Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 51 Aksa yang lupa


__ADS_3


Aksa menyalakan mesin pembuat kopi dan berdiri menunggu di ruangannya. Ia sudah berharap bisa langsung bertemu Noah, tapi pria itu ternyata belum datang ke kantor. Jadinya dia masuk ke ruangannya dulu.


 


"Aku tidak menyangka kamu akan datang lebih awal daripada aku." Noah muncul dari balik pintu. Aksa menoleh ke belakang sebentar.


 


“Kamu terlambat, Noah,” kata Aksa lalu fokus pada gelas kertas sekali pakai di depannya. Gelas itu mulai terisi dengan cairan espresso.


 


“Jangan bercanda. Aku ada pekerjaan di luar. Lagipula kenapa ingin menemuiku?” tanya Noah seraya duduk.


 


"Ya. Seperti yang sudah aku katakan, aku ingin segera bertemu denganmu membicarakan hal penting. Kopi?" tawar Aksa.


 


"Ya. Gula sedikit." Noah yang sudah duduk di kursi bersandar. Aksa membuat satu lagi minuman untuk sepupunya. Setelah menunggu beberapa menit, kopi selesai. Aksa membawanya ke meja. Lalu menyodorkannya pada Noah. "Terima kasih."


 


Aksa duduk di sofa dengan cangkir di tangannya.


 


"Soal apa, sampai kamu terus menerorku?" tanya Noah. Aksa mendengus pelan. Merasa itu lucu.


 


"Kamu pasti terkejut." Aksa mengangkat cangkirnya ke depan. Bermaksud menunjuk Noah. Lalu menyeruput minumannya pelan. Noah memperhatikan dengan diam. "Ini soal ..."


 


Pintu ruangan terbuka. Aksa dan Noah menoleh bersamaan.


 


"Aksa! Apa maksud kamu tidak muncul di tempat kita janji untuk bertemu?" Ternyata itu Tiara. Noah menipiskan bibir melihat perempuan ini. Dia kurang menyukai perempuan ini. Bola mata Aksa memicing mendengar perempuan ini berteriak.


 


"Duduklah," pinta Aksa setengah menggerutu. Walaupun marah, Tiara tetap mengikuti kata-kata Aksa. Noah tidak terlalu respect. Dia hanya diam.


 


"Sepertinya aku harus keluar dulu. Membiarkan kalian berdua menyelesaikan masalah." Noah beranjak pergi. Dia keluar dari ruangan dan membiarkan Aksa berdua dengan Tiara.


 


Aksa menghela napas.


 


"Ini sudah keterlaluan Aksa. Sudah dua kali kamu mengabaikan aku." Tiara marah. "Pertama saat acara peluncuran pakaianku, kedua tadi malam. Apa-apaan, Aksa?"


 


Aksa menyeruput esspresso-nya yang tinggal sedikit. Dia tidak langsung merespon kalimat marah Tiara. Lagi-lagi dia lupa soal janji dengan perempuan ini. Dia terlalu sibuk mengurusi urusan Yora palsu. Itu menyita perhatiannya.


 


"Aku sibuk," jawab Aksa singkat. Dia menunduk melihat ke arah cangkirnya. Seperti tidak ingin bersirobok dengan bola mata Tiara.


 


"Sibuk? Lagi?" tanya Tiara dengan kerutan di dahinya.


 


"Ya." Aksa mendongak. Kali ini ia menatap lurus ke arah Tiara.

__ADS_1


 


"Kenapa kamu selalu membuat alasan sibuk, Aksa?"


 


"Karena aku memang sibuk, Tia," sahut Aksa tetap pada pilihan jawabannya.


 


"Kenapa enggak bilang dari awal?"


 


"Aku enggak mau kamu sedih karena aku tidak memenuhi undanganmu."


 


"Jika kamu katakan di awal kalau kamu tidak bisa menemui ku, aku enggak akan kecewa seperti ini, Aksa." Tiara tetap mempertanyakan soal Aksa yang ingkar janji.


 


"Jangan terlalu berlebihan, Tia. Selama ini aku tidak pernah mengingkari janji. Namun saat aku benar-benar tidak bisa menepati janji karena sibuk, kamu mulai bersikap seperti ini." Aksa tampak kesal. Tiara terdiam.


 


"Ini semua karena gadis itu?" tebak Tiara langsung menuduh. Tangannya memegang erat tas berwarna cerah di tangannya. Suaranya pelan, tapi raut wajah Aksa langsung berubah.


 


"Bicara apa kamu? Gadis ingusan itu tidak akan bisa membuatku melupakan janji denganmu," kata Aksa sedikit menyembunyikan fakta sesungguhnya. "Kamu meragukanku?" desak Aksa mulai tidak sabar.


 


"Bukan begitu Aksa." Tiara kebingungan sendiri. Padahal ia yang muncul dengan marah-marah, tapi saat Aksa mendesak dan mau marah, Tiara mundur. Perempuan ini mulai mendekat ke sisi Aksa. Memeluk lengan Aksa dengan lembut.


 


Aksa membuang muka ke arah lain. Dia kesal.


