Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 21 Teman kecil Sera


__ADS_3

Karena sibuk bersembunyi, Lisa benar-benar lupa sama temannya. Dia tidak ingat sedang bersama Sera tadi. Setelah sangat yakin tidak ada Aksa di sekitarnya, Lisa segera keluar dari counter pakaian itu dan mencari Sera.


Setelah beberapa menit mencari gadis itu, akhirnya dia mendapati Sera duduk di sebuah gerai makanan bersama seorang pria. Gadis itu memilih tidak mencari Lisa.


Ini anak cepet banget dapat kenalan.


"Sa!" Sera melambaikan tangan. Lisa menghampirinya. Pria itu menatap Lisa dengan tatapan melihat orang baru. "Kenalin temanku," kata Sera memperkenalkan.


Lisa mengulurkan tangan, tapi pria itu masih saja menatap Lisa. Dia membiarkan tangan Lisa menggantung di sana. Menunggu jabatan tangan. Lisa menatap Sera, mempertanyakan ada apa dengan pria di depannya. Sera menggeleng tidak paham.


"Kak," panggil Sera ke pria itu. Mata pria itu mengerjap.


"Oh, maaf." Akhirnya dia sadar juga. Dan akhirnya tersenyum menyadari dirinya yang sempat bengong.


"Noah." Sebut pria itu sambil menjabat tangan Lisa yang sempat terabaikan.


"Lisa." Lalu Lisa duduk di dekat Sera. Setelah sebelumnya memesan minuman.


"Maaf barusan bengong." Pria itu sadar rupanya kalau dirinya tidak langsung menerima tawaran gadis ini.

__ADS_1


"Enggak apa-apa," sahut Lisa berpura-pura bijak.


"Dia tetanggaku dulu, Sa. Enggak nyangka bisa ketemu lagi setelah lama. Dan Kak Noah juga ternyata masih ingat ke aku," cerita Sera dengan senang. Teman masa kecil rupanya. Lisa manggut-manggut merespon cerita Sera. Lisa melirik ke arah Noah yang masih saja menatapnya.


Lisa meraba rambut. Kemudian berusaha merapikannya. Setelah acara bersembunyi tadi, Lisa tidak membetulkan penampilannya. Pasti saat ini dia dalam kondisi buruk. Makanya laki-laki bernama Noah melihatnya seperti itu.


"Aku mau ke toilet dulu," pamit Sera.


"Aku barengin," kata Lisa.


"Enggak usah, kayak bayi aja. Kamu di sini dulu nemenin kak Noah. Aku masih ingin ngobrol banyak. Jadi tolong jagain." Lalu Sera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ya. Satu kelas," jawab Lisa lalu diam. Obrolan berhenti di situ. Biasanya obrolan terjadi kalau kedua belah pihak saling melontarkan pertanyaan atau cerita. Namun perbincangan terhenti karena Lisa tidak balik tanya.


"Maaf soal tadi." Noah mulai membahas dirinya yang membiarkan tangan Lisa menggantung sambil tersenyum malu.


"O ... tidak masalah." Lisa tersenyum berusaha untuk membuat pria teman masa kecil Sera itu nyaman.


"Kamu seperti seseorang yang aku kenal," ujarnya memberi tahu alasan dia bersikap tidak baik. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu. Lisa akhirnya paham. Mungkin pria di depannya itu mengira Lisa adalah orang itu. Yora.

__ADS_1


"Ya ... kadang kita memang terlihat mirip seperti seseorang. Bukankah kata orang, di dunia ini ada tujuh orang yang berwajah mirip dengan kita meskipun tidak sedarah?" kata Lisa. Noah mengangguk. "Mungkin tadi kamu, eh, kakak berpikir seperti itu," Lisa jadi belibet.


"Panggil Noah saja tidak apa-apa. Aku ini masih muda lho," katanya dengan sedikit bercanda. Laki-laki ini ternyata ramah. Sesuai dengan wajahnya yang lembut sih.


Tidak seperti karakter Aksa yang tegas dan keras.


Lisa jadi teringat dengan calon tunangan palsunya tadi. Ternyata Aksa suka berlebihan dalam merayu perempuan. Mendengar percakapan itu, Lisa yakin Aksa adalah seorang playboy kelas kakap.


Bisa-bisanya Nayora menyukai lelaki semacam itu.


"Kamu terlihat muram. Apa aku membuatmu merasa jenuh?" tegur Noah mengagetkan. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena Lisa sedang melamun. Dia sedang memikirkan Aksa yang tadi sedang bersama kekasihnya. Jadi teguran Noah membuatnya tersadar.


"Tidak mungkin aku jenuh saat sedang bersama lelaki tampan seperti kakak," ujar Lisa jujur bukan maksud menggoda. Namun langsung membuat Noah tergelak. Lisa tidak bohong. Noah memang punya wajah tampan dan terlihat hangat. Lisa memperhatikan wajah Noah. Dia masih tertawa merasa geli dengan perkataan Lisa.


"Kamu cukup berani mengatakan hal semacam itu." Air mata Noah sampai keluar. Dan dengan jari telunjuk, dia mengusapnya. Apa salahnya berkata tentang kebenaran. Yah ... kebenaran yang memang tidak akan berdampak buruk bagi orang lain. Lisa meringis.


______


TUNANGAN PALSU

__ADS_1


__ADS_2