Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 41 Ruang pemain


__ADS_3


 


Lisa terpaksa menuruti keinginan Allen untuk menemui Arka, di saat dirinya masih menjadi Yora. Mereka berdua berjalan menuju ke ruang tunggu para pemain.


 


Dan menuju ke sana tidak semudah itu. Banyak rintangan. Berkali-kali Lisa perlu mengetatkan masker guna menutupi wajahnya. Anak-anak dari sekolahnya bermunculan dimana-mana. Tentu ini menegangkan bagi Lisa.


 


Hingga akhirnya mereka sampai di ruang tunggu. Lisa menahan napas sejenak. Kostum basket dari sekolahnya terlihat. Ia makin deg-degan saat kakinya melangkah masuk ke dalam.


 


"Halo, Kak Arka!" seru Allen lumayan membuat semua orang menoleh saking kerasnya. Namun semua hanya menoleh. Membiarkan gadis ini bersikap seenaknya.


 


Lisa menelan ludah saat cowok itu menoleh. Kostim kebanggaan sekolah di tubuh Arka, membuat cowok itu makin gagah.


 


Ini mendebarkan! jerit Lisa di dalam hati.


 


Manik mata Arka langsung memandang gadis di sebelah Allen setelah tersenyum pada adiknya itu. Dia tahu itu pasti Lisa. Allen melangkah lebih dulu untuk sampai di tempat Arka berdiri.


 


"Aku bersama Kak Yora." Allen langsung memberi laporan. "Soalnya papa mengijinkan aku nonton basket kalau bersamanya. Jahat kan?" Allen berceloteh. Dengan umur yang tidak beda jauh, gadis ini tampak lebih santai jika bicara dengan Arka. Hingga tidak ada canggung sama sekali.


 


"Bukan. Papa hanya melindungi putrinya." Arka memberi pengertian.


 


"Itu sedikit mengekang, Kak." Allen menaikkan ujung bibirnya kesal dengan papa.


 


"Tapi enggak apa-apa, kan. Akhirnya kamu bisa jalan sama kak Yora yang sangat jarang sekali." Arka bersikap bijaksana. Lisa tersenyum bangga. Itu jauh lebih baik dari pria itu. Aksa. "Halo Yora," sapa Arka setelah Allen selesai berceloteh.


 


"H-halo." Lisa mendadak gugup saat Arka menyapanya dengan nama itu. Terasa asing. Ini pertama kalinya.


 


"Terima kasih sudah menemani Allen. Tanpa kamu, dia akan terkurung dan tidak bisa menonton pertandingan ku," ujar Arka yang lebih terasa seperti mengucapkan terima kasih pada seorang Lisa.


 


"Ya."


 


Arka tahu Lisa memakai masker guna menutupi wajahnya. Itu semua agar dia tidak di temukan oleh orang-orang yang mengenalnya. Dia cukup paham gadis ini akan punya ide untuk bisa bertemu dengannya meski dengan sampul Yora. Lisa itu cerdas soal beginian.


 


Namun cobaan mulai datang saat Nero yang jadi pemain basket mendekat ingin tahu.


 


"Siapa, Ka? Lisa enggak muncul kok malah ada cewek cantik yang lain di sini?" Nero langsung mengalungkan lengannya pada leher cowok ini seraya mengamati Allen.


 


Lisa menegang. Apalagi mulut ni anak menyebut namanya. Berasa dia ingin menjawab langsung saja.


 


Allen mengerjap melihat kemunculan bule yang tiba-tiba.


 

__ADS_1


Jangan. Jangan! Jangan terpesona sama anak ini! Jerit panik Lisa di dalam hati.


 


Mata Allen terlihat terpana dengan tampang Nero. Mulut Lisa ingin bicara saja soal Nero, tapi dia tahan kuat-kuat. Mengingatkan lagi dirinya soal menjadi siapa saat ini.


 


Mungkin tidak salah juga Allen begitu. Nero mungkin cakep di depan cewek.


 


"Dia adikku,” sahut Arka.


 


"Benarkah? Rada enggak percaya." Nero mengerutkan keningnya. Dia mengamati Allen lagi. Membuat gadis ini mengerjapkan mata di amati.


 


"Terserah." Arka tersenyum sambil mendorong pipi cowok ini untuk tidak memindai adiknya.


 


"Cantik, kamu benar adiknya Arka?" tanya Nero konfirmasi langsung pada orangnya.


 


"Iya. Aku adiknya Kak Arka."


 


"Kenalin, aku Nero." Tanpa berbasa-basi lagi, Nero mengenalkan dirinya. Tangannya terulur meminta jabat tangan. Arka tersenyum geli dengan tingkah temannya. Apalagi Lisa. Bukan geli, tapi geram. Dia ingin menjitak kepala cowok ini dan menyuruhnya menarik kembali tangannya. Dia belum tahu siapa gadis ini.


