
"Maaf, kakek mau bicara apa?" tanya Lisa yang otaknya sejak tadi hanya berisi tentang ini. Apakah yang mau di bicarakan kakek? Bagaimana aku menjawabnya? Pikirannya terus saja seperti itu.
"Tenangkan dirimu. Santai saja. Tidak perlu terburu-buru. Ini topik ringan yang bisa di bicarakan sambil tetap fokus pada kail kita," kata Kakek tenang. Namun tidak mungkin untuk Lisa kan?
Lisa berusaha menenangkan dirinya.
"Bagaimana kabar bapak sama ibu kamu?" tanya kakek.
"Baik, Kek."
"Meskipun aku sempat ke rumah kamu waktu itu?" Kakek sengaja memancing Lisa.
"E ... itu."
"Kamu bisa bicara apa adanya. Kakek sengaja mengajakmu sekarang, karena ingin bicara apa adanya."
"Itu ... Mereka tidak mungkin baik-baik saja setelah menghadapi Kakek," kata Lisa jujur. Kakek tersenyum.
"Kenapa? Bukannya aku sudah pulang dari rumah mereka?"
Lisa mengerjapkan mata sebelum menjawab. "Karena Anda adalah kakek dari pria yang pernah melamar putri mereka. Anda juga bukan orang biasa. Jadi mereka tetap gelisah meskipun tidak lagi bertatap muka."
"Gelisah?" Kali ini kakek menoleh cepat.
Lisa diam. Haruskah dia mengatakan apa yang ada di benaknya sekarang?
"Katakan saja," pinta Kakek dengan wajah ramah. Kakek benar-benar siap bicara dengan gadis ini.
"Saya merasa bersalah jika bicara mengenai ini lebih dari seharusnya, kakek. Karena anda orangtua yang perlu saya hormati, jadi saya tidak pantas bicara hal yang bukan bagian saya. Jadi bisakah saya tidak menjawab?" Lisa merasa aneh jika kakek setenang ini.
"Tidak. Kamu bisa menjawab seusai dengan apa yang kamu rasakan," kata kakek.
Kakek kenapa sih? Kenapa bersikeras ingin pendapatku? Apakah ini tes? Lisa menggeram di dalam hati.
"Benar. Mungkin orang tua saya gelisah dengan keadaan ini. Cucu kakek pernah melamar putrinya tanpa mengajak orangtuanya. Itu membuat mereka merasa putrinya di cintai, tapi belum direstui keluarganya," kata Lisa memberanikan diri.
Kakek diam. Lisa melirik. Dia cemas. Apakah kalimatnya terdengar begitu pongah? Entahlah, kakek bilang aku harus bicara kan? Lisa tidak mau berpikir hal yang berat.
__ADS_1
"Ya, Aksa sedikit ceroboh soal itu." Kakek setuju. "Jadi orangtuamu menginginkan pernikahan?"
"Karena Aksa sudah pernah datang ke rumah saya beberapa kali, bahkan pernah melamar saya, orangtua saya pasti menginginkan pernikahan. Namun mereka hanya menunggu. Keputusan penuh pada keluarga Aksa. Termasuk kakek," jawab Lisa.
"Jadi keputusan ada padaku ya?" Kepala kakek manggut-manggut. Lisa diam. Sedikit menerawang. "Lisa, pancing kamu bergerak. Mungkin ada ikan yang makan umpan mu," tunjuk kakek pada pancing Lisa yang bergerak-gerak. Lisa tahu apa yang harus di lakukan. Agak berat, kemungkinan ikan besar. Dan ... benar. Itu Gurame. "Wahh ... ikan yang besar. Lihatlah Pak Aknam. Dia memang berbakat dalam memancing. Hahahaha ..."
"Benar Pak," kata Pak Aknam.
"Bagus Lisa. Kakek bangga. Jarang sekali ada gadis yang suka memancing. Kakek jadi ada teman untuk ke tempat pemancingan selanjutnya ini. Hahaha ...."
Pak Aknam ikut tersenyum melihat atasannya tertawa bahagia. Lisa tersenyum canggung. Teman memancing?
"Memangnya kakek mau mengajak saya memancing lagi?" tanya Lisa polos.
"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya kakek.
"Itu tidak mungkin Kek. Saya pasti mau, karena itu kakek yang mengajak," kata Lisa jujur. Kalau orang lain pasti dia tidak mau.
