Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 32 Rumah keluarga Candika


__ADS_3


Arka muncul di rumah besar keluarga Candika. Ia menuruti kata-kata mamanya yang meminta ia tinggal.


"Kamu datang, sayang?" sambut Anggita saat Arka muncul. Semua orang yang ada di meja makan menoleh. Arka mengangguk. Tas ransel di punggungnya masih menggantung. Ia baru saja pulang sekolah.


"Ini jam berapa? Kenapa kamu baru pulang sekolah?" tanya Adiwangsa dengan suara menggertak.


"Ada ekskul basket. Sebentar lagi ada kompetisi," jelas Arka dengan wajah menunduk.


"Oh, ya? Kakak bakal ikut event itu?" Allen langsung antusias. Dia paling suka dengan cowok basket. Arka mengangguk seraya mendekat ke kursi. "Aku wajib nonton."


"Basket. Seharusnya kamu les, bukan ikutan kegiatan semacam itu." Adiwangsa masih mengomel.


"Papa ... Arka juga sedang berusaha untuk jadi yang terbaik." Anggita berusaha membela putranya.


"Terbaik apa? Memangnya basket bisa mendukung perusahaan?" tanya Adiwangsa terus terang.


"Sebaiknya biarkan Arka makan dulu, Pa." Aksa ikut bicara. Dia juga tidak suka suasana tidak nyaman di meja makan. Bisa-bisa dia tidak berselera untuk makan. Anggita memberi kode Arka untuk segera duduk. Anak muda ini pun duduk di dekat Allen.


"Karena kamu kompeten dalam menjalankan perusahaan, bukan berarti kamu bisa menyela Papa bicara, Aksa." Papa malah menegur Aksa. "Papa tahu apa yang kamu lakukan di luar sana."


"Begitu? Jadi papa tahu kalau aku juga seperti papa yang suka main dengan banyak perempuan?" ejek Aksa. Anggita langsung terdiam. Arka kesal. Aksa pasti membicarakan soal mamanya yang menjadi istri kedua Adiwangsa.


Allen menarik ujung kemeja Arka untuk tidak berdiri. Dia tahu cowok ini akan pergi dengan marah. Arka menoleh ke samping. Allen menggelengkan kepala. Berwajah memohon pada Arka untuk tidak pergi.


Dari sekian banyak orang di dalam ruang makan ini, Allen lah yang terlihat normal. Dia gadis baik yang kadang bicara sengit. Itu gaya bicaranya saja. Dia tidak pernah berniat buruk.


Arka urung keluar dari ruang makan. Jari-jarinya mengepal.


"Ayo makan," bisik Allen berusaha mengalihkan perhatian Arka. "Banyak makanan kesukaan Kak Arka." Bibir Arka tersenyum saat gadis yang duduk di kelas 1 SMA ini mengambilkan makanan untuknya.

__ADS_1


"Terima kasih," bisik Arka mengikuti gaya bicara Allen barusan.


***


"Arka sudah kembali ke rumah om?" tanya Noah yang di temani Aksa di cafe dekat alun-alun kota. Malam ini Aksa tidak mendatangi para wanitanya. Dia absen.


"Ya. Bocah itu muncul."


"Walaupun bukan kandung, kasihan juga jika dia tidak tinggal dengan Tante Anggita dan keluargamu."


"Bukan kita tidak menerima kedatangan bocah itu. Dia sendiri yang tidak ingin tinggal dengan kita. Arka tahu diri, dia tidak pantas tinggal di rumah karena bukan anak Papa." Aksa meneguk minuman dari gelas ditangannya.


"Dia masih muda, tapi mengerti soal itu." Noah mengerti sikap Arka.


"Seharusnya memang begitu."


"Apa kamu pikir Om Adi akan memberinya tempat di perusahaan?"


"Kenapa?" tanya Aksa masih sibuk meneguk minumannya.


"Kamu tidak setuju? Kamu bagian dari keluarga Candika juga bukan?"


"Aku tidak peduli soal itu. Arka anak yang cerdas. Memungkinkan jika berada di perusahaan saat lulus nanti. Bahkan dia bukan pria yang senang bermain dengan seribu wanita sepertimu. Itu nilai plus untuknya." Noah mencemooh Aksa terang-terangan.


"Sialan."


"Oh, ya? Bagaimana kabar Yora?"


"Gadis itu?" tanya Aksa heran.


"Iya. Apa kau punya wanita lain selain Nayora yang aku kenal sebagai tunanganmu?"

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya mengenal satu gadis naif bernama Yora."


"Yora tidak naif. Dia hanya tulus mencintaimu. Kamu yang tidak perasa, Aksa." Mendengar Aksa menyebutnya naif yang sama artinya dengan bodoh, menurut Aksa ... Noah tidak setuju. Di langsung mengeluarkan taringnya.


"Kau terlihat aneh, Noah. Marah karena aku bicara soal Yora?" tegur Aksa mengingatkan Noah akan posisi dirinya.


"Aku hanya tidak setuju karena tahu dia itu baik," jelas Noah tidak ingin perasaannya pada Yora ketahuan.


"Tapi tetap saja dia gadis yang tidak menarik." Seperti biasa, Aksa mengatakannya dengan wajah malas.


**


Noah keluar lebih dulu dari pintu cafe. Di susul oleh Aksa di belakangnya.


"Sungguh aneh jika melihatmu memilih menemaniku di sini, daripada menemui wanita-wanitamu, Aksa." Noah tersenyum mengejek.


"Hari ini aku sedang lelah jika bertemu dengan wanita." Aksa menghela napas. Noah tergelak seraya menepuk bahu sepupunya. Mereka berjalan menuju ke mobil milik Noah. Namun bola mata mereka tertambat dengan keberadaan Arka lapangan basket di seberang.


"Hei, itu Arka. Dia senang main basket rupanya." Noah tersenyum melihat Arka aktif. Seperti melihat adik sendiri.


"Padahal dia pulang terlambat karena ekskul basket, sekarang dia masih terus main basket?" Aksa tidak percaya.


"Apakah ada kompetisi?"


"Ya. Bocah itu bilang mau ada kompetisi."


"Sebaiknya kita ke sana sebentar." Noah bersemangat.


"Kesana?" tanya Aksa menunjuk lapangan basket dengan wajah enggan.


"Iya."

__ADS_1


_____


TUNANGAN PALSU


__ADS_2