
Tanpa pikir panjang, sepulang dari rumah keluarga Lisa, kakek langsung menemui Aksa di perusahaan. Ada rasa malu mendengar kata demi kata dari keluarga gadis itu. Seperti cucunya terlalu terburu-buru tanpa memperhatikan adab. Kakek geram.
"Jadi kakek sudah mendatangi rumah Lisa?" tanya Aksa dengan kening mengerut terkejut. Ia tidak menduganya.
"Kakek ini keluargamu. Meskipun kau tidak bilang pada papamu soal gadis ini, seharusnya kamu bilang pada kakek. Memangnya kakek mu ini tidak ada gunanya?" sembur beliau. Seakan cemburu kalau dirinya di kesampingkan.
Aksa menghela napas. Ada rasa lega ternyata kakek bukan menolak pilihannya.
“Kakek juga tahu kalau aku tidak mengatakan apapun pada papa rupanya.” Bibir Aksa tersenyum.
“Sudah kakek bilang, kakek tahu segala hal tentang kamu.” Kakek berkata dengan bangga. Aksa senang.
“Lalu apa selanjutnya?” tanya Aksa ingin tahu tindakan setelah cerita ini.
”Apa?” ketus kakek. Aksa menipiskan bibir.
“Kakek sudah berlagak bertemu dengan keluarga Lisa sendiri tanpa aku, jadi aku tidak terima kalau kakek menolak aku menikah dengan Lisa. Keluarganya sudah pasti berharap banyak kalau akan di temui olehku dan kakek,” tagih Aksa merasa bisa memaksa kakek.
“Tidak. Mereka tidak mengharap pernikahan,” jawab kakek membuat Aksa terkejut.
“Tidak menginginkan pernikahan?” tanya Aksa tidak percaya. “Apa yang kakek lakukan pada keluarga Lisa? Aku yakin kakek menekan mereka untuk menjauh dariku. Aku tidak terima jika itu yang terjadi kakek,” protes Aksa.
“Diam. Mereka lebih paham tentang semuanya daripada kamu yang di mabuk cinta. Bukan kakek yang tidak mau, tapi mereka," tunjuk kakek seraya berdiri. “Ayo kita pulang Aknam.”
“Tunggu. Mau kemana Kakek? Kita belum selesai bicara. Aku ingin pembicaraan kita tuntas, kakek ...” Aksa mengejar tuan Candika.
“Kamu ini! Biarkan kakek pulang. Kamu mau kakek mu ini sakit? Begitu?”
Aksa berdecak. “Bukan begitu." Aksa tidak bisa melakukan apa-apa lagi jika itu menyangkut kesehatan beliau. Jadi ia membiarkan kakek pergi bersama pak Aknam.
Selepas kakek keluar dari ruangannya. Aksa langsung mencari ponselnya. Ia ingin menghubungi ponsel gadis itu. Ia ingin bicara dengan Lisa.
“Kemana dia? Kenapa handphone-nya tidak bisa di hubungi ...” Aksa geram menunggu teleponnya di terima oleh Lisa. “Ah, Lisa. Kemana kamu sekarang?” Aksa tidak sabar. "Apa maksud kakek keluarga Lisa tidak menginginkan pernikahan? Apa mereka marah karena aku terlihat bermain-main dengan lamaran waktu itu?" Gelisah menyerbu Aksa.
Beberapa menit setelah itu.
"Ternyata kakek sudah pulang?” tanya Noah yang melihat ruangan Aksa sepi. Aksa tidak menjawab. “Jangan lupa tentang acara itu. Siap-siap. Kita berangkat sebentar lagi, Aksa,” kata Noah muncul dari balik pintu.
“Pertemuan? Pertemuan apa?” tanya Aksa tidak mengerti. Tangannya yang memegang ponsel, mengambang. Sepertinya otaknya terasa kosong sekarang. Isinya hanya penuh tentang Lisa.
__ADS_1
“Makan siang dengan pihak perusahaan textil itu.”
“Biema? Bukankah sudah pernah?” Aksa ingat dia sudah bertemu dengan pihak sana.
Noah yang akan pergi, urung. “Apa kamu lupa kalau kamu meminta bertemu lagi karena mau berterima kasih?”
“Oh, itu. Ya ... Bisa kamu wakilkan aku? Aku sedang ada urusan mendesak,” pinta Aksa enggan.
“Kamu mabuk?” selidik Noah.
