
Jika siang ini Lisa berada di rumah dengan keadaan sakit karena kegalauan yang di sebabkan oleh Aksa, pria ini justru sedang berada di sebuah outlet makanan. Dia makan siang bersama Noah. Sambil meneruskan perbincangan tadi pagi yang tertunda.
"Aku pikir kamu akan makan siang dengan Tiara," kata Noah sebelum menyeruput minuman di tangannya.
"Tidak," jawab Aksa singkat. Noah mendongak. Menatap Aksa yang duduk di depannya dengan heran.
"Kenapa dia marah-marah tadi? Kalian bertengkar?"
Aksa tidak menjawab. Di hanya tergelak ringan. Noah heran dengan tingkah sepupunya.
"Tidak,” sahut Aksa akhirnya.
"Namun tidak mungkin yang tadi itu di sebut bercanda, kan? Tiara benar-benar marah tadi," kata Noah.
"Ya. Dia memang marah."
"Kenapa? Bukannya dia milikmu yang spesial. Kenapa membuatnya marah?" Noah sangat tahu bahwa Tiara lebih istimewa di banding perempuan-perempuan lainnya. Jika yang lain hanya sebagai cerita sekilas, Tiara termasuk yang cerita dengan episode paling lama.
"Spesial ya ... Mungkin aku sedang bosan. Atau lelah,” jawab Aksa dengan santainya.
"Bosan? Dengan Tiara?" Noah tergelak. "Oke. Mungkin kamu memang sudah bosan. Aku suka itu," kata Noah membuat Aksa menoleh dengan heran. "Lanjutkan soal ceritamu yang belum selesai tadi.”
"Ya. Aku juga tidak sabar mengatakan padamu. Ini soal Yora."
"Yora? Lagi?" Noah tampak mengerutkan kening. Seakan dia tidak setuju jika Aksa membicarakan gadis itu. Apalagi soal pembahasan Yora adalah orang lain.
"Kamu tidak akan percaya kalau Yora yang kita temui adalah orang lain."
"Berhenti bicara soal itu, Aksa. Aku tidak akan percaya." Noah tetap pada pendiriannya.
"Aku serius, Noah. Bahkan aku menangkap basah gadis itu. Yora sekarang bukanlah gadis yang ada di dalam hatimu. Dia palsu."
"Jika palsu, dimana Yora yang asli? Katakan," desak Noah.
"Aku belum tahu soal itu. Namun mungkin ke depannya aku akan menemukannya. Jadi aku mohon bantuanmu."
"Ini tidak bisa di percaya Aksa. Bahkan nyonya Anne sendiri yang membawanya ke rumahmu. Aku dengar beliau sendiri yang mengadakan pesta kesembuhan untuk Yora. Apa kamu pikir itu palsu?" tanya Noah.
"Itulah yang masih menjadi teka-teki. Aku juga tidak menyangka bahwa gadis yang di jodohkan denganku itu bukanlah Nayora Wijaya sebenarnya. Apa kamu tidak merasakan keanehan gadis itu setelah koma?"
"Walaupun aku mengakui bahwa gadis itu sedikit berbeda, tapi jika menuduh dia palsu, itu terasa aneh Aksa."
__ADS_1
"Cukup kamu mau mendengarkan aku, akan aku buktikan bahwa dia bukanlah Yora yang kamu cintai." Aksa mengatakannya dengan yakin. Hingga Noah sempat tergerak untuk percaya. "Aku mengatakannya padamu karena kamu perlu tahu. Bukannya dia itu gadis pujaanmu."
"Karena kamu tahu aku mencintai Yora, bukannya lebih baik kamu lepaskan dia dan dukung aku menjadi kekasihnya." Noah mengatakan ini bermaksud mencibir. Dia tahu itu tidak mungkin.
"Itu berarti kamu menyuruhku perang dengan kakek, Noah."
"Benar," tandas Noah membuat Aksa tergelak ringan.
***
"Nyonya Anne sedang keluar," kata Maya yang menemui Lisa saat berkunjung ke rumah keluarga Wijaya.
"Hmm ... kalau begitu, mungkin aku bisa meneleponnya."
"Jangan," cegah Mata saat Lisa mengeluarkan ponselnya.
"Kenapa?"
"Nyonya sedang mengunjungi Yora di rumah sakit."
"Gadis itu sudah siuman?" tanya Lisa berharap.
"Sebenarnya kenapa gadis itu bisa koma?" tanya Lisa yang akhirnya mempertanyakan juga sebab gadis itu terbaring lama di rumah sakit. Maya hanya tersenyum tipis. Tidak ada jawaban. Itu rahasia.
