilang kalau kamu harus menunggunya, Lis?" tanya Sabo yang mendengar sendiri cowok itu bicara dengan Lisa.


 

__ADS_1


"Aku tahu, tapi aku punya urusan lain. Lagipula Liliana akan muncul mengekorinya," kata Lisa.


 


"Kalian akan putus?" tanya Sabo membuat Sera mendelik. Itu pertanyaan sensitif.


 


"Aku tidak tahu." Lisa tersenyum sambil mengangkat bahu.


 


"Jangan menjawab pertanyaan Sabo, Lisa," sergah Sera yang memberi pelototan lagi pada Sabo.


 


Din! Din!


 


Sebuah mobil membunyikan klakson. Ketiga orang ini menoleh bersamaan ke arah mobil yang mendekati mereka.


 


"Siapa itu?" tanya Sabo sambil berusaha mencari tahu wajah di balik kaca mobil itu. Lisa hanya melirik sebentar. Dia tahu itu Aksa.


 


Mobil itu berhenti tepat di depan Lisa. Sebenarnya Aksa sudah membuka pintu dan hendak menghampirinya, tapi gadis ini memilih membuka pintu sendiri dan masuk. Sera dan Sabo yang tidak diberitahu apa-apa, hanya bisa memperhatikannya.


 


Aksa tersenyum pada mereka berdua sebelum mobil itu melaju pergi.


 


"Lisa marah," kata Sera.


 


"Marah? Kenapa?" tanya Sabo heran. Dari arah belakang mereka, Arka muncul. Juga ada Liliana mengekor di belakangnya.


 


 


"Dia pulang," jawab Sera. Sabo menoleh sebentar ke Sera lalu melihat ke Arka lagi.


 


...***...


 


Mobil Aksa menjauh.


 


"Kamu yang memberitahu Liliana soal aku?" tanya Lisa langsung tanpa menoleh ke Aksa. Pria ini diam. "Hubunganku dengan Arka memang akan berakhir dengan adanya Liliana, tapi itu tidak perlu kamu campuri lagi dengan tanganmu." Saat kalimat terakhir, Lisa menoleh pada Aksa.


 


"Kamu marah karena Liliana muncul sebagai rival kamu di sekolah?" tanya Aksa.


 


"Jadi menurutmu aku tidak marah?" tanya Lisa balik


 


"Tidak. Kamu terlihat sangat marah," kata Aksa polos.


 


"Lalu kenapa kamu masih bertanya?" Nada suara Lisa tinggi. Dia sedang kesal. Dan Lisa kembali ingat dengan tunangan Arka. Lisa gusar. "Kenapa mempersulit ku? Kenapa harus memberitahu soal aku pada Liliana?" tanya Lisa beruntun.


 


"Sepertinya Liliana sudah tahu soal Arka yang punya kekasih. Yang kemungkinan tahu soal kamu. Aku hanya menambahi sedikit," ujar Aksa tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


 


"Kamu sudah membuat semuanya tidak menyenangkan," tuduh Lisa kesal.


 


"Sudah aku katakan, aku tidak peduli soal kamu dan Arka."


 


"Lalu kenapa ikut-ikutan membuat hubunganku dan Arka sulit?" cerca Lisa.


 


Mendengar pertanyaan Lisa, Aksa hanya tersenyum. Senyuman misterius. Lisa mengernyitkan dahinya penasaran. Mobil ini berhenti tepat saat lampu lalu lintas berwarna merah.


 


Sebuah mobil lain baru saja tiba dan berhenti tepat di samping mobil Aksa. Tidak sengaja Lisa menoleh kesamping. Ke arah jendela mobil yang terbuka. Awalnya dia tidak sadar siapa yang berada di sana, tapi saat ia menoleh lagi, bola matanya melebar. Itu Maya dan Yora!


 


Lisa langsung merunduk. Aksa terkejut dan menoleh ke samping. Dia mencoba memperhatikan Lisa yang bertingkah aneh.


 


"Ada apa?" tanya Aksa.


 


"Tutup jendelanya. Tutup," perintah Lisa dengan wajah panik dan tangan bergerak-gerak. Aksa mengerjapkan mata tidak paham. "Tolong tutup jendelanya, Aksa," mohon Lisa dengan setengah menggeram.


 


Akhirnya Aksa setuju untuk mengikuti perintah Lisa. Namun saat dia mencoba memperhatikan jendela seraya menutupnya, saat itu tatapannya bersirobok dengan Yora.


 


Yora.


 


Dengan gerak cepat dia langsung menekan tombol untuk menaikkan kaca mobil. Sesaat Aksa sadar bahwa gadis itu sedang memandangnya.


 


"Dia Aksa, kan Maya?" tanya Yora. Maya yang berada di bangku pengemudi menoleh. Namun jendela sudah di tutup. Jadi Maya tidak bisa melihat siapa di dalam mobil itu karena kacanya gelap.


 


"Aku tidak bisa melihat. Apa kamu melihat wajahnya?"


 


"Ya. Aku rasa dia Aksa, sepertinya ada seseorang bersamanya," kata Yora tampak sedih.


 


"Benarkah?" Maya mencoba melihat lagi ke mobil sebelah. Lampu lalu lintas berubah hijau. "Oh, lampu sudah hijau." Maya menjalankan mobil. Namun mobil di samping mereka yang di duga milik Aksa sudah melesat duluan.


 


"Saat aku koma, apa Aksa tetap suka bermain wanita?" tanya Yora.


 


"Hmmm aku rasa tidak bisa menjawab Yora."


 


"Katakan saja. Aku tahu dia itu suka sekali bermain dengan banyak wanita dewasa lainnya."


 


"Itu ... Saat pesta pertunangan mu yang di gantikan Lisa, wanita yang jadi kekasih Aksa memang datang. Namun belakangan ini Aksa jarang sekali bertemu dengan Tiara," jelas Maya.


 


"Jadi, pria ini tetap seperti itu ya?" tanya Yora. Maya mengangguk.

__ADS_1


...____...



__ADS_2