“Apa yang kamu katakan? Tentu saja tidak,” bantah Aksa kesal. Padahal dia sedang gelisah.
“Kalau begitu, tentu kamu tahu ucapan terima kasih itu tidak bisa di wakilkan orang lain. Apalagi kamu sendiri yang mengundang mereka. Akan aneh jika kamu menggagalkan acara yang kamu buat sendiri,” jelas Noah.
“Ck!” Aksa berdecak dengan kesal. Noah memperhatikan. Sesekali Aksa menengok ke layar ponsel. Namun telepon tetap tidak tersambung.
“Apa ada hubungannya dengan kedatangan kakek?” tanya Noah peduli. Aksa mendengus. “Aku tunggu di ruangan, Aksa.”
“Ya,” ujar Aksa pasrah.
...****...
“Sini.”
“Eh, apaan Bi?” tanya Lisa malas. Dia lelah. Ingin langsung ke kamar mandi dan tidur.
“Kakek Aksa tadi ke sini,” kata Bi Sarah memberi tahu dengan pelan.
“Hah?!” Lisa langsung terkejut dan histeris. Mendadak raut wajahnya yang tadi enggan kini berubah.
“Sst ...” Bi Sarah meletakkan jari telunjuk pada bibirnya. Mengingatkan Lisa untuk tidak berisik.
“Kakek Aksa kesini?” ulang Lisa bisik-bisik. Bi Sarah menganggukkan kepala. “Waduh. Terus sama bibi di atasi?” tanya Lisa dengan wajah berharap iya.
“Enggak. Bibi panggil ibu dan bapak mu.”
__ADS_1
“Aghh ... Kok malah panggil mereka? Kan bisa bibi atasi sendiri ...,” keluh Lisa geregetan.
“Atasi sendiri bagaimana? Kalau soal keluarga Aksa ya itu kudu panggil bapak dan ibu kamu. Mungkin kalau Aksa bisa bibi atasi, tapi kalau sudah keluarganya ... Itu urusan orang tua mu.”
Lisa garuk-garuk kepala karena panik. “Terus gimana? Apa yang di katakan kakek Aksa?”
“Kakek itu mungkin enggak bilang sama Aksa kalau ke sini. Semacam sidak begitu. Namun ibumu justru membuatnya bungkam karena perkara lamaran dadakan Aksa.”
“Bungkam?” Lisa tidak paham.
“Ya. Intinya seperti itulah. Lalu Kakek Aksa pulang setelah bicara.”
“Ibu gimana? Apa marah?” tanya Lisa cemas. Ia melongok ke dalam rumah.
“Enggak. Ibu mu tetap bersikap biasanya. Bahkan malah bersikap seakan enggak ada apa-apa,” jelas Bi Sarah seraya mengingat-ingat lagi kejadian tadi.
"Kamu baru pulang?" tegur ibu yang muncul dari pintu belakang. Dua orang yang berbisik ini terkejut.
"Y-ya, Bu," sahut Lisa. Sementara Bi Sarah melihat ke arah lain sambil merapikan rambutnya.
"Cepat mandi lalu makan," kata ibu seraya melirik ke arah Bi Sarah yang masih melihat ke arah lain. lalu beliau kembali masuk ke dalam rumah.
"Iya."
"Gimana? Ibu mu enggak marah, kan?" tanya Bi Sarah.
"Bukan enggak marah, tapi ada yang di tahannya." Lisa paham betul situasi saat ini.
"Jadi marahnya belum keluar?" Bi Sarah penasaran.
"Bukan marah, hanya merasa ada yang tidak nyaman. Sudah. Aku mau mandi dan makan. Mungkin sebentar lagi ibu mau sidang aku."
"Wahh ... Selamat ya, Lis," ucap Bi Sarah menyebalkan. Bahkan saat terkekeh pelan pun jatuhnya makin menyebalkan. Lisa menipiskan bibirnya melihat kelakuan adik bapaknya ini. "Menghadapi orang yang jauh di atas kita memang perlu ketenangan yang lebih, Lis. Bapak ibu mu pasti tahu itu. Terus ... kalau kita terlalu berharap banyak, nantinya kecewa. Jadi mungkin ibu berusaha terlihat tetap berada di tengah-tengah. Tidak terlalu berharap, tapi juga bukan menolak. Kita wajib hati-hati." Bibi mengelus punggung keponakannya.
..._________...
__ADS_1