"Lalu apa yang sebenarnya mau kamu bicarakan dengan nyonya?"
"Ini soal Aksa."
"Aksa? Ada apa dengannya?"
"Emmm ... Itu. Aksa ... tahu kalau aku bukan Yora," ungkap Lisa membuat manik mata Maya melebar.
"D-dia tahu?" Maya ingin mendengar lebih jelas.
"Ya." Lisa mengatakannya dengan berat hati.
"Astaga. Apa yang telah terjadi, Lisa? Kenapa dia bisa tahu soal itu? Oh tidak. Nyonya Anne bisa marah."
"Marah?" Lisa terkejut mendengar kata-kata itu.
__ADS_1
"Ya. Sejauh mana dia tahu soal kamu adalah Yora palsu?"
"Sangat jauh. Cincin ini yang membuat dia tahu bahwa aku adalah Lisa."
Gadis ini pun menceritakan bagaimana Aksa bisa menangkap basah dirinya. Semuanya.
"Aku tidak tahu apa yang akan nyonya Anne lakukan padamu. Karena belakangan ini beliau sangat sensitif. Sepertinya sementara waktu kamu diam saja. Kita liat nanti kedepannya. Apa yang akan di lakukan Aksa padamu."
"Jadi aku tetap menjadi Yora sementara dia tahu bahwa aku adalah palsu?" tanya Lisa tidak percaya.
"Anggap saja kamu belum ketahuan. Karena setelah hari itu, tidak ada hal atau berita besar yang mengguncang soal kamu yang menjadi pengganti Yora." Maya belum mendengar sama sekali kegemparan soal Yora palsu. Ia yakin Aksa belum bertindak.
"Namun dia seperti akan mengancam ku, Maya. Dia sudah menandai aku sebagai buronannya."
"Perjanjian yang kamu lakukan dengan nyonya Anne tetaplah perjanjian. Tidak boleh ada yang ingkar. Lakukan sampai tuntas, Lisa."
"Aku bisa, selama Aksa belum tahu."
"Sekarang coba berpikir dengan tenang. Aku tahu ketakutan mu. Namun cobalah tenang. Dia hanya mengancam, tapi tidak benar-benar akan membuatmu menderita. Dia juga belum punya bukti kuat lagi tentang Yora. Karena tidak ada satupun yang tahu soal tempat Yora yang asli di rawat."
***
Lisa berjalan menyusuri trotoar dengan kepala menunduk. Kakinya sesekali menendang kerikil yang ada di hadapannya dengan kesal. Kemudian mendesah lelah.
"Kenapa Aksa perlu repot-repot menguak fakta aku ini palsu? Toh, dia tidak punya perasaan apapun pada Yora. Jadi seharusnya dia bersyukur kalau ternyata tunangan yang tidak diinginkannya adalah palsu. Huh. Dasar rese'." Lisa menendang kerikil dengan kuat.
Tanggg!
Kerikil itu melesak menghantam tong sampah di depannya. Suara nyaring terdengar dari sana. Beberapa orang menoleh karena terkejut dengan suara nyaring itu. Lisa langsung membungkukkan badan meminta maaf sudah membuat orang-orang itu merasa terganggu.
"Jadi seperti ini kelakuanmu di luar saat tidak menjadi Yora?" tegur seseorang membuat Lisa menoleh cepat dan mundur beberapa langkah. Itu Aksa.
"Kamu?"
"Ya. Aku. Kamu ingat?" tanya Aksa dengan raut wajah sombongnya. Lisa menipiskan bibir. Aksa melihat itu. Bola matanya juga menemukan jari manis milik gadis ini yang sedikit memar. Itu adalah perbuatannya. Namun dia berusaha mengabaikan. “Kamu memang masih gadis ingusan ternyata,” seloroh Aksa saat memperhatikan seragam yang dipakai Lisa.
“Masih sekolah bukan berarti bocah,” bela Lisa untuk dirinya sendiri.
“Jadi kamu pikir kamu itu sudah dewasa? Kamu itu masih bocah. Umur mu baru belasan tahun,” ejekan Aksa.
“Umur bukan patokan seseorang itu bisa di sebut dewasa atau tidak."
__ADS_1
“Mulutmu terus saja mengoceh. Kamu tidak sadar posisi, ya. Kamu tidak bisa bicara seenaknya hatimu saat bicara denganku, Lisa. Kamu itu tawananku. Aku bisa memenjarakanmu dengan banyak alasan. Jadi aku pikir kamu harus bijak menggunakan mulutmu saat bicara denganku," kata Aksa dengan wajah penuh intimidasi.
Cih, dia berusaha mengancamku. Lisa. Dengan mudah dia menyebut namaku seperti sudah lama mengenal.