
Tidak jadi menikah? Tidak. Jangan sampai!
"Apa ada alasan lain yang membuatmu terus memaksa putrimu menikah?"
"A-alasan? Apa yang Anda maksud kakek?" tanya Anne terkejut. Raut wajahnya terus saja di landa kepanikan.
"Yora sudah membicarakan ini padaku."
"Yora? Tidak mungkin, Kek." Bibir Anne tersenyum meremehkan. Karena bagaimanapun dialah yang paham tentang Nayora.
"Itu benar. Pak Aknam juga mendengar itu." Kakek menunjuk Pak Aknam. "Yora mengatakan, bahwa dia tidak ingin menikah dengan Aksa. Aku menyetujuinya karena Aksa pun demikian. Mereka sama-sama tidak ingin menikah sekarang. Lalu apa alasan kamu tetap memaksakan ingin menikahkan mereka berdua?" tanya Kakek curiga.
Anne terkejut di tanya seperti itu. Perempuan ini gugup. "B-bukankah Anda sendiri yang menjodohkan mereka?"
"Ya. Aku senang melihat Yora yang mirip dengan mendiang istriku. Namun aku tidak perlu merusak ikatan mereka karena keegoisanku."
"Mereka siapa yang Anda maksud?" tanya Anne tidak paham.
"Yora menolak menikah. Dia tidak ingin menikah dengan Aksa. Sepertinya Yora sudah menemukan pria yang benar-benar mencintainya," kata Kakek.
Itu pasti Noah. Jadi Yora sudah mengatakan pada Tuan Candika? Rupanya gadis itu serius untuk melepas Aksa, batin Maya.
"Yora mencintai pria lain? Itu tidak benar kakek. Itu tidak benar. Dia hanya mencintai Aksa. Yora tidak mencintai pria lain lagi selain cucu Anda. Tidak ada," kata Nyonya panik.
"Sebenarnya kenapa kamu seperti ini? Yora sendiri yang menghadap padaku. Dia bahkan datang bersama pria itu."
"Itu tidak benar Kakek. Putriku itu hanya ingin menikah dengan Aksa. Dia ... Dia ... tidak bisa mencintai pria lain. Saat Aksa masih saja bermain dengan wanita desainer itu, Yora juga tetap mencintainya. Bahkan saat Aksa menolak pernyataan cinta Yora, putriku itu bahkan ingin mengakhiri hidupnya karena di tolak. Dia koma."
Karena emosional, Nyonya Anne terus saja kelepasan bicara soal keadaan koma putrinya.
"Nyonya," tegur Maya mengingatkan.
Kakek tertegun mendengarnya. Begitu juga Pak Aknam. Anne sendiri terengah karena marah, panik dan bingung.
"Maaf, aku salah bicara." Anne mengoreksinya. Ia ingin tentang itu tetap menjadi rahasianya.
"Maaf juga Anne. Yora dan Aksa punya keinginan yang sama. Aksa juga membawa gadis yang mirip dengan Yora itu sebentar lagi padaku," kata Kakek membuat Anne menyadari sesuatu.
"Gadis yang mirip Yora?" tanya Anne mengulangi kalimat kakek untuk mempertegas pendengarannya.
__ADS_1
"Ya. Ini ajaib Anne. Putrimu punya kembaran lagi. Mereka mirip."
"Li-lisa?" tanya nyonya Anne terkejut. Wajahnya penuh dengan ketegangan yang tercetak jelas di wajahnya.
Nyonya tidak! Maya terkejut nyonya Anne menyebut nama Lisa.
Indera pendengaran Kakek juga menangkap sesuatu yang aneh. Keningnya mengernyit.
"Tunggu. Kenapa kamu tahu nama itu, Anne?" tanya Kakek.
"Na-nama?" tanya Anne yang sejak tadi tidak bisa mengontrol diri lagi.
"Ya. Kenapa kamu tahu nama Lisa yang tidak aku sebut. Iya. Kamu benar. Gadis yang di cintai Aksa adalah Lisa," ungkap Kakek.
"Dia ... dia itu pembohong kakek. Dia itu gadis pembohong!" Tiba-tiba saja nyonya Anne histeris.
"Tenanglah nyonya, tenang." Maya berusaha menenangkan. Suasana makin panas. Nyonya histeris bagai orang kebingungan. Kemudian beliau menangis. Pak Aknam juga bingung harus berbuat apa.
"Tenangkan dirimu Anne. Sepertinya kamu harus bicara jujur padaku. Ada apa dengan semua ini?"
Seminggu kemudian.
