Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 135 Bersama Kakek


__ADS_3

"Lis ..."


 


Karena sejak tadi Lisa tidak mendengar panggilan Aksa, pria ini pun berinisiatif menyentuh lengan Lisa. Mengguncangkan tubuh gadis ini pelan.


 


"I-iya Aksa." Lisa berjingkat. Sepertinya gadis ini benar-benar terkejut.


 


"Ayo. Nyonya Anne sudah pergi," kata Aksa. Lisa baru sadar kalau yang lain sudah berjalan lebih dulu. Sepertinya dia masih larut dalam memikirkan soal Nyonya Anne. "Nyonya Anne tidak tahu siapa kamu."


 


"Aku lega."


 


"Ayo, kita pulang." Aksa meraih pundak gadis ini untuk dekat dengannya. Lalu berjalan beriringan menuju mobil untuk pulang.


 


**


 


Pak Aknam melihat ke arah arloji di pergelangan tangannya dengan cemas. Sekarang jam 14.30. Jadwal berangkat ke makam nenek yaitu sekitar jam 3, tapi batang hidung Aksa belum muncul juga.


 


"Jam berapa sekarang, Aknam?" tanya Kakek yang duduk di sofa.


 


"Emm ... jam setengah tiga, Tuan," jawab Pak Aknam.


 


"Aksa sudah di beritahu kalau melihat makam neneknya bukan?"


 


"Ya, Tuan. Saya sudah memberitahunya."


 


"Apa Aksa bermaksud langsung ke makam dari kantor?"


 


"Tidak, Tuan. Tuan Aksa bilang akan datang ke rumah dulu, lalu sama-sama menuju ke makam bersama Anda." Pak Aknam menerangkan hasil pembicaraannya dengan cucu keluarga Candika.


 


"Lalu kenapa anak itu belum datang? Bukankah datang lebih awal itu penting?"


 


"Benar Tuan."


 


"Hubungi ponselnya dan suruh cepat datang," perintah kakek mulai tidak sabar.


 


"Baik, Tuan." Pak Aknam langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan menelepon Aksa. Dering tunggu berbunyi. Dengan rasa cemas, Pak Aknam menanti teleponnya di terima.


 


"Apa bisa di hubungi cucuku itu?" tanya Kakek.


 


"Maaf, Tuan. Tuan Aksa belum bisa di hubungi," kata Pak Aknam sambil menjauhkan ponselnya dari daun telinga. Wajahnya pun menjadi sedikit panik.


 


"Apa Aksa mendengar dengan jelas kalau hari ini kita akan ke makam?" tanya Kakek Candika mulai tidak sabar.


 


"Saya yakin bahwa Tuan Aksa tahu bahwa punya janji dengan Anda, Tuan," jawab Pak Aknam yakin.

__ADS_1


 


"Lalu kemana anak itu sekarang?" tanya Kakek gusar.


 


"Maafkan aku membuat kakek gelisah." Muncul Aksa dari pintu masuk yang sudah terbuka. Di sampingnya ada Yora. "Aku menjemputnya dulu, Kek."


 


"Oh, Yora cucu menantuku." Kakek tersenyum. "Kemarilah," panggil kakek. Gadis ini mendekat lalu mencium punggung tangan kakek sebagai rasa hormat. Bola mata kakek mengerjap. Beberapa detik terdiam. Namun secepat kilat kakek menyunggingkan senyum.


 


"Kita berangkat sekarang?" tanya Aksa yang mendekat ke Yora dan merengkuh bahu itu dengan lembut. Kakek melirik sebentar ke arah tangan cucunya. Lalu menatap wajah keduanya. Dia melihat cucunya sedang tersenyum padanya. Wajah Aksa tampak lebih ceria daripada biasanya.


 


"Ya. Kita harus segera berangkat ke makam sekarang. Nanti kemalaman disana," ujar kakek setuju. Semuanya pun berjalan keluar. Kakek dengan Pak Aknam juga pengawalnya. Sementara Aksa berdua saja dengan Yora.


 


"Menurut kamu Aknam, apa Aksa benar-benar mencintai putri keluarga Wijaya?" tanya Kakek  tiba-tiba.


 


"Kenapa Tuan bertanya ... Bukannya ini perjodohan. Biasanya perjodohan itu di lakukan tanpa persetujuan orang yang bersangkutan. Dari sana Tuan tahu bagaimana sebenarnya keadaan Tuan Aksa saat di jodohkan," jelas Pak Aknam yang umurnya sama dengan beliau. Nada bicara pria ini terdengar lembut meski berisi kalinya yang tegas.


 


"Jadi apa tidak mungkin mereka bisa jatuh cinta saat di jodohkan?"


 


"Mungkin saat jaman kita dulu, kita selalu terima apa yang di lakukan orangtua untuk kita, tapi jaman sekarang ... mereka bisa melakukan hal yang di luar pemikiran kita, karena ingin memberontak," jelas Pak Aknam.


 


"Aku tahu mereka ingin memberontak, tapi tentu saja mereka lebih takut kepada perintah kakeknya," kata kakek dengan wajah puas. Ada senyum menang di sana. Pak Aknam tersenyum juga.


 


...***...


 


 


"Maaf, belum mengucap selamat untuk kakek," kata Yora.


