
“K-kak Noah mendengar kabar tentang aku ... dan Kak Aksa?” tanya Yora lambat.
"Belum. Ada apa?" tanya Noah.
"Emm ... Maya bilang, mama sedang merencanakan pernikahanku."
"Menikah?" Noah sangat terkejut.
"Iya, Kak. Aku baru dengar itu. Apa Kak Noah juga baru dengar?"
"Sepertinya iya. Karena Aksa tidak mengatakan apa-apa. Aku akan coba tanya Aksa. Aku takut dia juga belum tahu."
"Oh, baiklah. Aku tunggu kabarnya ya, Kak."
...***...
Karena tidak bisa menghubungi Aksa, Noah memilih bertemu Noah di kantor. Sejak tadi pagi ia gelisah. Hingga akhirnya Aksa datang dan dia melesat mendekati sepupunya.
"Hei, Aksa. Kenapa kamu baru datang?" gerutu Noah dengan wajah kesal. Namun Aksa yang sedang bahagia, tertawa melihat Noah. Ia merasa sepupunya terlihat lucu.
"Ada apa Noah? Kenapa kamu kesal seperti itu?" tanya Aksa yang sepertinya tidak tahu apa-apa. Bahkan masih bisa tertawa dengan keadaan ini. Itu berarti pria ini belum tahu kabar tersebut.
"Aksa, aku yakin kamu belum tahu soal kabar yang aku dengar tadi malam.
"Kabar? Soal apa?" tanya Aksa mengurangi tawanya.
"Kita bicara di dalam ruanganku," kata Noah serius.
"Kenapa tidak bicara di sini saja?" tawar Aksa.
"Ikut saja." Akhirnya Aksa berjalan mengikuti Noah di belakangnya. Mereka masuk ke ruangan Noah yang letaknya di dekat situ. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri barusan.
Bruk! Noah meletakkan pantatnya di sofa. Kemudian di ikuti Aksa selanjutnya.
"Ada apa Noah? Kamu terlihat serius," kata Aksa mengamati raut wajah saudaranya.
"Aku memang mau mengatakan hal yang serius, Aksa." Noah mengatakannya dengan wajah serius.
"Ada apa?"
"Hhh ... Apa kamu belum dengar kalau pernikahanmu dengan Yora sudah dekat?" tanya Noah.
__ADS_1
"Pernikahan?"
"Ya. Kamu dan Yora. Tadi malam Yora menceritakan itu padaku. Dia terkejut karena baru tahu."
"Aku menikah?" ulang Aksa karena tidak percaya dengan Indera pendengarannya.
"Melihat ekspresi mu, sepertinya kamu juga baru tahu."
Aksa ingat lagi soal perbincangan dia dengan kakek. "Sial!" umpat Aksa meninju udara. Noah diam. Dia juga ingin mengumpat karena ia juga marah mendengar kabar itu. Baru saja ia bisa menyatakan perasaannya pada Yora, dan akan memulai drama percintaan yang romantis, masalah pun langsung muncul. Itu membuat Noah geram.
"Apa tidak ada pembicaraan sebelumnya dengan kakek? Kenapa kakek terkesan terburu-buru?" selidik Noah.
"Kakek memang sempat membicarakan hal ini. Dia marah karena berpikir aku sedang berkencan dengan wanita lain."
"Berkencan dengan wanita lain? Apa kakek tahu kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"
"Oh, sialan!" umpat Aksa kesal. "Kalau soal itu, saat aku dengan Tiara, kakek juga tahu. Meksipun begitu, kakek membiarkan aku. Namun mengapa sekarang kakek sangat marah?"
"Apa kakek tahu soal sandiwara Lisa dan Yora?"
"Aku ragu, Noah."
"Sebaiknya kamu mencari tahu. Mungkin saja penyamaran Lisa terbongkar hingga membuat kakek marah dan menyegerakan pernikahan kalian."
"Bukan kamu saja yang marah, aku juga ikut marah Aksa. Baru saja aku akan menjalani kisah-kisah indah dengan Yora, masalah besar mulai datang. Aku sangat marah, Aksa." Noah menunjukkan ekspresi marahnya dengan kentara.
"Maafkan aku. Aku akan menanyakan pada Allen." Aksa mengeluarkan ponselnya. Lalu menekan nomor kontak adiknya. Tidak perlu waktu lama, ternyata Allen menghubunginya. Aksa langsung menjawab telepon itu.
