Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 80 Penolakan Arka


__ADS_3


"Ada apa, Ma? Kenapa mendadak ada pembicaraan soal perjodohan ku?" tanya Arka saat ia meminta bicara berdua dengan Anggita. Karena berada di dalam kamar putranya, Anggita tidak meminta Arka untuk menurunkan suara.


 


"Ini bukan suatu masalah aRka. Kamu pasti sadar bahwa suatu saat nanti pasti akan di lakukan. Akan terjadi sama kamu juga. Aksa juga begitu. Dia mendapat istri dari sebuah perjodohan. Kamu tahu itu, bukan?" Anggita berusaha menenangkan. Berusaha memberi gambaran pada Arka kalau perjodohan dalam lingkungan ini adalah suatu hal yang normal. Bahkan suatu tradisi.


 


"Aku tidak mau,” tolak Arka.


 


"Sstt ... Jangan bicara seperti itu. Kamu tidak boleh menolak. Tidak boleh,” kata Anggita menggerakkan jarinya pada bibir. Kepalanya juga menggeleng.


 


“Lagipula aku masih sekolah. Terlalu jauh dari kata perjodohan yang akan berujung dengan pernikahan," bantah Arka.


 


“Tidak. Papa akan memberimu posisi setelah lulus sekolah nanti. Jadi kamu tenang saja. Mama akan mengatur semuanya agar posisi kamu bisa juga kuat dalam keluarga ini." Anggita mengelus pundak putranya pelan.


 


"Aku tidak butuh itu, Ma," tolak Arka.


 


"Jangan berlagak, putraku. Kita ini bukan bagian dari keluarga Candika sesungguhnya. Kita tidak bisa bertahan dan bebas bergerak jika tidak punya posisi. Dengan mengikuti perjodohan yang di atur papamu, kita bisa bertahan dalam keluarga ini. Jadi ikuti saja perjodohan ini," ujar Anggita serius.


 


Arka terdiam. Apa yang dikatakan mamanya benar walaupun dia tidak suka.


 


"Mama lakukan ini bukan hanya demi mama, tapi juga demi kamu. Di masa mendatang kamu akan menjadi orang penting, Arka. Kamu tidak perlu lagi bersusah payah mencapai atas. Dengan mengikuti perjodohan ini kamu akan menjadi kalangan atas dengan sendirinya. Itu akan membuat hidupmu mudah." Anggita mengelus pelan lengan putranya. Lalu berjalan menuju pintu keluar.


 


"Oh, ya. Dalam waktu dekat kalian akan di pertemukan. Kamu dan putri pengusaha itu. Jadi bersiaplah. Sekarang cepat berangkat sekolah," kata Mama saat berada di ambang pintu. Lalu pergi menjauh dari sana setelah mengatakan itu.


 


Sial! Sial! Sial!


 


Arka mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Berdecih berulang kali memikirkan soal perjodohan itu. Sekarang ia teringat dengan Lisa. Hubungannya dengan gadis yang di sayanginya itu.


 


***


 


"Kenapa murung saja, Ka?" tanya Lisa saat dia di jemput Arka pagi ini. Sejak cowok ini muncul di depan rumah untuk menjemputnya ke sekolah, bahkan saat sudah sampai di halaman sekolah pun, cowok ini berwajah murung.


 


"Enggak. Lagi capek aja."


 


"Bukan soal pelajaran di kelas, bukan? Itu tidak mungkin. Karena kamu cowok pintar, jadi enggak pusing soal begituan. Beda dengan aku. Jadi aku rasa pasti ada hal lain. Apa ada yang tidak menyenangkan di rumah?" tebak Lisa.

__ADS_1


 


Arka menatap Lisa agak lama. Ini sempat membuat gadis ini salah tingkah.


 


"Jangan liatin aku begitu dong. Jadi salah tingkah nih ...," protes Lisa jujur membuat Arka tergelak. Dia sadar hampir saja membuat mulutnya mengatakan semuanya pada Lisa.


 


"Jadi kamu bisa salah tingkah juga? Aku pikir kamu bakal cuek bebek seperti saat masih sering nongkrong sama anak-anak itu."


 


"Itu kan sama anak-anak, Ka. Ya bedalah kalau diliatinnya sama kamu," ujar Lisa. Arka tergelak lagi.


 


"Benar juga."


 


"Garing ah, bercandanya.” Lisa mendorong lengan Arka pelan. “Entah ada apa itu, aku harap kamu bisa atasi biar cepat selesai jadi kamu enggak murung lagi," harap Lisa. Arka hanya tersenyum saja.


