Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 161 Akhirnya


__ADS_3

Pengumuman kelulusan Lisa membuat Aksa bersemangat.Tanpa perlu ba-bi-bu lagi, Aksa meminta keluarganya untuk meminang Lisa. Jika di hitung dengan lamaran Aksa waktu itu, ini kedua kalinya.


Lisa pikir Ibu akan terkejut dengan lamaran keluarga Aksa, tapi ternyata pria itu gerak cepat dengan memberitahu ibu lebih dulu.


"Ibu sudah tahu. Jadi jangan khawatir, Lis," kata ibu.


"Oh, ya? Syukurlah." Lisa terkejut ibu sudah tahu. Namun akhirnya lega karena tidak ada yang perlu di cemaskan.


Bahkan hanya selang beberapa hari, Aksa menentukan tanggal pernikahan. Itu membuat keluarga Lisa bahagia juga kelabakan. Namun Aksa sudah menyiapkan semuanya hingga keluarga Lisa tidak perlu melakukan apa-apa. Sedikit membuat tidak nyaman, tapi kakek mengatakan kalau Aksa sudah merencanakan sejak awal semua itu. Akhirnya dengan rasa beribu terima kasih, pesta pernikahan di langsungkan.


Sah!


Pesta pernikahan yang di adakan ballroom hotel, terlihat meriah. Undangan pun datang hingga membuat ballroom padat. Tentu karena ini adalah pesta pernikahan pertama cucu kakek Candika.


Panggung pengantin kosong, karena pengantin perempuan masih berada di dalam ruangan yang di sulap khusus untuk tempat merias.


Lisa duduk menatap cermin di depan. Dia menunggu panggilan dari orang di depan untuk keluar. Ia menatap dirinya sendiri dengan takjub.


Menikah. Tidak terasa aku menikah saja. Padahal di dalam kamus kehidupanku dulu, tidak ada kata menikah setelah lulus. Yang aku inginkan adalah mencari uang yang banyak untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bapak. Setelah selesai semua tentang itu, baru aku menikah dengan pria yang aku cintai dan mencintai aku.

__ADS_1


Ternyata semua itu tidak terwujud. Aku belum bisa mencari uang banyak untuk orangtuaku, pria itu sudah mengajakku menikah. Hhh ... Bagaimana ibu dan bapak ya?


"Allen! All!" panggil seseorang dari luar. Awalnya suara itu dari kejauhan, tapi kemudian terdengar makin dekat. Ceklek! Pintu ruangan Lisa terbuka ... "Allen?" panggil seseorang itu. Namun setelah tahu bahwa ini ruangan rias, dia terkejut. Bahkan Lisa yang menoleh pun ikut terkejut.


Arka.


Mereka saling berpandangan. Beberapa detik tidak ada yang bicara. Hanya tatapan mata yang penuh makna.


"Hai, Lis," sapa Arka lebih dulu.


"Oh, hai," sahut Lisa.


"Aku boleh masuk untuk memberimu selamat?" tanya Arka yang merasa perlu ijin lebih dulu.


Kaki Arka melangkah mendekat. Dengan pakaian yang di kenakan Lisa gadis ini memang tidak banyak bergerak.


"Selamat Lis," ujar Arka seraya mengulurkan tangan. Lisa menerima uluran tangan itu dengan berbagai perasaan. Mereka berjabat tangan. "Sepertinya trio berandal enggak bisa ngajak kamu lagi, Lis. Karena Aksa bisa marah besar," canda Arka.


Lisa tergelak.

__ADS_1


"Ya. Tuh orang bakal menghabisi mereka." Lisa menanggapi juga dengan bercanda. Aksa tergelak. Lisa pun tersenyum.


Awalnya obrolan ini berjalan mulus tanpa sesuatu yang bikin canggung. Sampai Arka memulainya. "Aku iri dengan Aksa. Perjuangannya berhasil membuatnya bisa mendapatkan mu."


Lisa hanya mengerjapkan mata tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia tidak menduga akan mendengar kalimat seperti ini dari Arka tepat saat hari pernikahannya.


"Semoga kamu bahagia, Lis. Jangan lupa, doakan aku juga bahagia," kata Arka sambil tersenyum mengakhiri ucapan selamat ini. Cowok ini. dengan mudah mengatakan hal yang sensitif kemudian beralih dengan membicarakan hal biasa. "Aku pergi. Kalau Aksa tahu aku ada disini, dia pasti marah."


Kemudian Arka berjalan menuju pintu. Namun dia tidak langsung membuka pintu. Kakinya berhenti melangkah. Mendadak cowok ini membalikkan tubuhnya melihat ke arah Lisa.


"Hari ini kamu cantik," kata Arka membuat Lisa terkejut. Arka tersenyum. Seperti puas membuat suasana hati gadis ini berantakan. Lalu keluar dari ruangan.


Lisa menghela napas. "Kenapa dia harus mengatakan hal seperti itu." Beberapa detik pintu ruangan terbuka lagi."


"Lisa, kamu sudah siap?" Muncul Yora dan Liliana dari balik pintu. Lisa mengangguk. "Ayo, kita keluar. Kak Aska sudah tidak sabar untuk melihatmu."


Lisa menghela napas lagi.


"Ya."

__ADS_1


..._____...



__ADS_2