"Hahaha ... Kamu pasti terpaksa kan?" ledek kakek.
Tentu saja. Mana bisa aku menolak ajakan kakeknya Aksa.
"Apa maksud kakek?" tanya Lisa kurang memahami.
"Sebagai pekerja di perusahaan, dia orang terbaik yang kakek punya, tapi sebagai seorang lelaki ... dia minus di mata kakek. Apa kamu mengerti tentang itu?"
Gadis ini baru memahami. Ini soal Aksa yang jadi playboy.
"Ya, Kek. Saya tahu siapa Aksa. Saya tidak tahu secara langsung tapi saya bisa membayangkan siapa dia. Mungkin saya terdengar bodoh, tapi ... saya ingin tetap bersamanya." Lisa mengatakan itu dengan tegas.
Kepalanya menunduk seraya menatap pancingnya. Saat itu dari arah utara, Aksa melihat Lisa tampak menunduk tidak berdaya. Gadis itu lesu dan tidak bersemangat. Ini memicu Aksa untuk langsung menegur kakek.
Namun ternyata semua hanya salah paham saja. Aksa hanya cemas yang berlebihan. Aksa langsung menarik tubuh Lisa dan memeluknya erat.
"A-aksa?"
"Jika memang tidak ada apa-apa, syukurlah. Aku cemas ...," ujar Aksa. Semangat Aksa untuk marah lenyap karena tahu Lisa dalam keadaan aman.
__ADS_1
***
"Bodoh! Kamu pikir kakek mau apa sampai kamu marah seperti tadi?" teriak kakek saat mereka berkumpul di area istirahat karena matahari sangat terik.
"Maafkan aku," kata Aksa menundukkan kepala.
"Hhhh ... Untung saja Lisa langsung paham bagaimana menghentikanmu, dasar bocah!" Kakek masih geram karena tingkah Aksa tadi. Pria ini menipiskan bibir seraya melihat ke arah lain. Sementara Lisa
"Pak, handphone Anda berbunyi." Pak Aknam memberi tahu.
"Ah, iya." Kakek Candika mengambil ponsel di saku rompi pancing yang beliau pakai. Melihat ke layar ponsel lalu mendekatkan pada telinganya. "Ya, halo. Tidak. Aku sedang bersama cucuku. Ya ... Hahahaha." Karena perhatiannya teralihkan pada penelepon, kakek mulai mengabaikan Aksa.
"Kamu sungguh tidak apa-apa, Lis?" tanya Aksa.
"Iya. Sepertinya aku yang harus tanya sama kamu. Kamu enggak apa-apa?" tanya Lisa seraya menarik tangan Aksa dan melihat buku jari tangan pria ini yang terluka. Sepertinya itu akibat Aksa yang menghantam pintu rumah sebelum berangkat mencari Liza tadi. "Sepertinya luka ini masih baru." Lisa meneliti luka itu.
"Itu luka kecil. Aku tidak merasakannya. Aku lebih merasa sakit kalau kakek menyakiti hatimu," kata Aksa sungguh-sungguh.
"Kakek tidak memarahiku. Beliau hanya menanyakan bapak dan ibu," kata Lisa sambil mengusap lembut luka itu
"Ya. Aku juga ingin tanya. Kenapa kakek bilang ibu tidak menginginkan pernikahan, apa ibu kecewa padaku?" tanya Aksa.
"Mana ada orang miskin seperti keluargaku kecewa padamu. Tidak mungkin." Lisa tergelak ringan.
"Aku serius Lis. Apa ibu tidak ingin aku menjadi menantunya?" Aksa menepis gelak tawa Lisa.
"Aku juga serius. Mana mungkin keluargaku tidak ingin kamu menjadi menantunya. Hanya saja ..."
"Ajak Lisa bertemu papa mu. Dia harus di kenalkan pada keluarga kita," kata kakek yang kembali dari menerima teleponnya.
"Jadi kakek setuju dengan hubungan kita berdua?" tanya Aksa tidak percaya.
"Hhh ... Jika tidak setuju, kenapa kakek mengajak Lisa memancing?" kata kakek.
"Karena dalam keluarga Candika, tidak ada yang suka memancing. Jadi kakek senang karena tenyata punya teman memancing kan," ujar Aksa seraya bercanda.
"Hahahaha ... Benar. Mungkin saja seperti itu."
__ADS_1
...______...