
Lalu Aris kembali ke sarangnya. Dia belok ke toilet, dimana dua orang yang lain sedang menunggu.
"Mana Lisa?" tanya Sabo heran karena tidak melihat batang hidung gadis bertubuh tinggi itu.
"Dia enggak mau sekarang. Nanti," jawab Aris lemah.
"Kenapa?" tanya Sabo lagi.
"Ya jadi anak rajin dong, Sab. Sarap!" Kali ini Nero yang punya wajah agak bule yang jawab. Entah dapat dari mana gen bule-nya dia. Dia jadi seperti bukan anak mama papanya.
Ini jadi ledekan anak-anak se-geng. Seharusnya Nero ini jadi salah satu keajaiban dunia. Karena meskipun wajahnya agak bule dikiiit, tapi dia orang indonesia. Namanya aja di tegaskan kalau dia adalah orang indonesia asli. Nero Indonesiano. Yang bikin lidah guru pembimbing mata pelajaran sering belibet saat absen di kelas. Coba deh di ucapkan.
"Nama aja susah minta ampun. Ganti yang simpel dong," gerutu Aris.
.
"Mak-ku itu gaul, men. Modern. Makanya namaku sangat ... sangat milennial. Itu menunjukkan kalau kita bisa adaptasi sama jaman yang sudah berkembang ke arah yang ..." Nero hendak berpidato, tapi di potong oleh Sabo.
"Kampret! Pidato sana di depan gedung sekolah biar semua orang di sekolah dengar sekalian," potong Sabo gemas. Nero terkekeh.
"Mama mu numpang bentar kali ke sebelah ... Jadi kamu enggak mirip sama sekali dengan papa mu," ledek Aris kala itu. Nero langsung menendang pantat Aris, tapi enggak kena. Aris bisa menghindar dengan mudah sambil cengengesan.
"Brengsek!" Cowok kalau bercanda memang kelewatan. Dan arahnya pasti 'kesana'. Normal sih. Namun mereka jadi tidak bahas begituan kalau lagi ada Lisa ngumpul bareng. Menghormati. Dia kan perempuan yang berhati lembut. Walaupun kebanyakan malah cuek bebek tidak peduli.
__ADS_1
"Sedang apa kalian?" tanya Pak Andi yang berada di depan toilet pria. Apes banget, tapi kan mereka enggak ngapa-ngapain. Jadi dengan tenang dan percaya diri mereka menghadapi Pak Andi.
"Kencing, Pak," jawab Nero jujur. Kan tadi juga ada adegan buang air kecilnya. Cuman di skip. Tidak mungkin di jabarkan dengan detail. Sabo dan Aris mengangguk. Membenarkan informasi yang di sampaikan oleh si bule indonesia itu. Pak Andi masih mengamati. Beliau tidak percaya. Karena trio ini terkenal ketidakbenarannya. Alias banyak salahnya daripada benarnya.
"Kencing juga harus bertiga?!" semprot Pak Andi. Lalu beliau menerobos masuk ke dalam toilet. Layaknya seorang detektif yang sedang menggeledah rumah si pelaku. Pak Andi dengan mata elangnya mencari sesuatu yang mencurigakan. Yang bisa saja mereka bertiga sembunyikan dengan diam-diam di area toilet cowok ini.
**
Kelas Lisa,
Pelajarannya pak Ilham baru saja selesai. Lisa membawa tas ranselnya yang tipis lalu beranjak keluar. Kenapa tipis? Karena buku yang dia bawa tidak seberapa. Hanya dua buah saja.
"Aku cabut," bisiknya ke Sera teman sebangkunya. Sera hanya mengangkat tangan memberikan haknya Lisa untuk membolos.
"Mau kemana?" tanya Bayu ketua kelas yang berpapasan di depan pintu.
"Memangnya ke kamar mandi harus bawa tas?" tanya Bayu yang begitu tidak percayanya pada Lisa. Ketahuan!! Ya pasti ketahuan dong.
"Ya ... ke kamar mandi, trus ... pulang," jawab Lisa akhirnya sambil nyengir tanpa menyembunyikan niatnya untuk pulang lebih awal.
"Pasti sama golongannya Sabo, ya?" tebak Bayu benar. Semua satu sekolah tahu ini cewek satu gengnya dengan mereka bertiga itu.
"Memangnya siapa lagi teman bolosku." Lisa manyun.
__ADS_1
"Jangan kesana. Mereka sedang di interogasi Pak Andi," cegah Bayu.
"Eh? Di interogasi soal apa?" tanya Lisa terkejut. Mendadak dia di serang rasa cemas.
"Enggak tahu. Pokoknya jangan kesana, paham?" Bayu memperingatkan. Karena dia barusan dari ruang guru melintas di depan toilet dan melihat Pak Andi yang menerobos masuk. Terpaksa Lisa balik lagi masuk kelas.
**
Toilet,
"Kalian pasti habis merokok disini." tuduh Pak Andi tanpa bukti. Puntung rokok saja tidak di temukan. Bagaimana bisa Pak Andi ini menuduh. Sembarangan nih, Bapak gurunya. Mungkin keseringan menangkap basah murid-murid cowok merokok di sini ya ....
Walaupun memang pada kenyataannya, anak-anak cowok sering merokok di sini. Tapi hari ini, saat ini, pada jam ini, di toilet tidak ada bau-bauan tembakau dari rokok batangan itu. Yang ada malah sisa bau pesing dari toilet ujung yang tidak di siram sama anak-anak yang duluan datang sebelum mereka bertiga.
Sabo tadi sudah berusaha menyiraminya berkali-kali dengan mulutnya tidak berhenti memaki-maki. Supaya bau pesingnya hilang. Dia baik juga rupanya.
"Kita nyalakan korek aja enggak, apalagi merokok," gumam Aris pelan sambil pura-pura garuk-garuk kepala. Pak Andi noleh.
"Ayo kalian ngaku," Pak Andi memaksa. Lalu beliau membaui pakaian murid-muridnya bagai anjing pelacak, sambil menggeledah. Biasanya anak-anak pada nyelipin satu puntung rokok, tapi sekarang mereka terbukti tidak merokok. Mereka terbukti bersih hari ini. Karena mereka kumpul di toilet itu mau bolos, bukan mau merokok.
Karena tidak ada bukti, Pak Andi melepaskan mereka.
"Sekarang kembali ke kelas kalian!! Jangan lagi berkumpul di sini."
__ADS_1
"Ya, Pak ...," kata mereka bertiga hampir bersamaan.
_ T U N A N G A N P A L S U