 


"Terima aja kalau mau. Dia enggak menggigit kok, Al," celetuk Arka membuat Nero menoleh cepat padanya.


 


"Emangnya aku binatang buas?" Nero tampak protes. Allen mengangguk. Mengerti kalau cowok ini sepertinya dekat dengan kakaknya.


 


 


"Sudah, jangan lama-lama. Adikku bisa terkena epilepsi kelamaan jabat tangan sama kamu." Baru saja Lisa ingin bilang, Arka sudah lebih dulu mengatakannya. Lisa menatap Arka dengan puas. Bibir Arka tersenyum pada Lisa.


 


Mereka berdua pun melepaskan tangan.


 


"Hei ... jangan begitulah. Aku kan jadi seperti punya penyakit beneran di depan adikmu." Nero menepuk lengan Arka untuk memprotes ucapannya barusan. Lisa tergelak. Dan sialnya itu membuat perhatian Nero teralihkan padanya. "Ini ... siapa?"


 


Sial.


 


Arka yang tersenyum karena Nero protes mulai menengok pada Lisa. Senyumannya mulai memudar setelah pertanyaan itu.


 


"Dia tunangan kakakku yang pertama," ujar Allen menjelaskan.


 


"O ... jadi kalian punya kakak lagi." Nero manggut-manggut mengerti. Kepala Nero pun mengangguk untuk bersikap sopan pada Lisa. Kepala Lisa mengangguk juga menerima sapaan Nero.


 


Lisa hanya berharap sekarang Arka bisa menang dan semua aman. Namun keadaan berkata tidak. Karena setelah itu muncul Aris, Sabo, juga Sera. Dan belakangan malah muncul adiknya. Di balik masker, bola mata Lisa melebar.


 


Oh, astaga. Tidak!

__ADS_1


 


Ketegangan Lisa makin meningkat. Arka tahu kekhawatiran ini.


 


"Kamu nggak kembali ke bangku penonton, Allen?" tawar Arka.


 


"Kakak sudah mau main?" tanya Allen menengok ke sekitar dengan bingung. Karena tidak ada tanda-tanda mereka akan masuk ke lapangan untuk bertanding. Arka tahu ini tidak mudah. Ia menatap Lisa. Berharap gadis itu bisa tenang.


 


"Belum. Mungkin kamu ada janji dengan teman yang lain," sahut Arka beralasan.


 


"Enggak. Aku kan hanya sama kak Yora. Kesini juga karena mau kasih semangat sama kak Arka." Niat hati yang baik. Membuat Arka menghela napas. Dia menengok Lisa lagi.


 


"Ada adik kamu, Ka?" tanya Sera ramah.


 


"Ya. Dia Allen." Arka mengenalkan. Allen menerima semua teman Arka dengan baik. Dia gadis yang ramah juga rupanya.


 


Seperti Nero tadi, kini mereka juga mulai mengalihkan perhatian pada gadis bermasker yang sejak tadi menutup mulut tidak bicara. Lambat laun semuanya memperhatikan Lisa.


 


Oh ya ampun, tidak!


 


Sera saja sudah membuat Lisa cemas, apalagi Giri adiknya. Anak itu tidak banyak bicara dengan Lisa, tapi gadis ini cemas. Karena bagaimana mungkin seorang adik akan tidak mengenali kakaknya bukan?


 


Tenyata pikiran Lisa berlebihan. Giri tampak tidak antusias bicara dengannya. Tidak aneh juga, anak itu tipe cowok cool saat ada cewek lain selain yang biasa di kenalnya.


 


"Eh, iya. Sejak tadi kok dia enggak nongol ya?" tanya Nero sadar. Semua menoleh padanya.


 


"Siapa yang enggak nongol, Ne?" tanya Aris.


 


"Itu. Si Lisa."


 


Gara-gara perkataan bule kampung ini, semua pun berdengung menanyakan kemana gadis itu berada.


 


"Emang sejak tadi enggak kesini, Ka?" tanya Sabo.


 


"Sera kan dekat sama Lisa. Kemana si Lisa, Ser?" tanya Nero yang menyelamatkan Arka dari kewajiban Arka buat menjawab.


 


"Iya. Dia bilang ada perlu," jawab Sera.


 


"Daripada Sera, mending tanya aja Giri. Bukannya dia adiknya Lisa." Aris mengatakan hal dengan akurat. Itu membuat Lisa berdecih karena keakuratannya dari balik masker.


______


TUNANGAN PALSU

__ADS_1


__ADS_2