Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 78 Bocah yang baik


__ADS_3


Lisa menjenguk bapak lagi. Ini sudah kesekian kalinya. Meskipun keadaan mulai tenang karena kondisi bapak mulai sehat, dia justru dalam situasi pelik. Dimana banyak orang yang tahu siapa dia.


 


"Mereka semua mulai tahu tentangmu," kata Arka saat berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Lisa tidak menjawab. Itu bukan pertanyaan. Arka tidak butuh jawaban karena ia sudah mendapat jawabannya. Lisa hanya menoleh sekilas. "Bagaimana denganmu?"


 


"Aku? Kenapa?" tanya Lisa heran.


 


"Di kelilingi pria tampan yang tidak marah saat kamu punya kebohongan besar semacam itu, aku ingin tahu reaksimu."


 


"Apanya yang pria tampan ...” Lisa tergelak. “Reaksi seperti apa yang ingin kamu tahu? Menurutku aku tidak perlu bereaksi banyak. Meskipun jadi tidak setenang dulu, aku bisa lega juga jika mereka tahu sandiwara ini. Apalagi mereka tidak melaporkanku ke polisi karena penipuan," kata Lisa. "Itu fantastis bukan? Aku berbohong tapi tidak ada yang menghukum," canda Lisa membuat Arka menatapnya lurus-lurus. "Aku hanya bercanda," ralat Lisa.


 


Tanpa mereka sadari, Aksa berada di belakang mereka. Sebenarnya ia ingin menjenguk kakek, tapi saat melihat gadis ini, Aksa tanpa sadar mengikuti mereka dan mendengar pembicaraan.


 


"Kamu masih tetap ingin meneruskan sandiwara mu ini?”


 


“ya.”


 


“Padahal aku sudah memberimu penawaran untuk membayar semua biaya rumah sakit Bapak hingga sembuh. Agar kamu lepas dari AKsa," kata Arka ingin marah. Lisa paham itu.


 


"Sudah. Jangan membahas itu. Soal keluargaku, biar aku saja yang berpikir. Oke?" kata Lisa sambil tersenyum.


 


Jadi dia melakukan sandiwara berbahaya itu untuk biaya rumah sakit bapaknya? Aksa mengerjap. Pria ini masih betah mengikuti mereka berdua. Dan Arka ingin menggantikan biaya itu agar Lisa berhenti bersandiwara dan terlepas dariku? Jadi begitu ... Aksa mengusap dagunya. Apa yang bisa Arka lakukan dengan itu?

__ADS_1


 


Mendadak, Lisa menoleh ke belakang. Aksa terkejut dan langsung membelokkan kakinya ke lorong sebelah. Brak! Dan menabrak tempat sampauh karena ingin bersembunyi dari mereka.


 


"Ada apa?" tanya ARka yang ikut menengok ke belakang. Lisa melihat ke sekitar. Lorong di belakang mereka tampak sepi.


 


"Aku merasa kita di ikuti," sahut Lisa. ARka melihat ke sekitar. Ada beberapa orang muncul. Namun Lisa merasa kemungkinan besar bukan mereka yang mengawasinya barusan.


 


Ponsel ARka berdering. Lisa melihat ke samping. Arka bicara dengan orang yang di telepon.


 


"Siapa?" tanya Lisa.


 


"Mama."


 


 


"Seharusnya aku menemanimu menjenguk Bapak," kata ARka menyesal.


 


"Tidak apa-apa. Aku biasa sendirian." Lisa pun melepas kepergian Arka yang bergegas pulang. "Hhh ... Sepi. Tadi padahal sudah senang karena di temani Arka," ucap Lisa sedikit sedih. Namun bola matanya melebar saat melihat Aksa muncul dari lorong si sebelah kanan. "Jadi kamu, yang sejak tadi mengawasi kami?!" tegur Lisa seraya menunjuk Aksa.


 


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak sengaja lewat sini karena ingin menjenguk kakek," kilah Aksa. Lisa menarik tangannya. Dia berpikir sejenak. Di tangan Aksa memang ada buah-buahan.


 


"Ah, benar juga. Kakekmu kan di rawat di rumah sakit ini." Lisa manggut-manggut. Dia urung marah. Aksa menghela napas lega.


 

__ADS_1


"Mau menjenguk bapak?" tanya Aksa.


 


"Ya. Kamu mau kemana?" tanya Lisa saat melihat Aksa mengikutinya.


 


"Karena terlanjur lewat sini dan bertemu denganmu, lebih baik aku ikut denganmu untuk menjenguk bapak," kata Aksa.


 


"Lebih baik? Menurutku lebih baik kamu itu pergi atau kembali ke kakek," usul Lisa bermaksud mengusir Aksa.


 


"Sudah. Ayo menjenguk bapak." Aksa melangkah menarik tangan Lisa yang membawa makanan untuk ibu yang sedang menunggui bapak.


 


“Hei!” Lisa di seret ke ruangan tempat bapak di rawat. Setelah sampai di depan pintu, tangan itu di lepaskan.


 


"Jangan membicarakan banyak hal. Karena jika keluargaku tahu kalau aku melakukan sesuatu yang berbahaya, mereka akan khawatir," pesan Lisa di depan pintu, sebelum mereka masuk.


 


Aksa tersenyum.


 


"Aku tahu, bocah yang baik," kata Aksa seraya meletakkan kepalanya di atas Lisa. Gadis itu mendongak dan mengerjapkan matanya heran.  "Ternyata kamu bukan hanya bocah ingusan. Kamu bocah luar biasa." Tangan Aksa mengelus kepala Lisa yang masih tidak paham ada apa. Dia terheran-heran dengan sikap Aksa yang menyebutnya bocah, tapi tidak ada nada mencemooh di sana.


 


“Lepaskan. Apa yang kamu lakukan?” sungut Lisa.


 


“Tidak ada. Hanya memujimu,” tutur Aksa sembari tersenyum.


______

__ADS_1


__ADS_2