Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 112 Dia Lisa


__ADS_3

Sehari setelah pengakuan Aksa di ruangannya.


 


Ini pagi hari yang indah. Hari libur.


 


“Kenapa makan kamu sekarang sedikit, Yora?” tanya nyonya Anne. Yora diam tidak menjawab. Maya menoleh. Sepertinya gadis itu tidak mendengar teguran mamanya. “Yora. Mama sedang bertanya padamu.” Nyonya Anne mengulang pertanyaannya.


 


“Nona Yora. Nyonya sedang bertanya,” kata Maya yang sedang berdiri di dekat gadis ini membantu beliau.


 


“Ah, Maya. Ada apa?” tanya Yora mendongakkan kepala. Tubuh gadis itu berjingkat pelan. Dia seperti terbangun dari mimpinya.


 


“Nyonya Anne sedang bertanya padamu,” ujar Maya mengulang pertanyaan dengan lembut.


 


“Oh, mama. Ada apa Ma?” Yora beralih kepada Nyonya Anne yang dengan sabar melihat ke arah putrinya.


 


“Ada yang mengganggu pikiran kamu?”


 


“Tidak. Tidak ada,” jawab Yora cepat.


 


“Lalu kenapa makan kamu sedikit? Bibi sudah memasak yang enak untuk kamu. Bahkan ini kesukaanmu. Lalu kenapa kamu tidak menyentuh makananmu sedikit pun?” tunjuk Nyonya Anne pada piring Yora yang masih utuh dengan bola mata beliau.


 


Yora menundukkan pandangan untuk melihat piringnya. Dia belum makan apapun! Apa yang di lakukannya sejak tadi? Padahal tangannya memegang sendok. Bahkan itu sudah beberapa menit yang lalu. Yang ia makan hanya ujung sayuran. Apakah itu pantas disebut makan?


 

__ADS_1


“Oh, maaf mama. Yora agak kenyang.” Yora mengatakannya dengan takut-takut.


 


“Kenyang apa? Pagi ini kamu belum makan apapun. Roti atau minum susu pun tidak.”


 


“Aku bukan anak kecil, Ma. Aku enggak mau minum susu.” Yora tersinggung mama menyebut minum susu. Itu membuatnya makin terlihat mirip bocah. Dan ... Aksa tidak suka itu. Namun kenapa di justru memilih Lisa yang juga seumuran dengannya uang masih bocah?


 


Cinta itu unik.


 


...***...


 


Yora mencoba membawa camilan ke lantai atas. Dia duduk di balkon. Menghadap ke area belakang rumah.


 


Maya yang sejak tadi malam ingin menanyakan sesuatu, naik ke lantai atas. Perempuan muda ini menghampiri Yora dengan membawa segelas jus.


 


 


“Ah ... Aku senang kamu membawakannya untukku.” Yora ternyata menyukai jus apel yang di bawa Maya. Lalu ia mendekat ke balkon. Menyerahkan gelas pada Yora lalu melongok ke lantai bawah.


 


“Suasana pagi ini indah sekali. Kamu tidak ingin pergi keluar atau kemana, begitu?” Maya menawarkan sebuah ajakan. Dia memberi kode pada Maya untuk menunggu. Karena Yora masih meneguk jus itu.


 


“Hhh ... Aku tidak ingin pergi kemana-mana, Maya.” Yora mulai mengeluarkan suaranya setelah puas meneguk jus setengah gelas.


 


“Ini cuaca yang bagus untuk berkunjung atau kencan. Apa kamu tidak ada jadwal kencan dengan tunangan mu?” tanya Maya. Yora menggeleng lemah.

__ADS_1


 


“Kamu tahu, Kak Aksa bukanlah tunangan yang sesungguhnya.”


 


“Kalau bukan sesungguhnya, lalu apa?” Maya menghampiri kursi dan duduk di dekat gadis ini.


 


“Pertunangan ini hanya untukku. Bukan kita berdua. Kamu tahu Kak Aksa tidak mencintaiku,” ujar Yora mulai terbuka.


 


“Maksudnya ... “


 


“Kak Aksa tidak pernah menginginkan pertunangan ini. Semuanya itu hanya obsesiku semata.”


 


“Walaupun begitu, bukannya kamu tetap tunangan pria itu?”


 


“Iya, tapi aku tidak ingin memaksanya.”


 


“Jadi kamu ingin menyerah pada Aksa?” selidik Maya. Yora diam sejenak. Kemudian mengangguk. “Namun dia tetap harus peduli padamu karena status kalian.”


 


“Dia tidak akan peduli padaku, Maya. Dia sudah mencintai orang lain.” Yora mengatakan ini dengan wajah ingin menangis.


 


“Oh, perempuan itu? Tiara?” tanya Maya yang memang sudah tahu kalau perempuan itulah yang paling istimewa di antara perempuan yang dekat dengan Aksa


 


“Bukan. Dia Lisa,” sebut Yora ingin menghentikan pemikiran Maya bahwa wanita yang suka mendesain pakaian itu adalah orang yang di cintai Aksa.

__ADS_1


...____...



__ADS_2