
"Kenapa ikut nonton basket?" sembur Lisa yang heran Aksa juga nonton bersama Allen. Ia melirik pria ini sebentar. Sebenarnya dia sudah membungkam mulutnya sejak tadi, tapi akhirnya tidak tahan karena ini sangat mengganggunya. Dia tidak bisa bebas bersama Arka nantinya.
"Mungkin kamu tidak tahu. Aku dulu pemain basket. Jadi aku juga tertarik untuk menontonnya lagi," kata Aksa pamer.
"Tapi di sini enggak ada om-om yang ikut nonton,” ejek Lisa.
"Jika di hitung dari umur, kamu dan aku. Juga semua anak-anak SMA di sini, kamu itu pantas di panggil Om." Tangan Lisa bergerak menunjuk Aksa dan orang-orang yang nonton.
***
Kenapa Aksa jadi ikut-ikutan gemar nonton basket sih? Aku kan jadi enggak tenang, gerutu Lisa di dalam hati.
Pintu toilet di belakang Lisa terbuka. Allen keluar dari sana dan mendekat ke cermin wastafel. Lisa berhenti memegangi poninya.
"Kakak sadar enggak, kalau kak Aksa jadi berbeda?" tanya Allen yang melihat ke arah tangannya sendiri.
"Sekarang lebih lunak."
Lunak? Memangnya ikan? "Aku enggak paham," kata Lisa.
"Mungkin kak Yora enggak tahu, kalau kak Aksa itu sangat tidak suka hal-hal yang berbau kekanak-kanakan."
Soal itu. Aku tahu itu. Dia membenciku karena aku bocah. Maka dari itu dia tidak tertarik pada Nayora.
"Dia paling enggak suka di suruh nemenin aku dalam kegiatan anak-anak seperti sekarang. Dia paling anti. Kak Aksa itu sebenarnya menyayangiku meskipun seringkali enggak nunjukin.” Allen terlihat memaksakan saat bicara ini. Lisa merasa menemukan sesuatu.
“Dia ogah banget saat papa suruh anterin aku kesana kemari. Padahal mungkin maksud papa supaya dekat sama aku. Kan saudaraku hanya kak Aksa. Mungkin karena usia kita terpaut jauh jadi kita tidak dekat,” lanjut Allen.
Lisa mengerjapkan mata. Ini pembicaraan serius sepertinya.
"Jadi saat ada kak Arka muncul, aku bahagia. Karena ada saudara yang sebaya. Jadi otomatis aku dekat dengan kak Arka. Namun ternyata Kak Aksa tidak suka karena mama Anggita adalah orang ketiga yang merusak hubungan papa dan mama kandung Allen. Aku tahu itu, tapi aku enggak bisa bersikap dingin pada Kak Arka. Karena kau senang akhirnya dapat saudara yang sebaya.”
__ADS_1
"Aku rasa sikap kamu tepat. Mungkin juga Arka sebenarnya tidak setuju masuk ke dalam keluarga kalian, tapi dia harus menghormati keputusan mamanya. Jadi kamu enggak boleh bersikap memusuhinya." Lisa belum pernah membahas soal Arka sebagai saudara tiri, tapi dia yakin cowok itu begitu.
“Dan barusan, aku merasa Kak Aksa melunak. Buktinya dia sendiri yang menawarkan diri untuk mengantar kita,” kata Allen bahagia.
“Ya. Benar,” sahut Lisa ikut bahagia. Walaupun mungkin Aksa datang seperti yang dia bilang tadi. Dia juga suka basket karena dulu jadi pemain basket. Namun Lisa tidak perlu membuyarkan kebahagiaan gadis ini bukan?
**
Saat di tinggal Lisa dan adiknya, ternyata Aksa sibuk dengan ponselnya. Ada pesan masuk dari Tiara.
“Maaf, soal aku yang marah. Namun kamu juga perlu ngerti kalau kamu enggak bisa begitu ke aku.”
Aksa menghela napas. Tiara masih membahas itu. Padahal pria ini sudah lupa. Aksa memilih menutup ponsel dan tetap melihat ke lapangan. Sesekali ia melongok ke lantai bawah.
Aksa tidak sabar. Ia memilih turun dan mencari mereka berdua.
Pas di lantai bawah dekat pintu keluar, ada Trio berandal yang lewat. Melihat Aksa berjalan sendirian di sana, Nero nyamperin.
“Halo,” sapa Nero yang masih memakai kostim basketnya. Aksa menoleh. Dia mengerjap mata lalu mengangguk. Pria ini lupa tentang mereka. “Kita yang ketemu di lapangan basket itu.” Nero mengingatkan. “Temannya Arka kan?”
Saat menyebut nama Arka ini, Aksa baru ingat.
“Oh, ya. Kalian teman Arka?”
“Benar.”
“Satu tim juga?” tunjuk Aksa pada kostum yang di pakai Nero
“Benar.” Nero menjentikkan jarinya. “Datang sendiri aja?” tanya Nero seraya melihat ke sekeliling. Pria ini nampak sendirian.
“Tidak. Aku datang bersama adik dan tunanganku,” jawab Aksa.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Ya. Aku sedang mencari mereka.”
“Oke. Aku akan kasih tahu Arka nanti kalau ketemu kalian.”
Aksa berjalan lagi menuju toilet meneruskan pencariannya.
“Jadi Arka enggak pernah bilang kalau dia punya saudara. Aku seperti teman ya ...” gumam Aksa. Di depannya muncul Lisa dan Allen. Hhh ... Aksa menghentikan kakinya dan menghela napas.
"Kak Aksa. Kenapa kesini? Mau ke toilet juga?" tanya Allen heran.
"Ya," sahut Aksa bohong.
"Karena kita sudah di bawah, sekalian samperin kak Arka yok," ajak Allen. Namun sejurus kemudian Allen ingat soal Aksa yang tidak akrab dengan Arka. "Oh, enggak jadi. Kita balik ke tempat tadi aja. Sepertinya kak Arka sudah mau tanding sekarang."
Lisa melirik. Dia tahu Allen berusaha menghindari suasana tidak nyaman. Lisa sebenarnya juga enggan kesana saat dirinya bersama pria ini. Bahkan saat menjadi Yora. Namun ia ingin sedikit mengabulkan keinginan gadis yang ternyata punya kisah sedih ini.
"Seperti kata Allen. Sebaiknya kita samperin Arka juga. Sekalian kasih dia semangat untuk tanding," usul Lisa. Aksa melihat gadis ini lurus-lurus.
"Aku mau ke toilet dulu," kata Aksa tiba-tiba. Letak toilet pria di sebelah kanan toilet wanita. Lisa mengikuti pria itu yang langsung pergi dari hadapan mereka. Lalu menaikkan alis merasa Aksa enggan. Namun dia tidak peduli.
Ponsel Allen berdering.
"Ya." Gadis itu berjalan menjauh dari Lisa untuk menerima telepon. Lisa berjalan mendekat ke dinding gedung. Menunggu dua orang di sana menyelesaikan keperluannya.
“Lisa. Kamu datang?” Arka yang melewati lorong di depan toilet, menemukan Lisa di sana. Lisa terkejut. “Aku senang kamu ...” Belum selesai kalimat Arka, Aksa muncul dari pintu toilet. Dan ia menemukan Allen yang membalikkan badan selesai menelepon.
“Halo Kak Arka,” sapa Allen.
______
__ADS_1