
Beberapa menit sebelum Aksa muncul.
Aksa masih ingat dengan jelas, teman Arka memanggil nama Lisa tadi. Jika cowok itu tahu nama Lisa bahkan saat gadis itu berusaha menghindar, kemungkinan mereka mengenal dengan baik.
"Apa cowok itu memang teman Lisa? Kalau begitu, Arka dan Lisa juga saling kenal sebelum menjadi Yora."
Aksa menimang-nimang dugaannya. Merangkai setiap kepingan puzzle dari informasi yang di tangkap oleh mata, telinga dan jiwa detektifnya.
"Kemungkinan besar, mereka semua satu circle pertemanan. Lisa dan Arka satu sekolah."
Aksa merangkai semuanya dan membuat kesimpulan.
"Selain Arka dan Lisa adalah satu sekolah dan satu pertemanan, ada kemungkinan Arka tahu soal Lisa yang menyamar menjadi Yora. Karena sejak awal bertemu, mereka berpura-pura tidak saling kenal. Dugaan terbesar adalah ... Arka memanfaatkan situasi pertunangan ini untuk menghancurkan aku."
Jari-jari Aksa mengetuk mejanya. Sejak dia melihat Lisa kabur dari pertanyaannya soal anak-anak SMA itu, dia tidak lagi bertemu dengannya. Gadis itu pasti sengaja bersembunyi di kamar Allen. Guna menghindari pertanyaan-pertanyaan darinya.
"Aku lapar. Berpikir soal ini membuatku lapar." Aksa keluar dari kamar, berniat ke dapur. Saat itulah ia mendengar suara seseorang di bawah. Tepatnya di dapur lantai satu.
Aksa melongok dari balkon untuk melihat siapa di sana. Ternyata itu Lisa. Pria ini sudah mau mendekati gadis itu saat muncul Arka yang juga ke dapur.
Dugaan mereka saling kenal makin kental saat Arka mendekat ke Lisa. Bicara dengan santai dan di respon oleh gadis itu. Aksa memang sengaja menguping untuk mendapatkan informasi yang akan membawanya ke sebuah fakta. Ia ingin fakta itu membenarkan dugaannya.
Namun Aksa cukup terkejut saat namanya disebut dan mendengar percakapan yang sungguh di luar dugaannya.
Lisa dan Arka itu sepasang kekasih?
__ADS_1
Fakta ini sungguh jauh dari dugaan-dugaannya.
Ia ingin segera menangkap basah mereka berdua, tapi entah kenapa kaki Aksa urung melakukannya. Hingga ia menyaksikan gadis itu mengecup pipi adik tirinya. Aksa mendengus melihat itu. Menganggap mereka konyol.
"Jadi karena itu, Arka menatapku tajam ...," gumam Aksa. "Dia tidak mau Lisa dekat denganku."
Setelah semua sudah di lihat dengan menyeluruh oleh Aksa, Lisa pun pergi dari dapur. Kakinya pun otomatis melangkah ingin segera melangkah turun.
"Ternyata dia kekasihmu, ya?" tanya Aksa. “Gadis itu,” tunjuk Aksa sambil ke Lisa yang kabur barusan dengan tetap melihat ke arah Arka.
Bola mata cowok ini menatap lurus ke Aksa. Di tatap seperti itu, Aksa tidak marah. Meskipun ada banyak hal yang sungguh di luar dugaannya, Aksa masih bisa bersikap tenang.
"Ya. Dia memang kekasihku." Arka mengaku dengan tegas. Dia pantang membohongi status Lisa.
"Jadi hubungan kalian bukan hanya adik dan kakak ipar ya?" kata Aksa seraya menuruni tangga. Berjalan untuk lebih dekat dengan Arka. Kalimatnya berisi cibiran pada situasi mereka berdua. Di mata orang lain, Lisa dan Arka adalah saudara ipar.
"Tidak perlu berbasa-basi. Kakak tahu siapa dia bukan? Dia bukan Yora," kata Arka dengan volume yang cukup bisa di pastikan bisa di dengar Aksa dan aman.
“Aku tidak menyangka ternyata ada hubungan romansa di antara kalian.” Real dengan mengejek. Arka melihat ke arah kakaknya.
"Kenapa? Itu aneh?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya bicara. Kalian sama-sama masih bocah. Jadi aku rasa cocok sekali. Cinta monyet," ejek Real.
"Itu tidak masalah. Namun aku hanya mencintai satu gadis. Tidak seperti kakakku ini yang berkali-kali ganti pasangan," balas Arka mengejek Aksa. "Itu tidak bisa di sebut dengan cinta. Hanya permainan saja. Jadi di sini yang mengerti cinta adalah yang mampu bertahan dengan satu hati saja. Bukankah begitu?" tantang Arka.
__ADS_1
Sialan bocah ini!
"Terserah. Kenyataannya dia adalah tunanganku." Aksa merasa menang. Dia ingin membuat adik tirinya merasa down.
"Tetap saja dia Yora palsu. Yoralah yang kak Aksa miliki, bukan Lisa." Arka benar. Yang menjadi tunangannya adalah Yora. Lisa hanya pemeran pengganti.
Kurang ajar. Aksa menggeram di dalam hati. "Kenapa kamu sengaja membuka semua kebohongan Lisa di depanku?”
"Tidak ada. Aku hanya ingin Lisa bisa hidup tenang daripada harus menjadi orang lain," sahut Arka.
Kepala Aksa mengangguk. "Tapi, aku bisa saja langsung menggugat ini semua sebagai penipuan. Dengan begitu, gadis itu akan celaka,” ancam Aksa.
"Kakak tidak akan melakukannya," kata Arka yakin.
"Kenapa kamu yakin sekali?" tanya Aksa menyipitkan matanya ingin tahu. Ia sampai tidak percaya bahwa Arka lebih yakin dari dirinya sendiri.
"Karena kak Aska juga ingin tahu alasan keluarga Yora di balik peran Lisa sebagai pengganti, bukan? Kakak belum tahu itu. Jadi kakak pasti masih butuh Lisa sebagai media informasi soal keberadaan Yora juga,” ujar Arka yang sepertinya tepat.
"Kamu sudah mengamati semua rupanya." Aksa sempat takjub juga. Dia sempat ingin memuji tadi, tapi urung.
"Maka dari itu, jangan menyentuh Lisa seenaknya. Kakak bisa menggunakan Lisa sebagai media informasi soal Yora, tapi bukan sebagai pasangan. Hanya sebagai rekan.”
“Kamu mengancamku, bocah?” tanya Aksa merasa terintimidasi.
“Entahlah."
__ADS_1
_______