
Ponsel Lisa berdering.
"Sama ibuk suruh beli tepung beras sekalian." Ternyata Giri adik laki-lakinya.
"Iya. Nanti kalau sudah selesai jalan-jalan."
"Sekarang saja. Aku sudah di depan Mall nih."
"Berangkat sendiri kenapa, sih?!" Lisa akhirnya berteriak, tapi segera merendahkan suara karena ada Noah di depannya. Hampir saja dia menunjukkan sifat aslinya di depan orang yang baru di kenalnya. Noah tersenyum geli. Sambil senyum-senyum malu Lisa berbisik gemas ke Giri di telepon.
"Apaan sih. Kamu bisa beli sendiri kan?"
"Arka sedang bersamaku." Lisa langsung berdiri. Noah melihat Lisa yang seperti sedang berakting macam-macam. Ekspresi datar, agak marah, dan meringis malu seperti ketahuan bikin dosa. Gadis yang bersemangat.
"Siapa?" tanya Lisa merasa mendengar sesuatu yang agak aneh. Dahinya berkerut.
"Arka," ulang Giri. Lisa terkejut.
"Kenapa?" tanya Lisa membungkuk meminta ijin untuk menjauh karena ingin lebih leluasa menelpon. Noah mengangguk.
"Kalian menjadi akrab setelah aku tinggal?" Sera datang. Lisa masih berbincang lewat ponselnya.
"Ya, lumayan." Noah tersenyum.
"Dia sedang mencarimu," jawab Giri di seberang dengan serius. What? Sedang apa cowok itu mencariku? Mungkin karena aku lupa bilang terima kasih malam itu. Lisa diam sedang berpikir. Seperti berunding dengan perasaan sendiri.
"Bercanda. Aku tak sengaja ketemu dia pas di jalan raya. Kenapa? Ngarep, kalau dia akan mencarimu? Enggak. Jangan berharap," kata Giri sambil cekikikan di sana. Rupanya dia sedang mengerjai kakaknya. Sialan si Giri. Lisa sudah memikirkan banyak kemungkinan jikalau cowok itu benar-benar mencarinya.
__ADS_1
"Dia tipe cewek yang cuek?" tanya Noah menunjuk Lisa dengan dagunya.
"Iya. Dan juga tipe cewek yang sedikit gila," Sera terkikik. Noah mengangguk. Melihat sekilas gadis tadi mungkin benar dia memang gila tapi dengan cara yang keren.
"Hentikan menjelek-jelekkan ku di depan teman masa kecilmu, Sera." Lisa sudah kembali dari berbincang dengan Giri di telpon. Lalu kembali duduk di kursinya yang tadi.
"Dan aku tidak bisa melupakan bahwa tadi kamu melupakanku Lisa," kata Sera tajam.
"Iya, Soal itu Maaf ...," kata Lisa merasa bersalah. Sera mencebik.
"Aku ada tugas dari ibu. Kamu ikutan gak?" kata Lisa. Sera melirik ke arah Noah ...
"Temanku sebenarnya mau datang. Aku ingin mengenalkan dia ke kalian, tapi kalau kalian tidak bisa menunggunya, tidak apa-apa," kata Noah yang berencana mengajak mereka bertemu dengan temannya.
"Wah, Sebenarnya aku juga ingin ketemu kak. Tapi bagaimana ya ..." Sera merasa berat meninggalkan kakak tampan tetangganya dulu.
"Ya enggak bisalah ... Datang berdua pulang juga berdua. Maaf ya kak, gak bisa lama-lama. Tapi nomor ponselku sudah di simpan kan?" tanya Sera. Noah mengangguk.
"Kakak bisa hubungi aku kalau ada waktu. Kalau enggak, aku yang akan menghubungi kakak. Jadi kakak bisa mampir ke rumah sekalian. Mama pasti senang. Sudah kak ya ... Kita pergi dulu," pamit Sera.
"Aku juga pamit." Lisa ikut mengangguk.
"Oke. Selamat menjadi anak yang baik, Lisa." ucap Noah dengan nada bicaranya yang hangat. Lisa tersenyum.
***
"Dia tampan bukannnn?" Sera mengucapkannya dengan bangga. Padahal di banggakan juga percuma. Itu Noah, bukan dirinya sendiri. Lisa diam. "Orangnya hangat ya?" Sera masih membicarakan makhluk yang sama.
__ADS_1
"Negara kita itu negara tropis. Kita sudah cukup merasa hangat. Jadi kita tidak butuh orang-orang hangat," komentar Lisa dengan pertanyaan-pertanyaan tentang laki-laki itu.
"Apaan sih, Lis. Selalu saja kalau komentar jadi meracau deh. Pertanyaannya apa jawabnya apa. Hmm ... " Sera mencebik.
"Kenapa? Kamu naksir itu laki?" tanya Lisa jutek.
"Tampan sih ... Tapi enggak bisa. Dia sudah cinta sama seseorang." Sera berceloteh. Lisa mengambil tepung beras di rak lalu dimasukkan dalam keranjang belanja.
"Jadi patah hati nih ..." ledek Lisa.
"Enggak, dari awal aku cuma suka karena wajahnya yang tampan. Dia lebih bagus jadi kakakku daripada jadi kekasih," ujar Sera.
"Jangan-jangan wanita yang katanya mirip denganku." Lisa melanjutkan troly belanjaannya ke arah kasir.
"Iya? Tapi masak sih. Muka kamu kan bukan tipe-tipe cewek yang gampang di sukai pria tampan. Jadi enggak mungkin deh." Awalnya Sera percaya, tapi kemudian malah menghina.
"Aku jitak kamu ya ..." Sera cekikikan.
Lisa memang bukan gadis cantik lemah lembut dan gemulai. Jadi mungkin untuk menyukai seorang Lisa butuh waktu agak lama. Jadi orang itu baru paham pesona Lisa yang sangat langka itu. Memangnya hewan purba, di bilang langka.
"Jadi kita enggak jadi belanja nih ..." Sera ingat tujuan awal mereka.
"Belanja kok, belanja ini," tunjuk Lisa ke arah tepung yang di suruh ibu.
"Hhh ... itukan keperluanmu. Gara-gara acara petak umpet itu nih..." Sera masih saja ingat soal itu. Lisa ketawa garing.
_____
__ADS_1
TUNANGAN PALSU