 


**


 


Melihat Lisa yang datang bersama Arka, Sera langsung melesat ke arah mereka.


 


"Arka, aku pinjam Lisa dulu." Sera menculik Lisa dan mengajaknya jalan lebih dulu menuju ke kelas. Lisa Sebenarnya protes, tapi gadis itu sudah tidak peduli. Sepertinya ada hal penting yang perlu di sampaikan. Setelah sampai di kelas, Sera langsung menginterogasi Lisa. "Katakan ada apa kamu dengan Noah?"


 


 


"Dia menanyakan tentang kamu. Banyak hal yang di tanyakan sampai aku merasa curiga. Ada apa Noah dengan Lisa?"


 


Lisa diam. Dia sedang berpikir. Apa Noah cerita soal aku yang menjadi tunangan Aksa? Apa dia ...


 


"Kamu mau mencoba mengelak ya? Jangan coba-coba. Aku akan bilang pada Arka," ancam Sera.


 


"Kenapa bilang Arka? Emangnya kenapa?" Lisa bertanya dengan santai. Karena Arka sudah tahu semuanya.


 


"Lihat caramu bicara, kamu pasti punya kartu as untuk mengatasi semua." Sera jadi tidak bersemangat mengancam.


 


"Arka tahu semuanya," kata Lisa santai. Alisnya naik karena yakin.


 


"Jadi ... Kamu beneran dekat sama Noah? Kamu mencoba mendua nih?" tanya Sera tidak percaya.


 

__ADS_1


"Ha? Mendua? Aku sama Noah? Yang benar saja," bantah Lisa. "Jangan macam-macam deh."


 


"Lalu apa?" tanya Sera yang kini merasa mendapatkan sesuatu yang bisa membuat Lisa terpaksa bicara.


 


"Kamu ini ..." Lisa pun membuka semuanya. Agar Sera tidak salah sangka dengan dia dan Noah. Dia tidak ingin Arka berpikir macam-macam jika nanti Sera keceplosan bicara soal Noah yang mencari tahu tentang dia.


 


Banyak ekspresi yang di tunjukkan Sera terkait penyamaran Lisa menjadi tunangan palsu Arka. Siapa saja merasa itu sangat nekat.


 


"Arka cowok yang berhati lapang kalau begitu. Membiarkan kamu berdua saja dengan kakaknya yang sangat tampan." Sera tahu dengan Aksa. Makanya bisa bicara seperti itu.


 


Ting!


 


Ponsel Lisa berbunyi. Ada pesan masuk. Lisa menipiskan bibir. Itu Aksa.


 


"Itu Aksa?" tebak Sera.


 


"Biang onar," cibir Lisa.


 


***


 


Waktu pertemuan Arka dengan calon tunangan sudah tiba. Nanti malam mereka akan di pertemukan pada makan malam. Anggita menyiapkan baju apa yang akan dipakai Arka untuk ngedate nanti malam.


 


Ini berkebalikan dengan Arka yang melipat tangan sambil bersandar di dekat pintu. Dia membiarkan mamanya sibuk sendiri. Karena enggan, dia tidak berpikir harus memakai apa dan bagaimana nanti. Cowok ini tidak peduli.


 


"Mama rasa baju ini akan cocok di pakai kamu nanti." Anggita menunjukkan pakaian pada Arka. Bibirnya tersenyum bahagia. Seperti ibu yang akan mengantarkan anaknya berangkat ke sekolah untuk pertama kalinya. "Gimana?" tanya Anggita.


 


Cowok ini mendengus kesal. "Jangan melakukan hal sia-sia. Aku tidak akan datang ke tempat kencan nanti, Ma."


 


Anggita menghela napas. Meletakkan baju yang dipegangnya di atas tempat tidur. "Mungkin karena kamu masih muda. Jadi kamu masih belum paham tentang hal ini. Perjodohan bisa menguntungkan jika kita memanfaatkan dengan benar. Mama harap kamu bisa mengerti, Arka," pinta mamanya dengan menatap dalam ke arahnya.


 


Semua permintaan mamanya seakan menjadi beban baginya.


 


"Aku harap bisa mengikuti keinginan mama," ujar Arka lalu keluar dari kamar. Anggita melempar baju di atas ranjang, lalu mencoba mengikuti putranya.


.

__ADS_1


"Arka! Arka!" Bocah itu langsung menaiki motornya dan melesat keluar. Anggita menghela napas dengan cemas.


_______


__ADS_2