 


 


Aksa masih melihat ke arah lain. Dia masih enggan melihat ke Tiara. Padahal jika di tilik dari kejadian, Aksa-lah yang bersalah. Dia tidak muncul saat Tiara menunggu di tempat janji mereka.


 


Itu ketika Aksa lebih tertarik mengikuti Lisa yang mencurigakan baginya. Jujur, sekali lagi Aksa lupa soal janji dengan Tiara. Ia terlalu antusias ingin mengungkap jati diri Yora yang di anggapnya mencurigakan. Gadis itu membuatnya melupakan Tiara yang selama ini selalu ada di urutan nomor satu di antara yang lainnya.


 


"Kamu bisa maafkan aku?" tanya Tiara seraya mendongak.


 


Tiara yang malang. Dia tidak paham bahwa Aksa hanya bertingkah tidak bersalah. Sebenarnya ia mengetahui kesalahannya. Namun dengan sadar diri ia berusaha melemparkan kesalahan pada Tiara.


 


"Entahlah."


 


"Tidak. Tidak. Kamu tidak boleh menjawab seperti itu. Kamu harus mau memaafkan aku." Tiara tidak mau jawaban tidak pasti itu. Bibir Tia mendekat dan mengecup pipi Aksa. "Kita akan bertemu lagi nanti malam. Aku akan memuaskanmu." Ia merayu. "Tapi jangan ingkar janji."


 


Bibir Aksa menipis.


 


"Aku tidak bisa langsung mengatakan iya, Tiara."


 

__ADS_1


"Kamu menolak?" tanya Tiara heran. Ini tidak biasanya.


 


"Mungkin saja aku juga lupa janji itu dan mengabaikanmu karena sibuk," sahut Aksa santai.


 


"Kamu sibuk? Masih?" Kening Tiara mengerut. Perempuan ini makin heran.


 


"Kenapa? Kamu tidak percaya?" Aksa menatap Tiara dengan wajah kesal.


 


"Bukan begitu." Tiara kelabakan lagi. Melihat raut wajah Aksa yang ingin marah, ia langsung panik. Ia langsung mengelus lengan pria ini. "Tidak bisakah kamu mengingat janji denganku? Oke. Mungkin tidak hari ini, tapi bisa besok atau lusa. Bagaimana?" Tiara memberi kesempatan lain pada Aksa.


 


"Aku tidak tahu, tapi aku akan luangkan waktu jika memang aku tidak sibuk. Sebaiknya kamu tunggu aku saja yang meneleponmu," kata Aksa seperti enggan.


 


"Aku tidak boleh meneleponmu?" tanya Tiara agak terkejut.


 


"Bukan. Aku pikir kamu akan tidak terima lagi, jika aku lupa soal janji denganmu. Jadi lebih baik aku saja yang akan meneleponmu saat aku benar-benar punya waktu luang." Aksa melepaskan tangan Tiara pada tubuhnya.


 


Aksa berdiri dan menjauh dari sofa. Ia duduk di kursi  kerjanya. Tiara yang masih kebingungan, tidak protes. Dia masih tertegun di sofanya.


 


"Aku masih bekerja. Jika sudah tidak ada keperluan, kamu bisa pulang." Aksa mempersilakan perempuan ini pergi.


 


"Kamu mengusirku?" tanya Tiara mengerjapkan mata. Aksa menghela napas.


 


"Jika kamu masih ingin tetap disini tidak apa-apa, tapi biarkan aku bekerja." Aksa membuka komputer di meja. Mengabaikan Tiara yang masih duduk di sofa seraya tertegun.


 


Entah kenapa pria ini seakan dongkol dengan kemunculan Tiara. Padahal sejak tadi ia berniat hanya berbincang dengan Noah, tapi sekarang ia memilih bekerja.


 


"Sepertinya suasana hatimu tidak baik. Aku datang ingin marah karena kamu tidak datang di tempat janji, tapi ternyata aku yang di anggap bersalah. Oke. Mungkin kamu memang benar-benar sibuk. Jadi aku akan pergi. Aku juga punya pekerjaan."


 


Tiara berdiri dan menenteng tasnya. Aksa memperhatikan. Setelah sejak tadi tidak terlalu mempedulikan, kini ia mencoba fokus.


 


"Telepon aku jika suasana hatimu membaik," kata Tiara menghela napas kemudian. Aksa menganggukkan kepalanya merespon kalimat Tiara. "Aku pergi."


 


Tiara berjalan menuju pintu. Namun beberapa langkah ia berhenti dan menoleh ke belakang. Aksa melirik. Bola mata Tiara mengerjap.


 


"Ada apa?" tanya Aksa. "Apa ada barangmu yang tertinggal?" Aksa melihat ke arah sofa tempat perempuan ini duduk tadi. Namun tidak ada apa-apa di sana. Saat Aksa menoleh lagi ke Tiara, raut wajah perempuan itu masam. "Ada apa?" tanya Aksa lagi.


 


"Kamu tidak mengantarku?" tanya Tiara membuat Aksa mengerjap mata. Ia lupa soal kebiasaannya itu. "Sudahlah. Aku pergi."


 

__ADS_1


Brak! Pintu tertutup agak keras.


______


__ADS_2