"Halo, Kak Aksa?"
"Ya Allen. Ada apa?"
"Apa ... Kak Aksa tetap akan menikah dengan Kak Yora?" tanya Allen mengejutkan.
"Kamu juga dengar soal itu?" tanya Aksa terkejut.
"Ya, aku sempat dengar saat kakek bicara. Aku pikir kak Aksa akan menunjukkan kalau Kak Lisa yang dipilih, tapi kok ternyata mau nikah saja?" Allen terdengar keheranan. Itu berarti gadis ini tidak mengadu soal Lisa pada Kakek. Setelah melalui perbincangan beberapa menit, Aksa mengakhiri obrolan dengan Allen.
"Aku harus menemui kakek, Noah. Aku ingin kejelasan ini langsung dari mulut beliau."
"Kamu akan sengaja menunjukkan kalau kamu tidak setuju?" selidik Noah.
__ADS_1
"Tentu saja. Aku tidak ingin kisah ku dengan Lisa pupus. Aku akan perjuangkan."
"Aku mendukung kamu penuh, Aksa." Noah memberi dukungan.
...***...
Aksa sengaja pulang ke rumah, karena ingin bertemu dengan kakek. Melihat kemunculan Aksa dengan wajah meradang, Pak Aknam tahu bahwa cucu tuan Candika akan marah.
"Dimana kakek, Pak Aknam?" tanya Aksa.
"Beliau baru saja masuk ke dalam ruang baca." Pak Aknam memberitahu. Langkah kaki pria ini terdengar tegas. Mungkin saja amarah sudah membumbung tinggi, hingga langkah kakinya terdengar berat.
Anggita yang tidak sengaja melihat tampang anak tirinya kaku, melongok ingin tahu.
"Ada apa? Kenapa Aksa terlihat marah? Apa hubungan mereka merenggang karena Arka masuk ke dalam perusahaan Candika? Kan papa sudah bisa menerima Arka. Mungkin itu membuat Aksa marah." Anggita bergumam sendiri di balik tembok.
"Nyonya," tegur Pak Aknam yang menemukan Anggita yang menguping.
"Eh, iya ... Iya." Saking terkejutnya Anggita sampai jadi latah. Aknam memperhatikan istri kedua putra Tuan Candika ini. "Pak Aknam ini bikin kaget saja." Anggita tersenyum karena tertangkap basah ingin menguping.
"Ada keperluan dengan dengan Tuan Candika? Akan saya sampaikan nanti, karena sekarang masih bicara dengan putra Anda."
"Ah, tidak. Hanya tidak sengaja lewat saja," kata Anggita masih tersenyum. "Saya ada kegiatan lain. Selamat bekerja Pak Aknam." Anggita segera menyingkir dari sana karena meskipun Pak Aknam tersenyum, sorot mata pria tua ini sangat tajam. Itu artinya dia harus menyingkir.
Tok! Tok! Meksipun sedang marah, Aksa harus tetap bersikap sopan.
"Siapa?"
"Aksa!" sahut cucunya dari luar. Bibir kakek tersenyum. Dia sudah menyangka bahwa cucunya akan muncul di depannya.
"Masuklah."
Aksa masuk dan menemukan kakek sedang berdiri di depan rak buku.
"Kakek pikir kamu akan langsung mendobrak masuk saat ingin berbicara dengan kakek," kata kakek tenang.
"Jadi kakek tahu maksud kedatangan Aksa?" tanya Aksa menahan diri. Bibir Kakek tersenyum lagi. Lalu menarik buku yang tertata rapi di rak. Membuka hard cover buku itu dan membaca ringkasan sedikit di depan. Setelah yakin, beliau menggenggam buku itu seraya membalikkan badan.
"Kenapa tidak duduk?" tanya Kakek yang melihat Aksa hanya berdiri saja. Pria itu pun mulai duduk. "Silakan bicara jika ada yang ingin kamu bicarakan," kata kakek mempersilakan. Ketenangan kakek ini membuat Aksa tidak tenang. Karena jika seperti ini kakek sudah punya jawaban atas semua pertanyaannya. Kakek sudah siap. Namun Aksa tidak gentar, karena dia juga siap dengan semua konsekuensinya.
...______...
__ADS_1