
Meskipun banyak hal tidak menyenangkan terjadi di pesta ulang tahun perusahaan, tapi Lisa ingin berterima kasih pada Aksa. Berkat dirinya, resto tempat ia bekerja mendapat banyak hasil. Bahkan kata pemilik resto, perusahaan itu membayar lebih. Jadi dia juga mendapat bonus yang lumayan.
Lisa tidak bisa memungkiri itu berkat ulah Aksa. Jadi ia ingin berterima kasih. Sepulang sekolah, ia mendatangi kantor pria itu. Tentu tidak dengan memakai seragam sekolah. Dia tidak ingin begitu mencolok. Ia memakai jumper untuk menutup seragam sekolahnya.
Sejak tadi, ia seliweran di depan gedung perusahaan. Sebenarnya ia bisa menelepon pria itu, tapi urung. Ia tidak ingin Aksa punya ide aneh-aneh kalau ia menelepon pria itu lebih dulu. Karena dia juga masih gamang. Bertemu pria itu atau tidak.
“Bukankah itu ...,” gumam Noah yang saat itu tengah melintas. Dari dalam gedung ia melihat gadis itu berdiri dengan raut wajah tengah berpikir. Awalnya ia ingin segera menjauh dan mengabaikan. Namun ia ingat ada seseorang yang sangat ingin bertemu dengan gadis itu. Pria yang sok memungkiri kalau sekarang sedang tergila-gila dengan bocah. Akhirnya kaki Noah keluar menghampiri gadis itu. “Lisa!” panggil Noah.
Mendengar namanya di panggil, Lisa menoleh. Dan terkejut saat melihat itu Noah. Dia tidak menduga kalau akan bertemu orang lain selain Aksa. Padahal dia sudah urung untuk menemui Aksa. Apa yang ada di dalam pikiran Lisa kali ini hanya Aksa?
Kenapa pria itu? Lisa panik. Ia tidak ingin bertemu siapa-siapa, kecuali Aksa.
“Kenapa mondar-mandir?” tanya Noah.
“Emm ... Tidak ada. Permisi ya Kak, aku mau pulang.” Karena sangat takut kehilangan jejak gadis itu, Noah menangkap tangan Lisa. Namun setelah itu ia melepaskan. Karena ia tahu bagaimana reaksi Aksa saat melihat dirinya memegang tangan gadis ini. Pria itu akan marah.
“Maaf. Aku pikir kamu mau menemui Aksa. Apa aku salah?” tanya Noah. Tidak ada lagi alasan gadis ini ke perusahaan ini kecuali Aksa. Juga tidak mungkin alasan itu adalah Arka.
__ADS_1
“E, itu ... Iya, tapi enggak jadi.”
“Kita bisa bicara sebentar? Sepertinya lama sekali kita tidak bertemu. Aku ingin bicara soal Yora.” Noah menambahkan nama ini untuk mencegah Lisa. Dia yang tahu Noah punya rasa spesial untuk gadis itu, akhirnya berhenti dan membalikkan badan. “Kita ke kantin perusahaan.” Noah langsung memilih tempat bicara.
Kenapa kantin perusahaan?
Lisa bisa menolak dengan tegas, tapi dia sungkan pada Noah yang menurutnya baik.
...***...
“Menurutmu bagaimana seharusnya aku mendekati Yora?” tanya Noah tanpa basa-basi. Lisa mengerutkan kening.
“Maaf, Kak. Aku tidak paham. Lagipula kak Noah lebih tahu segalanya tentang Yora. Jadi itu bisa jadi senjata untuk mendekatinya,” jawab Lisa. Dia heran pria ini bertanya cara mendekati Yora. Itu pertanyaan aneh buatnya.
“Yora masih mencintai Aksa. Dia tidak peduli denganku. Yora tahu bahwa Aksa berkencan dengan Tiara. Namun dia tetap memilih Aksa.” Noah tidak percaya.
“Itu tidak akan lama. Yora kurang paham soal Aksa.”
__ADS_1
“Aku rasa ... Sebaiknya Kak Noah jangan menyembunyikan perasaan ke Yora. Lebih baik tunjukkan saja. Kasih perhatian. Mungkin dengan begitu, dia akan tahu siapa yang menyayanginya.”
Noah menghela napas.
“Padahal pria itu tidak peduli padanya,” kata Lisa tahu benar bagaimana Aksa pada gadis itu. “Sebaiknya Kak Noah lebih berusaha. Kasihan juga kalau dia terus memikirkan Aksa.”
“Aku tidak akan menang melawan Aksa.”
“Tidak. Aku rasa kak Noah bisa menang kalau menunjukkan sikap sayang pada Yora dengan tegas. Aksa sih, hanya wajah tampannya saja yang unggul.”
Noah tergelak. “Ya. Itu benar.”
“Benar. Aku tidak peduli pada Yora,” kata suara bariton di belakang mereka. Itu Aksa. Lisa mendehem sebentar. Guna menetralkan suaranya yang mendadak akan lenyap karena terkejut Aksa muncul di antara mereka.
..._____...
__ADS_1