
“Lihat aku.”
Karena rasa terkejut yang masih bertandang dalam dirinya, Lisa bagaikan sebuah robot yang mengikuti arahan penciptanya. Saat Aksa menggerakkan dagunya, dia hanya mengikuti tanpa protes. Sorot mata gadis ini seperti kosong. Tampaknya, jiwanya melayang-layang entah kemana karena sangat terkejut.
Setelah berhasil menggerakkan dagu Lisa, manik mata mereka saling berpandangan. Saat itulah Lisa mulai tersadar. Gadis itu mendorong Aksa yang mendekatinya dan langsung berdiri.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lisa dengan wajah terkejut. Aksa mengerjapkan mata. Dia terkejut juga dengan respon Lisa. Pria ini pun ikut berdiri. Ia mendekati Lisa. “Apa yang barusan kamu lakukan, Aksa?!” teriak Lisa panik.
Tidak di sangka-sangka, Lisa meninju perut dan membogem wajah Aksa. Membuat pria itu terpelanting mundur hingga jatuh ke lantai. Beberapa detik, Aksa tertegun. Pria ini tidak menduga mendapat sambutan seperti itu.
“Ougghh ...” Aksa merintih kesakitan pada perutnya. Wajahnya juga terasa perih.
“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Lisa masih di liputi antara rasa panik dan terkejut. Sementara itu Aksa mencoba duduk dan bersandar pada sofa. Ia terengah-engah. Sejurus kemudian pria ini tergelak. Tertawa terbahak-bahak sendiri. “Kenapa kamu tertawa, hah?!” teriak Lisa tidak terima.
__ADS_1
Aksa makin terbahak-bahak. Lisa mengusap wajahnya berkali-kali. Ia sangat terkejut.
“Aku tadi hanya ...”
“Stop!” Tangan Lisa ke depan. Meminta Aksa tidak meneruskan kalimatnya. Padahal dia sendiri yang meminta Aksa menjawab pertanyaannya. Gambaran jelas bibir pria ini yang menempel lembut pada bibirnya mulai terlihat. Ia ingat momen itu. Meski sebentar, itu sangat membuatnya terguncang.
“Itu tadi hanya sebuah kec ...”
“Tidak!!” Lisa menutup kupingnya. Gadis itu berdiri makin merapat ke dinding di sudut. Aksa menghela napas. Rasa perih dan sakit masih bisa di rasakannya, tapi ia abaikan karena ingin menenangkan Lisa.
Dengan rasa sakit yang ngilu akibat tonjokan Lisa, Aksa tetap melangkah maju. Mencoba mendekat ke tempat Lisa berdiri. Gadis yang tengah menutup matanya itu tidak tahu kalau Aksa sudah berada di dekatnya. Saat tangan Aksa berhasil menyentuh tangan Lisa, tubuh itu berjingkat kaget.
“Jangan mendekat, Aksa. Menjauhlah! Aku bisa meninju mu sekali lagi!” pinta Lisa masih dengan mata tertutup. Akhirnya Aksa bisa menghampiri gadis itu. Tangan Aksa menyentuh lengan Lisa. Merasa Aksa sangat dekat dengannya, ia langsung melepas tangan yang tadi menutup telinganya. Kemudian Lisa memilih menutup bibirnya dengan cepat. Dia tidak ingin kecolongan lagi.
__ADS_1
“Maaf.”
Mendengar permintaan maaf itu, Lisa perlahan tidak berontak lagi. Ia membuka mata lambat-lambat.
“Jadi tadi mengagetkan kamu ya?” tanya Aksa lembut. Dia harus berhati-hati. Kali ini yang ia hadapi bukan perempuan seperti Tia. Gadis ini memang masih bocah. Lisa menyoroti Aksa dengan tajam. Namun tangannya masih menutupi bibirnya. “Maaf. Kamu bisa duduk di sofa dengan tenang sekarang.”
Kepala Lisa menggeleng kuat. "Tidak." Lisa membuka mulutnya sebentar untuk menolak Aksa, tapi kemudian menutup bibirnya lagi. Dia tidak mau di tipu. Aksa tergelak yang bercampur dengan meringis kesakitan. Melihat tawa itu Lisa membuka tangannya yang menutup bibirnya. Lalu mendorong tubuh Aksa dan berjalan menjauh.
“Tunggu, Lis.” Aksa ingin meraih tangan Lisa untuk mencegahnya pergi. Namun karena ia juga masih harus menahan rasa sakit akibat serangan Lisa tadi, Aksa gagal mencegah Lisa pergi. Aksa bergegas mengikuti gadis itu. Namun Lisa sudah berhasil membuka pintu dan keluar. Brak! Lisa membanting pintu dengan keras.
Aksa ikut membuka pintu dan ... Bruk! Seseorang menabrak dadanya.
"Lisa?" ujar Aksa terkejut melihat gadis itu muncul lagi di depannya. Karena terburu-buru, Lisa menabrak dada bidang Aksa yang ingin menyusul dirinya keluar.
__ADS_1
..._____...