
“Lisa?” ulang Maya menyebut nama itu. Mungkin Maya ingin menegaskan Indra pendengarannya sendiri. Yora mengangguk pelan. Bola mata Maya mengerjap. Ia pun menyandarkan punggungnya pada badan kursi.
“Kamu tidak terlalu terkejut. Apa kamu sudah menduganya?” tanya Yora yang merasakan bahwa Maya merespon berita ini biasa saja.
“Ah, tidak. Bukan itu.” Maya menepis pemikiran gadis ini. “Apakah benar soal itu? Mungkin saja pemikiran kamu yang keliru.”
“Tidak. Ini memang benar. Aksa sendiri yang mengatakannya seraya menunjuk Lisa.”
“Jadi Lisa masih sering bertemu dengan Aksa?” tanya Maya. Dia agak terkejut soal ini.
“Aku rasa Aksa yang mengejarnya.” Yora mengatakannya dengan suara berat. Ia seperti mau menangis. Maya memeluknya. Yora meneteskan air matanya sedikit.
Setelah yakin bahwa Yora tenang, Maya melepas pelukannya. Tampak Yora menyeka air matanya yang sudah ada di ujung bola matanya.
“Aku pikir Aksa itu pria yang tidak menyukai wanita yang masih bocah. Dengan reputasinya yang playboy, aku pikir seleranya adalah wanita dewasa. Seperti desainer itu,” kata Maya bermaksud membicarakan Tiara.
“Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi nyatanya aku keliru. Dia menyukai Lisa.”
“Aku harap kamu enggak apa-apa,” ujar Maya menepuk punggung gadis ini.
“Aku tidak apa-apa. Harus,” tekad Yora. Dia yakin tidak punya harapan di cintai pria itu.
__ADS_1
“Apa mungkin, Aksa menyukai Lisa karena mereka sudah bersama saat menggantikan kamu?”
“Iya. Sepertinya begitu.”
“Tunggu. Apa nyonya Anne tahu soal ini?” tanya Maya tegang. Kepala Yora menggeleng.
“Mama belum tahu. Aku tidak belum berani bilang pada mama. Takut mama kecewa.”
“Lalu bagaimana?”
“Aku akan diam dan bersikap seperti biasanya. Aku harap kamu juga tutup mulut. Kalau mama tahu hal ini, dia tidak akan diam. Aksa akan makin membenciku nantinya,” kata Yora meminta pengertian Maya. Melihat tatapan mata Yora, Maya mengangguk menyanggupi untuk menutup mulut.
Siang hari di sekolah Lisa.
“Gimana kabar kalian berdua?” tanya Sera saat mereka berjalan di lorong sekolah.
“Siapa?” tanya Lisa tidak mengerti.
“Kamu dan Om itu,” kata Sera.
__ADS_1
“Hei, dia punya nama Aksa.”Lisa tidak setuju. Sera menipiskan seraya menatap temannya ini curiga.
“Wow, pembelaan yang aneh,” kata Sera menemukan ada yang janggal.
“Apa? Aku hanya meluruskan. Jadi aku rasa itu tidak ada yang aneh, Sera.” Lisa mengelak. Terdengar suara gelak tawa di persimpangan lorong. Lisa menoleh cepat karena suara itu. Di depan mereka, tidak jauh dari tempat keduanya berdiri. Ada Arka dan teman sekelasnya.
Bola mata mereka beradu. Lisa mengerjapkan mata bingung. Arka kini sendirian karena temannya pergi. Dia ingin melangkah begitu saja seperti yang biasa dia lakukan. Karena Arka akan melakukan hal yang sama saat mereka bertemu setiap harinya.
Sera menarik tangan Lisa.
“Kita segera ke kantin, yok. Kamu kan lapar.” Sera berinisiatif untuk menyuarakan ajakannya. Meskipun sebenarnya mereka berdua tahu mau kemana kaki mereka melangkah sekarang, Sera sengaja mengatakannya dengan jelas agar Arka tahu mereka terburu-buru.
Lisa hanya menganggukkan kepala bingung.
“Kalian mau ke kantin?” Ternyata Arka menanyakan itu lebih dulu. Kaki Lisa dan Sera yang akan melangkah, jadi berhenti. Kemudian menoleh ke samping. Cowok ini menghampiri.
“Ya,” sahut Lisa. Sera hanya diam. Sedikit heran seperti Lisa karena cowok ini menyapa.
“Kita sekalian bareng ke sana,” kata Arka berinisiatif. Bola mata Lisa mengerjap terkejut.
...____...
__ADS_1