Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 117 Bapak bertanya


__ADS_3

Bapak Lisa yang tengah duduk di ruang tamu keheranan dengan bingkisan yang di bawa Giri. Bahkan saat putranya itu membawa satu bingkisan lagi dan di bawa masuk ke dalam.


 


"Itu tadi apa Gi?" tanya bapak saat Giri baru kembali dari kamar kakaknya.


 


"Kado, Pak," kata Giri.


 


"Kado? Kado apa? Apa Lisa ulang tahun?" tanya Bapak ingin tahu. Bahkan beliau melongok ke arah kamar Lisa.


 


"Bukan."


 


"Terus apa? Kok kayak mau lamaran saja," kata Bapak. Giri ketawa geli.


 


"Iya pokoknya kado aja, Pak. Bukan lamaran," jelas Giri.


 


"Terus kenapa kakakmu itu di kasih kado banyak banget? Atau dapat undian?" tebak Bapak. Masih belum menyerah untuk penasaran.


 


"Bukan. Itu kado dari si Om itu. Eh, si kakak itu Pak." Giri menunjuk Aksa yang ada di luar sedang bersama Lisa.


 


"Siapa itu?" tanya Bapak sambil melongok ke luar dari jendela kaca.


 


"Teman."


 


"Iya? Kok kayak bukan anak sekolahan. Umurnya ini pantes di panggil Om, Gi. Apa bukan pacar bibi mu?" tanya Bapak berpendapat. Sepertinya bapak lupa dengan Aksa.


 


Giri terkekeh.


 

__ADS_1


"Sebentar lagi kan orangnya di suruh masuk sama Lisa. Nanti Bapak interogasi itu orang." Giri memprovokasi. Bapak hanya manggut-manggut saja.


 


...***...


 


Di depan.


 


Lisa sudah selesai menyerahkan pesanan pada pembeli. Ia keluar dan mendapati Aksa yang sedang bicara dengan Bi Sarah.


 


"Halo, Lis," sapa Aksa.


 


"Nah, Lisa sudah selesai. Kamu berhenti bantuin. Sini nampannya. Biar Giri yang bantu. Ayo, masuk." Bi Sarah mempersilakan pria ini untuk masuk.


 


"Ya. Terima kasih," kata Aksa.


 


"Stop." Lisa menjulurkan tangannya.


 


 


"Bi Sarah kembali saja ke belakang. Dia, biar aku yang tangani," kata Lisa memutus Bi Sarah untuk mempedulikan Aksa.


 


"Eh?" Bi Sarah mengerutkan keningnya.


 


"Ayo ke sana," tunjuk Lisa ke arah mobil Aksa dengan dagu dan bola matanya. Aksa tahu Lisa pasti terkejut dia muncul di sini sekarang.


 


"Kopi satu. Teh anget satu." Ibu muncul menahan Bi Sarah untuk mempertanyakan Lisa kenapa tidak menyuruh Aksa masuk.


 


"Ya."

__ADS_1


 


"Oh, apa ... Ini Pak Guru?" tanya Ibu terkejut melihat Aksa di sana. Kiranya ibu masih ingat saat di rumah sakit saat itu pernah bertemu Aksa.


 


"Pak Guru?" tanya Aksa bingung. Bahkan Lisa ikut bingung dan heran ibu menyebut Aksa Pak Guru. Dia menengok ke Lisa untuk bertanya. Giri yang mendengar ibu menduga adalah Pak Guru, tertawa.


 


Lisa langsung menyoroti suara Giri dari dalam rumah. Ia mendelik.


 


Pasti tuh anak yang bilang Aksa ini Pak guru. Awas Ya. batin Lisa. Gadis ini melihat ke Aksa lagi.


 


"Ayo, masuk Pak Guru," ajak ibu. "Lisa. Enggak sopan Pak Guru di suruh berdiri saja. Ayo suruh masuk," perintah ibu dengan manik manik mata tajam.


 


"I-iya. Bu," sahut Lisa asal. Aksa mendelik mendengarnya. Lisa jadi balas mendelik.


 


Memang lebih mirip jadi guru daripada jadi temanku.


 


"Silakan masuk," kata Lisa terpaksa mempersilakan pria ini masuk ke dalam rumah. Aksa sempat terkejut saat melihat ada Bapak yang duduk di ruang tamu.


 


"Oh, ada Bapak." Aksa membungkukkan badan untuk bersikap sopan. Giri sudah masuk ke dalam.


 


"Ini ... Yang di rumah sakit itu?" tanya Bapak mulai ingat. Beliau tidak belum melepas tangan Aksa.


 


"Iya, Pak.”


 


"Pak Guru, Itu kan?" Satu persatu, Bapak mulai bisa mengingat Aksa.


 


Aksa tersenyum tipis. Lagi-lagi ia di tuduh sebagai guru sekolah Lisa. Mau membantah, tapi Lisa memberi kode untuk diam.

__ADS_1


...____...



__ADS_2