Lisa tidak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan kakek secepat ini. Otaknya berpikir keras untuk tetap tegak berdiri di depan beliau.
"Kita bertemu lagi, Nak," ujar Kakek Candika dengan sikap berwibawa seperti biasanya. Lisa mengangguk sopan.
"Selamat malam." Lisa langsung memberi salam. Sesungguhnya dia masih canggung. Bahkan tidak sedikit rasa takut yang tercuat karena pernah di temui secara personal oleh kakek berikut pemahamannya. Namun dia harus tetap bersikap tenang.
"Kamu pasti tidak menduga akan bertemu lagi denganku dalam keadaan yang berbeda dengan waktu itu." Kakek mulai membicarakan pertemuan mereka waktu itu.
Ya. Aku sangat tidak menduga!
"Jangan mempermainkan dia lagi, Kek. Cukup waktu itu," cegah Aksa.
"Kenapa? Dia takut?" tanya Kakek.
"Apa yang kakek katakan? Tentu saja dia takut. Bukannya kakek sudah memberikan trauma yang sangat dalam padanya?" tegur Aksa membela Lisa. Kepala Lisa gak di tekuk sedikit.
__ADS_1
"Jika dekat denganmu, dia harus tangguh. Jangan cengeng," ujar Kakek. Ini sebuah syarat. Lisa melirik. Bola matanya mengerjap. Dia tahu siapa orang-orang ini. Kakek benar. Jika dekat dengan orang sekelas Aksa, dia harus berani mengambil resiko.
Aksa menghela napas mendengar itu.
"Abaikan saja," bisik Aksa supaya Lisa tenang. Bibir Lisa tersenyum tipis mendengarnya.
"Kalian juga harus di hukum juga sudah mempermainkan kakek. Kalian pikir kakek tidak tahu kalau yang bertemu dengan kakek waktu itu adalah Lisa?" tegur Kakek.
Tubuh Lisa menegang. Aksa menghela napas. Sedikit berdecih di dalam hati. "Sudahlah Kakek. Lisa melakukan itu karena paksaan ku," bela Aksa. Dia tidak ingin Lisa di serang oleh kakek lagi.
"Kamu gadis yang bertemu dengan kakek di rumah sakit kan?" tanya Kakek membuat Aksa terkejut. Lisa yang yakin kalau kakek sudah tahu tentangnya, hanya mengangguk dengan perasaan bersalah.
"Maafkan saya," ucap Lisa.
"Kakek pernah bertemu dengan Lisa?" tanya Aksa.
"Ya. Mungkin jauh sebelum kalian bertemu," sahut kakek terlihat mencemooh Aksa. Pria ini menoleh pada Lisa. Gadis ini hanya menoleh sekilas saja.
Kenapa dia tidak bercerita kalau sudah pernah bertemu dengan kakek? Bukankah aku tidak perlu membuatnya bersandiwara menjadi Yora kalau begitu ... Dasar Lisa. Aksa akhirnya hanya bisa tersenyum sambil menatap gadis ini.
"Kakek tidak hanya mengundang kalian berdua. Kita akan bertemu dengan mereka. Apa mereka sudah datang, Aknam?"
"Sepertinya mereka datang, Pak," kata Pak Aknam. Lisa dan Aksa menoleh ke arah jalan masuk. Beberapa detik kemudian muncul Yora dan Noah. Sepertinya mereka juga baru tahu kalau akan ada Lisa dan Aksa.
"Kakek mengundang mereka juga?" tanya Aksa tidak mengira sama sekali.
"Ya. Karena ini menyangkut kalian berempat, jadi kakek juga harus mengundang mereka," kata Kakek.
"Kita berempat? Maksud kakek apa?" tanya Aksa. Kakek hanya tersenyum. Noah dan Yora pun mulai mendekat.
"Selamat malam kakek ..." Yora menyapa.
"Selamat malam, Yora ... Ternyata kalian berdua memang agak mirip." Kakek tersenyum melihatnya. Lisa dan Yora saling berpandangan. Mereka tahu yang di maksud kakek adalah wajah mereka. "Duduklah."
"Sebenarnya ada apa, Kek?" tanya Noah. Mereka sama-sama tidak mengerti kenapa Kakek mengumpulkan mereka berempat. Apa yang akan di katakan kakek pada mereka?
"Kita makan malam saja dulu. Sekalian perkenalan," kata Kakek dengan wajah yang tidak bisa di baca. Walaupun begitu, mereka tetap mengikuti saran kakek untuk menuntaskan makan malam mereka.
..._______...
__ADS_1