
Arka tidak datang?
Tubuh Lisa bagai robot yang mengikuti apa saja yang di katakan oleh penciptanya. Ia mengikuti arahan Aksa untuk masuk ke dalam mobil tanpa protes.
"Kamu pasti bohong. Tentang Arka yang tidak akan datang, pasti bohong. Tidak mungkin dia ingkar janji," kata Lisa yang baru sadar bahwa kemungkinan Aksa sedang mempermainkannya.
Mesin mobil menyala. Kendaraan ini segera menjauh dari rumah keluarga Lisa. Aksa tidak segera menjawab. Karena tanpa sadar dia sudah memberitahu bahwa dirinya mengetahui alasan Arka tidak mungkin menepati janji.
"Mungkin saja begitu, tapi aku tidak bohong jika ingin mengantarmu." Aksa menjawab dengan pandangan tetap menatap lurus ke depan.
"Cih," cibir Lisa. Walaupun dia tidak percaya bahwa Arka akan ingkar janji. Bahkan Aksa juga tidak yakin, tapi dia merasa tidak tenang. Hatinya sejak tadi berdebar dan was-was.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Aksa turun dari mobil lebih dulu. Lisa menyusul turun selanjutnya. Lalu mereka masuk ke dalam ruang sakit.
"Tunggu." Tiba-tiba Lisa ingat sesuatu.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu tidak menyuruhku ganti baju, Aksa?" protes Lisa gusar.
"Kenapa harus ganti baju?" tanya Aksa heran.
"Kamu tidak lihat bajuku sekarang?" tanya Lisa geregetan. Aksa melirik. Lalu melihat Lisa.
"Ya. Lihat. Kenapa?" tanya Aksa asal. Lisa menipiskan bibir.
"Hei, aku hanya memakai baju tidur tahu," ujar Lisa kesal. Ia menunjuk dirinya sendiri. Aksa melirik. Lisa memang masih memakai piyamanya. Jujur, tadi Aksa tidak terpikir untuk menyuruh gadis ini ganti baju terlebih dahulu, karena ia takut tidak akan ada waktu lagi untuk mengantar Lisa jika ia tidak segera bertindak.
"Aku tidak masalah."
"Aku yang masalah tahu," tunjuk Lisa pada dirinya dengan kesal. "Kamu tidak lihat orang-orang tadi terus saja melihat ke arahku dengan pandangan aneh tadi?"
__ADS_1
Aksa melihat ke sekitar. Masih ada beberapa orang yang melihat ke arah mereka memang. Namun Aksa tidak paham apa yang di maksud Lisa.
"Jika aku hanya memakai ini, aku akan di anggap pembantu kamu. Ngerti gak sih?" Lisa gusar. Dia tidak peduli soal pandangan orang. Karena biasanya tidak akan jauh perbedaan trio berandal dengan dirinya. Aksa tergelak mendengar apa yang di ucapkan Lisa.
"Jadi begitu, ya ..."
Lisa menipiskan bibirnya geram.
"Kalau begitu ... jika kita jalan seperti ini, apa kamu masih di anggap pembantu ku?" tanya Aksa seraya menggenggam tangan Lisa. Mata Lisa melebar melihat itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tegur Lisa panik. Dia langsung memaksa tangan Aksa untuk melepas jari-jarinya. Genggaman itu akhirnya terlepas.
"Aku hanya memberi contoh. Memberi solusi." Aksa tersenyum miring.
Sialan.
"Tidak. Karena aku akan memberitahu mereka bahwa kamu adalah tunanganku," ujar Aksa seraya tersenyum menang.
"Tidak lucu," cibir Lisa.
"Ya. Karena yang lucu sudah ada di sini." Aksa meletakkan tangannya yang besar pada kepala Lisa. Mengusap-usap kepala gadis ini seenaknya. Padahal Lisa sudah mencoba menghindar, tapi Aksa justru melingkarkan lengannya pada leher gadis ini.
***
Arka bukan tidak peduli saat Lisa menelepon, tapi dia tidak bisa mendengar karena ponselnya dalam mode senyap. Sejak mamanya terus saja menelepon untuk membujuknya mengikuti kencan buta ini, Arka memilih mode senyap untuk ponselnya.
Liliana tetap teguh mengajak Arka mengobrol.
"Sepertinya aku harus pergi. Aku tidak mau berlama-lama di sini." Arka beranjak pergi dari kursinya. Dia tidak peduli pada Liliana yang menatapnya heran.
__ADS_1
Namun gadis ini justru muncul di samping Arka yang bersiap pulang.
"Kenapa berdiri di situ? Minggir. Motorku mau lewat," usir Arka geregetan.
"Antar aku pulang," kata Liliana.
"Kenapa aku harus mengantarmu pulang? Bukannya kamu datang ke sini naik mobil?" Arka kesal bocah ini merasa sudah sangat dekat.
"Memang, tapi aku suruh sopir rumah pulang, karena aku bilang pada mama kalau kamu yang mengantarku pulang," kata Liliana santai. "Jadi antarkan aku pulang, Arka," todong Liliana.
"Kamu ..." Arka geram. Liliana tetap teguh pada pendirian kalau dia harus di antar pulang. "Oke. Naiklah." Arka terpaksa mengantar gadis ini pulang.
“Horeee!!” Liliana gembira.
**
Sampai detik ini tidak ada kabar apapun dari Arka. Lisa sudah bolak-balik lihat ponsel, tapi nyatanya cowok itu tidak menghubungi. Lisa menghela napas. Tidak sengaja ia menoleh ke samping. Di sana ada Aksa yang masih duduk bersamanya.
"Kenapa kamu enggak pulang?" tanya Lisa heran. Jam besuk hampir habis. Ibu sudah pulang.
"Ya."
"Memangnya kamu enggak pulang? Kenapa jawabannya iya, sih. Seharusnya kan bilang sebentar lagi," gerutu Lisa.
"Karena aku memang tidak ingin pulang,” kata Aksa.
“Kenapa? Mau menginap?” tanya Lisa yang sebenarnya bercanda.
“Ya,” sahut Aksa yang justru membuat Lisa panik.
____
__ADS_1