Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 19 Tidak sengaja bertemu


__ADS_3

Sejak menandatangani perjanjian dengan nyonya Anne, Lisa berhenti bekerja sampingan. Karena Nyonya Anne bisa saja memanggilnya sewaktu-waktu. Dan itu membutuhkan banyak waktu luang.


Soal uang saku juga rekening Lisa bertambah dengan sendirinya saat mengikuti perintah Nyonya Anne. Rekening yang di buat khusus untuk perjanjian ini. Dan dia juga bisa tenang soal pembayaran rumah sakit Ayahnya.


Karena dia menyetujui perjanjian dengan Nyonya Anne, otomatis uang yang di bayarkan untuk biaya pengobatan Ayah Lisa akan hangus. Semua di anggap sudah terbayar. Keluarga Lisa di bebaskan atas pembayaran tersebut. Tapi tentang ini masih belum di ketahui oleh keluarga Lisa. Dia belum bisa mengatakannya. Belum waktunya.


Sepulang sore ini Sera, mengajak Lisa untuk berbelanja di Mall. Lisa menyetujuinya karena dia juga ingin membeli sesuatu di sana.


Jalan-jalan sore hari itu menyenangkan. Suasana yang sudah tidak lagi terik membuat kita tidak malas untuk keluar rumah. Awalnya Lisa santai saja saat berjalan masuk ke gedung Mall, tapi tidak berapa lama, kedamaiannya berubah saat kedua mata Lisa terbelalak melihat seorang lelaki.


Lelaki itu mengenakan setelan jas hitam mahal yang sangat pas di tubuhnya. Berjalan di temani beberapa orang dengan setelan jas juga. Mungkin mereka sekretaris dan bawahan lainnya.


Berjalan sambil memperhatikan sekeliling dengan tatapan matanya yang tajam. Semua karyawan yang menjaga counter pakaian itu saling memandang takjub ke arah lelaki itu.


Ya, dia adalah Aksa Candika. Dia memang tinggi, tegap, dan tampan. Tipe idaman semua wanita. Mungkinkah Aksa adalah CEO mall besar ini? Lisa tidak paham. Yang dia paham adalah dia harus bersembunyi dari laki-laki itu. Dia harus menghindar dari orang itu. Dia tidak boleh ketahuan. Bisa gawat kalau identitasnya terkuak.


Sera juga tampak sibuk memandang takjub ke arah lelaki itu. Begitu pula orang-orang yang berbelanja dan tak sengaja melihat ke arahnya. Mereka takjub akan visual menawan dari seorang Aksa.


"Sa, lelaki itu tampan sekali," desis Sera kagum. Lisa mengangguk saja tanpa melihat. Dia sibuk bersembunyi. Dengan tangan sedikit menutupi wajahnya, Lisa berharap Aksa akan segera berlalu saat melewatinya.


Ternyata tidak, justru mereka berhenti di sana, di dekat Lisa dan Sera berdiri. Mereka berhenti tepat di belakang Lisa. Dengan rasa tegang, Lisa berdiri membelakangi mereka. Sementara itu Aksa dan pegawainya masih ada di sana sedang berdiskusi.

__ADS_1


Ponsel lelaki itu berdering,


"Halo Marissa, kamu sedang berada di sini? Dimana kamu? Di depanku?" Kedua mata Aksa mencoba mencari sosok perempuan yang sedang meneleponnya itu.


Lisa terkejut mendapati Aksa melihat ke arahnya. Lisa jadi parno. Dengan cepat dia langsung masuk ke dalam counter salah satu pakaian wanita. Mencoba menutupi dirinya di balik baju-baju yang di gantung di tempatnya. Dan berbaur dengan para pengunjung counter.


"Kalian lanjutkan, aku ada perlu. Kau tangani dulu," kata Aksa menyuruh sekretarisnya menggantikannya. Pria itu mengangguk paham. Dan gadis itu terkejut saat Aksa justru melangkah masuk ke dalam counter dimana dia bersembunyi.


Gawattt!!


"Lis! Lisa!" Sera mulai sadar temannya sedang tidak berada di sebelahnya. Dan Lisa masih saja sibuk bersembunyi. Sera melihat gadis itu di balik baju-baju pajangan. Sera ikut masuk ke dalam counter.


"I-iya," jawab Lisa gugup.


"Kenapa jadi gagap sih? Kamu seperti sedang bersembunyi?" Sera mengucapkannya dengan agak keras membuat Lisa semakin panik. Aksa yang sedang mencari seseorang di sana terusik dengan tingkah pembeli yang berputar-putar di sekitar baju itu. Melihat sekilas dan mengatakan sesuatu ke salah satu pegawainya.


Seorang pramuniaga mendekati mereka berdua dengan maksud ingin bertanya. Menanyakan kebutuhannya dan akan melayaninya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pramuniaga kepada Sera.


"Tidak. Anu ... Saya sedang mencari teman saya," jawab Sera malu. Karena dia ke sini sebenarnya karena Lisa. Bukan sengaja mau membeli sesuatu.

__ADS_1


Lalu Sera menghampiri gadis itu karena tiba-tiba menghilang dari sampingnya yang sedang mengagumi visual lelaki tampan itu. Sementara itu Lisa sedang berusaha menghindari lelaki tampan berjas rapi yang bingung mencari seseorang.


Lisa memainkan jarinya dengan dramatis untuk memanggil Sera. Raut wajahnya di tekuk untuk menunjukkan ekspresi takut ketahuan. Sera tidak paham ada apa dengan Lisa. Namun akhirnya dia mengikuti langkah kaki Lisa yang bersembunyi di ruang ganti counter kemeja wanita itu.


"Apaan sih, Lis? Kok kayak penjahat. Kayak buronan?" tanya Sera gemes-gemes sebel.


"Ada mantan," kilah Lisa asal.


Mantan? Terasa geli menyebut kata itu. Lisa itu bukan masih polos. Hanya saja dia masih ragu untuk mengenal cinta. Enggak banget kan ... Zaman gini enggak kenal cinta? Sok polos nih.


Bukannya Lisa tidak pernah jatuh cinta. Pernah. Hanya saja dia tidak terlalu antusias soal itu. Menurutnya, dia tidak punya sesuatu yang bisa bikin cowok suka ke dia. Apalagi gaya serampangannya yang menonjol. Jadi saat ada orang yang bilang suka ke dia malah dia nasehati.


"Jangan suka ke aku deh. Soalnya aku orangnya enggak asik. Nanti kamu gak nyaman," ucapnya sambil tersenyum. Begitulah Lisa. Jadi kalau bilang soal mantan itu sebenarnya tidak mungkin. Tidak ada. Tidak pernah ada.


"Yang mana mantanmu? Jadi penasaran." Sera justru bersemangat saat Lisa bahas mantan. Padahal Lisa ngaco saja ngomong tadi.


Lisa melihat lelaki itu mendekati ruang ganti. Srek! Lisa langsung segera menutup pintu kamar pas. Sera terbengong-bengong dengan sikap temannya itu. Dan lagi Lisa menutup pintu dengan cara seperti itu membuat Sera seperti terabaikan.


_____


TUNANGAN PALSU

__ADS_1


__ADS_2