
Undangan dari kakek Aksa sempat membuat Yora ragu untuk datang. Karena ia tidak ingin terus berharap pada pria itu. Namun apa daya, hubungannya masih belum jelas. Apa ini lanjut atau tidak.
Aksa belum bergerak. Pria itu belum mengatakan apa-apa tentang hubungan mereka ke depannya. Mungkin karena mereka belum dapat waktu yang pas untuk bicara. Bahkan dirinya pun belum berani bicara langsung pada mama soal pembatalan ikatan ini. Juga masih banyak hal lain.
"Datang saja. Aku akan coba mencoba datang dan menemani kamu. Aksa pasti mengerti kalau kamu harus datang karena hubungan kalian masih tunangan," kata Noah saat dia mencoba menelepon pria itu untuk mencari solusi.
Dengan alasan seperti itu, Noah muncul saat makan malam. Keluarganya juga termasuk anggota keluarga Candika. Jadi dia juga mendapat undangan malam ini.
"Tumben Noah muncul?" kata Anggita mama Arka.
"Iya," sahut Noah singkat sambil tersenyum. Noah memang sangat jarang muncul. Namun kali ini ada kakek dan Yora. Dua orang itu yang menggerakkan dia mengupayakan untuk datang.
"Karena kakek yang mengundang, akhirnya kamu datang," ejek Aksa pada sepupunya. Pria ini muncul dari belakang punggungnya. Anggota berlalu setelah ada Aksa.
"Beliau adalah tahta tertinggi. Aku tidak bisa mengabaikan undangan Kakek begitu saja. Nama ku bisa di cabut dari sejarah Candika," canda Noah.
"Tapi aku tahu pasti apa yang membuat kamu muncul di sini," kata Aksa penuh misteri.
Noah melirik. "Apa?"
"Tunangan ku. Yora," bisik Aksa tepat sasaran. Noah menoleh cepat pada Aksa yang berdiri di sampingnya. Pria itu tersenyum karena menebak dengan mudah.
"Aku melakukan untukmu. Kamu tahu, dia gamang untuk bertemu dengan keluarga Candika karena ulah mu," jelas Noah dengan wajah kesal.
"Aku?" tanya Aksa merasa itu tidak benar. Noah menarik kerah kemeja Aksa. Lalu membawanya menjauh dari keramaian orang-orang yang datang untuk makan malam. "Hei, lepaskan aku," desis Aksa terkejut. Namun Noah tidak mempedulikannya. Dia terus membawa Aksa menjauh.
Setelah yakin sepi, Noah melepas cengkeraman pada kerah Aksa.
"Apa yang kau lakukan, Noah?" tanya Aksa sambil merapikan pakaiannya.
"Aku hanya melakukan apa yang patut aku lakukan padamu. Ya. Hubungan kalian berdua tidak jelas," tegas Noah. Aksa mengerutkan kening. "Kalau kamu memilih Lisa, sebaiknya cari cara untuk melepas Yora. Jangan seenaknya berkencan dengan Lisa, tapi hubungan mu dengan dia tidak berubah. Yora butuh ketegasan." Noah marah.
Aksa akhirnya paham.
"Oh, itu." Aksa menurunkan level marahnya karena mengerti keadaan Noah. Pria ini sedang membela gadis yang di cintainya.
"Jangan menganggap enteng perkara ini, Aksa. Karena kamu sudah membuang Yora, tolong di perjelas bagaimana kelanjutan pertunangan kalian. Dia terombang-ambing dengan ketidakjelasan statusnya." Noah mungkin sedang mewakili kata hati gadis itu.
__ADS_1
"Aku tahu."
"Tidak. kamu tidak mengerti Aksa."
"Aku mengerti sudah membuat Yora berada dalam ketidakpastian. Aku butuh waktu," kata Aksa.
"Waktu apa? Kamu sudah membuat hati Yora hancur dengan keputusanmu memberikan hati pada gadis lain, bahkan kamu membiarkan masalah perjodohan ini."
"Aku perlu waktu untuk bicara dengan Yora. Pembicaraan yang panjang. Butuh waktu yang tepat. Karena ini masalah serius." Aksa meminta pengertian Noah.
"Kamu belum mengatakan itu padanya," tuduh Noah.
"Aku sudah mengatakan padanya ingin bicara, tapi sepertinya dia yang ragu untuk bertemu denganku," kata Aksa.
"Dia merasa tidak nyaman jika harus bertemu. Dia tidak ingin berharap lagi. Karena itu dia ragu," kata Noah bisa menjelaskan dengan baik bagaimana keadaan gadis itu.
