
"Hei, lihat aku saat bicara dong. Aku lagi marah nih, marah ...," ujar Lisa kesal. Aksa seperti tidak peduli.
"Aku tidak bisa melihatmu saat bicara jika kamu meletakkan tanganmu di sana," tunjuk Aksa pada jari-jari tangan Lisa. Kepala gadis ini menunduk. Ia terkejut bahwa saat ini jari-jarinya berada di gundukan kenyal miliknya.
Secepat kilat Lisa melepaskan tangannya. Bersamaan dengan itu kancing seragam Lisa terlepas. Namun dia tidak sadar.
"H-hanya salah meletakkan tangan saja kamu besar-besarkan," bela Lisa. Ia sedikit canggung.
"Bukannya itu juga perlu aku kembalikan padamu? Bukannya tadi aku juga hanya salah meletakkan tanganku di sana," tunjuk Aksa pada dada Lisa terang-terangan. Membuat Lisa membuat muka masam.
"Itu ya, tidak benar." Lisa balas membela diri. "Kamu kan pria dewasa yang mesum. Jadi pasti pikiranmu ke sana dong. Beda dengan aku. Aku ini masih bocah," kata Lisa sepertinya menang.
"Ya. Aku memang mesum," ujar Aksa mengaku dengan geram. Tidak bisa di sangkal, dia memang seperti itu. Namun itu semua jika ia sedang bersama Tiara atau wanita dewasa lainnya.
"Jadi katakan, kenapa kamu ..."
"Sudah. Berhenti. Maaf. Aku tidak sengaja. Maafkan aku," potong Aksa. Lisa melipat tangannya. "Bagaimanapun aku jelasin kamu tetap bilang aku ini pria mesum. Jadi lebih baik hentikan pembicaraan itu."
"Itu sudah jelas," cemooh Lisa.
“Oh, ya. Kancing seragammu lepas," kata Aksa tanpa melihat. Mungkin karena Aksa sempat menarik dengan keras tubuh Lisa agar tidak jatuh untuk kedua kalinya. Jadi jahitan kancing itu rapuh.
"Oh, astaga." Lisa panik seraya mengetatkan seragam sekolahnya. Apalagi kancing yang lepas, tepat di bagian tengah.
__ADS_1
"Ke belakang sana," tunjuk Aksa yang tahu Lisa pasti kebingungan.
Aksa membiarkan gadis itu berlari ke belakang.
Lisa tidak mengerti kemana, tapi ia segera ke belakang seraya menarik ransel sekolahnya untuk bersembunyi. Mencoba mencari sendiri ruangan apa yang Aksa maksud.
Ternyata itu sebuah ruang istirahat pribadi milik Aksa. Terlihat mewah meski tidak luas. Lisa ingat sepertinya ia menyimpan peniti di dalam tasnya. Dia mengaduk-aduk tas ranselnya.
Aksa sendiri sedang merasa pusing. Masih teringat dengan jelas sekali saat ukuran itu pas di tangannya. Ia sempat terkejut. Di balik tubuh Lisa yang kelihatan kurus, ada keistimewaan di sana.
Sialan. Sudah terbiasa seperti itu, jadi bikin nagih. Dasar otak mesum. Dia juga masih bocah, tolol, umpat Aksa pada dirinya sendiri.
Sementara itu ada Noah di luar pintu. Dia mendengar bahwa tunangan Aksa sedang berkunjung. Sekarang pasti masih ada di dalam. Ia masuk tanpa mengetuk pintu.
"Apa yang terjadi di sini, Aksa?" tanya Noah saat melihat kekacauan di dalam ruang kerja Aksa.
"Oh, Noah. Masuklah," ujar Aksa mempersilahkan.
Noah berjalan perlahan dengan melihat ke sekitar. Ruangan Aksa berantakan. Box makanan yang tadi terlempar tidak sengaja, tumpah di depan meja kerja Aksa. Pria ini belum memanggil OB untuk membersihkan karena masih pusing.
"Kenapa dengan semua ini? Mana Yora?" tanya Noah lagi.
__ADS_1
"Aksa!! Bisa minta peniti? Seragamku tidak bisa ditutup. Ini pasti gara-gara tangan kamu memegang sembarangan tadi?!" teriak Lisa dari dalam ruangan tersembunyi dengan geram. Rupanya gadis itu tidak berhasil menemukan peniti di dalam tasnya.
Yora di dalam sana?
"Lebih baik kamu beli yang baru. Kemeja itu lepaskan saja!" teriak Aksa.
Noah memandang Aksa dengan tatapan penuh tanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini tadi?" desis Noah.
"Tidak ada. Hanya keributan sementara," sahut Aksa dengan santai. Noah tiba-tiba saja membungkuk dan menarik kerah kemeja Aksa.
"Katakan dengan jujur, Aksa. Apa yang sudah kamu lakukan pada Yora? Mengapa ia mengatakan itu barusan? Kenapa dia ada di dalam ruangan pribadimu di sana?!" teriak Noah marah.
"Hei, Noah. Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Aksa.
"Kamu tahu kalau aku mencintai gadis itu, tapi apa yang sudah kamu lakukan padanya? Apa?!" teriak Noah kejam. Ia memperketat tarikan tangannya pada kemeja Aksa.
"Kamu salah paham Noah. Semua ini tidak sama seperti yang kamu pikir. Lagipula dia bukan Yora, dia Lisa." Tangan Aksa terangkat ke atas. Ia tidak ingin melakukan perlawanan, karena apa yang terjadi tidak sama dengan yang ada di pikiran sepupunya ini.
"Jangan bercanda!!!"
_____
Baca kisah yang lain ya ...
__ADS_1