Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 153 Informasi soal Lisa


__ADS_3

"Aku kecewa dia tidak mencoba untuk mencariku setelah kakek mendatanginya. Apa ia masih berpikir ingin memendam semuanya sendirian? Kamu enggak berubah, Lisa," ujar Aksa seraya menggeram kesal.


Namun tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Sial, aku lupa kalau dia suka sekali main basket. Namun aku tidak tahu lapangan mana yang ia pakai. Apa aku tanya saja pada Arka dimana ia biasa main basket?" tanya Aksa pada dirinya sendiri. "Tidak. Sangat memalukan aku kehilangan dia di depan Arka. Aku bisa ditertawakan olehnya. Aku harus mencarinya sendiri di lapangan basket." Aksa beranjak dari sofa.


Aksa yang tadinya putus asa menemukan Lisa, sekarang berjalan dengan semangat penuh karena ia menemukan jalan lain. Yaitu mencari gadis itu di tempat dia biasa main basket. Ini hari libur. Kemungkinan ia keluar bersenang-senang.


Di ruang tamu, ia bertemu Noah.


"Aksa, kamu di sini?" tanya Noah heran.


"Hmmm," sahut Aksa malas.


"Aku pikir kamu pergi dengan kakek. Karena aku lihat Lisa dengan kakek tadi," kata Noah menghentikan langkah Aksa.


"Kakek? Lisa dengan kakek? Kemana?" tanya Aksa beruntun. Ia yang tadinya hendak langsung pergi, kini membalikkan tubuh dan fokus melihat Noah.


"Maaf, aku tidak tahu Aksa. Aku tidak bertanya karena aku hanya pikir pasti kalian sedang tahap pendekatan dengan keluarga besar Candika. Kau membiarkan itu demi kamu," kata Noah.


"Oh tidak, Noah. Ini situasi gawat. Kakek pasti bicara macam-macam dan menyuruh Lisa menjauhiku. Kakek pasti mengancamnya," kata Aksa gelisah. Tangannya mengepal ingin menghancurkan apapun.


"Kenapa?" tanya Noah merasa aneh.


"Karena kakek pernah ke rumah Lisa. Lalu tebak apa yang dikatakan keluarga Lisa pada Kakek? Mereka tidak menginginkan pernikahan antara aku dan Lisa. Itu bencana Noah. Saat kamu dengan mudah mulai di setujui untuk menjadi pendamping Yora, kenapa justru aku dan Lisa yang kesulitan?!"


Brak! Aksa marah. Ia memukul pintu depan dengan keras.


Noah langsung mengerti kemarahan ini.


"Apa yang bisa aku bantu, Aksa?" tanya Noah yang sebenarnya mengerti, jika semua keputusan Kakek adalah mutlak. Jadi tidak ada yang bisa mengubah kecuali kakek sendiri. Namun ia mencoba menenangkan sepupunya.


Arka turun dari lantai atas. Sebenarnya ia mendengar suara-suara orang di bawah. Lalu ia pun turun untuk melihat ada apa itu. Ternyata itu Arka. Ini hari libur. Semua orang ada di rumah karena tidak melakukan rutinitas seperti biasanya.

__ADS_1


"Halo, Kak Noah," sapa Arka.


"Oh, ya Arka," sahut Noah menanggapi setelah itu, ia memberi kode pada Aksa untuk duduk dulu. Ia tidak mau pria ini meluapkan marah dengan membabi buta.


"Jadi ... Kak Aksa tidak bersama Lisa?" tanya Arka yang juga tahu sesuatu.


"Jangan mengejekku Arka. Ini bukan waktunya kamu untuk bicara dengan tenang soal Lisa," ujar Aksa dingin.


"Oh ya? Apa informasi kalau Lisa dan kakek sedang pergi ke tempat pemancingan akan membuatmu tenang?" kata Arka yang langsung di sambut dengan bola mata yang lebar.


"Darimana kamu tahu itu?" tanya Aksa ragu.


"Mama. Aku tahu dari mama kalau kakek datang ke pemancingan dengan gadis yang di cinta Aksa. Bukankah itu Lisa?" ungkap Arka. Dari sini Aksa langsung yakin itu benar.


"Aku harus pergi!" Aksa langsung melesat keluar. Menyalakan mesin mobil dan hilang dari halaman rumah keluarga Candika yang luas.