"Karena keadaan ini, dia pasti canggung. Aku paham. Karena itu aku bilang akan bertanya lagi soal itu padamu. Karena kamulah yang saat ini sandarannya. Aku yakin dia akan kebingungan saat aku hanya bicara berdua dengannya. Jadi cobalah cari waktu yang menurutmu tepat untuk kita berdua bicara."
Noah lupa kalau Aksa sempat menyebut namanya untuk informasi pertemuan mereka berdua.
"Banyak. Kamu akan mendengarnya juga karena aku ingin kita bertiga yang akan membahas soal itu."
Bruk!
"Aw!" keluh suara gadis kesakitan.
Kedua kepala pria ini menoleh cepat ke arah suara.
"Yora!" seru Noah terkejut.
Tadi, Yora yang melihat Noah menarik kerah Aksa tadi tengah mengikuti mereka. Gadis itu yang awalnya hanya menguping, kini ketangkap basah.
Gadis itu sedang duduk di lantai. Sepertinya karena baru saja terpeleset. Noah yang pertama mendekat langsung membantu gadis itu untuk berdiri.
Aksa tidak ikut mendekat karena menurutnya ini waktunya Noah beraksi.
"Kamu tidak apa-apa, Yora?" tanya Noah khawatir.
__ADS_1
"Kakinya sakit. Sepertinya dia terkilir," kata Aksa. Noah langsung memeriksa kaki gadis ini.
"Tidak. Tidak apa-apa." Yora bermaksud menolak. Dia malu karena ketahuan sedang menguping.
"Tidak. Ayo aku bantu untuk duduk. Aku akan memijat kaki kamu." Noah memakai jurus memaksa. Aksa membiarkan mereka mendekat ke sofa. Noah dengan lembut memijat kaki Yora.
"Kamu mendengar pembicaraan kita?" tanya Aksa. Sejak tadi itu yang ia tanyakan. Kepala Yora mengangguk perlahan. Noah masih memijat. "Maaf, karena sudah membuat kamu kebingungan." Aksa tulus mengatakannya.
"T-tidak. Tidak apa-apa," sahut Yora sambil menunduk.
"Katakan saja sejujurnya kalau kamu sakit hati dengan sikap Aksa, Yora. Pria ini tidak akan segera sadar kalau tidak di beritahu langsung olehmu." Noah mengatakan dengan kesal. Yora melebarkan mata terkejut dengan kalimat pria ini.
"A-pa yang Kak Noah katakan?" tanya Yora. Dia jadi tidak nyaman karena Aksa ada masih di sana.
"Aku tidak apa-apa, Yora. Maaf, sudah buat kamu kebingungan." Aksa dengan tulus meminta maaf. Kepala Yora mengangguk. Dia memaklumi pria yang sedang kasmaran ini.
"Cukup, Kak." Yora merasa enakan.
"Sudah mendingan?" tanya Noah menghentikan pijitannya seraya mendongak.
"Iya. Terima kasih Kak."
Noah tersenyum. "Sebenarnya kamu ingin membicarakan apa?" tanya pria ini pada Aksa.
"Tentu saja pembatalan perjodohan ini," kata Aksa tanpa basa-basi. Noah melirik ke gadis itu. Meskipun tadi pupil matanya bergetar saat mendengar kalimat Aksa, gadis itu tampak berusaha kuat menerima. “Jadi posisi Lisa dan Yora jelas.”
“Kamu ingin memperkenalkan Lisa pelan-pelan?” tebak Noah mulai mengerti.
“Ya. Mungkin menggantikan Yora terlebih dahulu,” kata Aksa.
“Lisa harus mengganti Yora lagi? Apa yang ingin kamu lakukan Aksa? Bukankah, sudah cukup kamu menyakiti Yora?” Noah marah. Yora hanya diam. Walaupun hatinya masih ada rasa sakit, ia sudah pasrah.
“Bukan begitu,” bantah Aksa merasa kalah kalau bicara soal Yora dengan Noah. Jadi ia pun memilih mengalah. Mungkin setiap pria akan seperti itu jika membela orang yang di cintainya. Seperti dirinya sendiri yang akan melakukan apapun untuk Lisa.
“Mengganti Yora? Pembatalan tunangan? Ada apa ini?” tanya Allen yang mencari Yora dan yang lainnya. Gadis ini muncul mengejutkan semuanya.
..._____________...
__ADS_1