 


"Selamat? Selamat untuk apa cucuku?" tanya Kakek yang terlibat begitu sayang pada calon istri Aksa ini.


 


"Selamat Kakek sudah terlihat sehat. Kali ini wajah Kakek sangat segar. Tidak seperti saat di rumah sakit, kakek terlihat pucat," kata Yora.


 


"Iya? Kakek memang sudah mendingan. Bagaimana kabar mama kamu? Apa baik?"


 


"Iya Kek. Mama baik-baik saja," kata Yora dengan senyum manis.


 


Krukk!!


 


Kakek terkejut karena suara keroncongan dari perut seseorang.


 


"Kamu lapar, Yora?" tanya Kakek yang menemukan kalau suara itu dari arah gadis ini. Yora tersenyum malu karena tertangkap basah.


 


"S-sepertinya begitu, Kek. Maaf." Wajah Yora memerah malu. Aksa melirik dan tersenyum. Seakan menertawakan gadis itu soal suara nyaring barusan. Yora tahu itu. Bola mata Yora mendelik protes pada Aksa.


 


"Ayo makan. Tidak apa-apa. Tidak usah malu. Semua manusia itu pasti punya rasa lapar. Jadi wajar ... Ayo makan.” Kakek tidak mempermasalahkan suara keroncongan yang mengejutkan tadi. “Ayo Aksa. Buat tunangan kamu ini nyaman untuk makan.”

__ADS_1


 


“Iya Kek. Ayo makan, Yora. Kamu mau makan apa? Aku bisa pesankan jika ada yang kamu inginkan.” Aksa memberi penawaran dengan manis.


 


“Yora cukup makan makanan yang ada di sini, kok.” Yora menyamarkan rasa malunya dengan mencoba tersenyum. Namun ia tidak melepaskan mencuri pandang dari Aksa yang ingin mengerjainya. Pria itu tampak kesenangan sudah mengerjai.


 


Beberapa menit, gadis ini mulai makan dengan nyaman. Sepertinya nafsu makannya sedang tinggi-tingginya. Tidak seperti Yora biasanya. Mungkin ada hal baik yang membuatnya berselera untuk makan.


 


“Kakek senang melihat Yora makan yang banyak,” celetuk kakek. Gadis itu terkejut. Seperti baru sadar kalau dia sedang bersama kakek.


 


“Maafkan Yora, Kek. Yora jadi keenakan makan.” Gadis itu mengambil tisu makan dan mengusap bibirnya. Ia lepas kontrol saat makan. Seperti beberapa hari tidak makan.


 


“Tidak apa-apa namanya juga masih dalam masa pertumbuhan.” Kakek memaklumi. Pelayan datang membawa makanan selanjutnya. Namun kakek heran saat melihat Yora hanya diam saja seraya memandangi steak daging sapi pilihan yang di sajikan. “Ada apa Yora? Ini tidak sesuai dengan selera kamu?” tanya kakek penuh perhatian.


 


“Oh, b-bukan Kakek. Saya bisa makan makanan apa saja. Apalagi daging ini. Daging sapi kan, Ak ... Kak Aksa?” tanya Yora pada Aksa. Pria itu mengangguk.


 


“Iya. Kamu suka?” tanya Aksa.


 


“Tentu,” sahut Yora cepat. Dia memamerkan deretan giginya. Seperti ini adalah makanan paling enak yang akan dia makan. Kakek memperhatikan mereka dengan senyuman bahagia.


 


“Kalau memang ini kesukaanmu, ayo segera makan. Tunggu apalagi. Anak muda harus makan yang banyak,” kata Kakek mempersilakan.


 


“Iya. Terima kasih.” Namun setelah hendak makan, gadis itu kebingungan. Di sana ada garpu dan pisau. Namun gadis ini hanya memakai garpu untuk menusukkan pada daging.


 


“Bukan begitu. Kamu harus memotong ini dulu baru di makan.” Aksa menunjukkan cara makannya dan menusukkan satu potongan. Lalu memberikan pada tangan Yora. “Makanlah.”


 


Gadis itu mengangguk.


 


...****...


 


Acara makan malam usai. Kini Aksa harus mengantar gadis ini pulang.


 


“Mungkin lain kali Kakek akan mengajakmu makan malam lagi,” kata Kakek saat Yora berpamitan pulang.


 


“Terima kasih, Kakek. Semoga Yora tidak membuat kakek bosan dan bikin malu.”


 


“Tentu saja tidak. Kakek senang di temani Yora. Kakek jadi bisa melihat kenangan kakek dengan nenek dulu dengan melihat kalian berdua. Kamu dan Aksa cucu kakek,” kata Kakek.


 


“Jadi benar ya, wajah Yora mirip dengan nenek dulu?” tanya gadis ini. Aksa melirik.


 


“Mmm ... Ya. Agak mirip memang.” Kakek mengiyakan.


 


“Kalau begitu, jika ada orang yang mirip dengan wajah nenek, dia juga bisa menjadi tunangan Aksa?” tanya gadis ini lagi. Aksa menoleh ke samping dengan raut wajah terkejut. Melebarkan mata dengan sejuta tanya.


...______...

__ADS_1



__ADS_2