"Tunggu, Aksa!" teriak Noah seraya mengejar sepupunya. Tentu Aksa tidak mendengar teriakan itu. Ia sudah lenyap dengan mobilnya. Noah berdecih dan kembali masuk. "Arka. Apa yang kamu katakan itu adalah benar? Bisa saja itu salah."


"Mamaku berbohong?" tanya Arka balik.


"Aku tahu Aksa sedang dalam keadaan gelisah. Aku tidak akan sembarangan memberinya informasi. Jadi Kak Noah tenang saja," kata Arka santai.


***


Sebelum Arka memberi informasi pada Aksa.


Sarapan pagi kali ini tidak banyak orang. Entah kenapa sejak pagi tadi banyak orang yang punya jadwal untuk keluar. Adiwangsa joging dengan teman sesama pengusaha. Ayah Aksa itu hanya di temani pengawalnya. Aksa sudah pergi tadi. Sementara mama Arka yang enggak ikut suaminya duduk di kursi makan.


"Allen mana, Ma?" tanya Arka mencari adiknya.


"Ada di belakang. Dia lagi senang berkebun." Mama memberitahu.

__ADS_1


"Aku akan panggil dia untuk sarapan." Arka beranjak dari kursi.


"Hei ... enggak usah. Allen dan kakek sudah sarapan. Kamunya aja yang kesiangan."


"Apa kakek marah saat aku tidak bangun?" tanya Arka cemas.


"Enggak. Mama bilang pada kakek kalau kamu sedang tidak enak badan," jelas mama Arka. "Oh, ya, tadi mama lihat kakek tengah siap-siap keluar. Melihat kotak besar itu, mungkin ke tempat pemancingan. Katanya mau bareng sama gadis yang di sukai Aksa. Kamu tahu kan kalau Aksa itu tidak lagi sama Yora? Playboy itu menggagalkan pertunangannya sendiri. Lucu banget kan ..." Mama tersenyum mencela.


Arka mendengarkan baik-baik kata-kata mamanya. Itu soal Lisa.


"Lucu apanya, Ma?"


"Mama dengar gadis itu bukan dari kelurga yang terpandang atau punya pengaruh. Dia hanya gadis biasa."


"Lalu?"


"Kamu tahu kan bagaimana besarnya pengaruh keluarga Candika ini? Mama rasa Aksa sama saja dengan bunuh diri kalau melepas Yora dan memilih dengan gadis lain. Apalagi gadis yang hanya punya standar biasa. Dari segi materi maupun apapun. Itu akan membuat dirinya tidak di sukai Kakek. Konyol mama rasa." Mama Arka bicara panjang lebar.


"Kenapa konyol, Ma?"


"Tentu saja lucu dan konyol. Sudah tahu kakek pasti tidak akan menyetujui kalau itu adalah gadis yang punya standar di bawah keluarga ini, tetap saja dia ngotot. Kakek pasti akan mempersulitnya Arka. Kecuali gadis dengan level seperti Liliana ..." Perempuan paruh baya ini menyebut calon istri Arka itu dengan bahagia. "Mama sih enggak apa-apa Aksa dengan gadis itu, karena apa ... Pasti dia akan kesulitan nantinya di dalam keluarga ini karena merusak rencana kakek. Itu akan membuatmu tampak menonjol Arka."


"Mungkin mama belum tahu bagaimana sebenarnya gadis ini."


"Apa maksud kamu?"


"Mungkin dia gadis dari keluarga miskin. Namun soal wajah dia punya standar tinggi. Kenapa? Karena dia berwajah mirip dengan nenek. Itu nilai poin yang besar untuk bisa masuk dalam keluarga ini. Karena Kakek pasti akan memberikan dia jatah 'ruang' dalam keluarga ini. Semua tahu bahwa kakek selalu memberi hak istimewa jika itu soal nenek. Lalu ... dia bukan gadis biasa. Gadis itu istimewa. Dia orang yang mandiri dan selalu mengedepankan urusan keluarga daripada dirinya. Dia istimewa, Ma." Arka mengatakan itu dengan menggebu.


"Kenapa kamu paham sekali soal gadis ini?"


"Karena dulu, dia adalah kekasihku," ungkap Arka.

__ADS_1


..._________...



__ADS_2