Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 72


__ADS_3


Ternyata Aksa memilih pergi karena Dia enggan berada di sana karena masih kesal soal jas miliknya.


 


Jika wanita lain berupaya membuat dia raja, gadis yang masih duduk di bangku SMA itu bahkan memilih melemparkan jas yang ia pakai kan pada gadis itu. Semuanya membuat Aksa geram.


 


Walaupun begitu, dia merasa dirinya sendiri menjadi bocah. Mirip dengan Lisa. Itu membuatnya merasa konyol. Karena sebuah jas yang di pilihkan mamanya waktu itu, ia marah. Bukankah itu sikap tidak dewasa?


 


"Apa kamu bertemu anak-anak barusan?" tanya Arka yang melihat Lisa masih saja melihat ke arah lain agak lama.


 


"Ah, tidak. Ayo, kita main game." Lisa menarik tangan Arka.


 


***


 


"Katanya tadi mau pergi, kok sekarang balik lagi ke sini sih, Kak?" tanya Allen heran. Aksa mengajak adik perempuannya itu untuk kembali ke tempat Lisa berada tadi.


 


"Iya," sahut Aksa singkat tanpa menjawab dengan jelas. Dia sibuk mencari gadis itu.


 


"Sebenarnya Kak Aksa ini nyari apa, sih?" tanya Allen yang sadar kakaknya mencurigakan.


 


"Tidak ada," jawab Aksa cepat. " Ayo kita pergi," ajaknya kemudian membuat Allen heran.


 


Sebenarnya Kak Aksa kenapa sih?


 


"Aku mau makan ikan gurami," tunjuk Allen senang ke outlet makanan. Aksa sebenarnya enggan, tapi saat dia melihat ke game center di seberang, ia melihat ada Lisa dan Arka di sana.

__ADS_1


 


"Oke. Ayo, kita makan," ajak Aksa antusias.


 


**


 


Dari kejauhan, tampak Lisa selalu tertawa. Sepertinya ini juga menular pada Arka yang seringkali tampak dingin saat di rumah. Cowok ini tampak lebih rileks berada di luar.


 


"Kakak enggak makan?" tanya Allen yang melihat Aksa hanya diam.


 


"Ya. Makan." Aksa segera menyendok makanannya. Namun bola matanya tetap lurus ke depan.


 


"Lagi liatin apa, sih?" Allen penasaran. Dia hendak berbalik, tapi Aksa segera menahan kepala gadis ini. "Hei! Lepaskan tangan kak Aksa dari kepalaku!" protes Allen.


 


 


"Apaan sih?" Allen masih tidak mengerti.


 


"Janji kalau kamu makan dengan tenang?" tanya Aksa.


 


"Iya, iya. Aku akan makan dengan tenang." Setelah Allen mengatakan itu, Aksa melepas tangannya yang menahan kepala Allen menoleh kemana-mana.


 


"Kak Aksa kenapa sih? Hari ini aneh, deh. Allen jadi penasaran." Wajah Allen menyelidik. Dia memperhatikan Aksa dengan baik.


 


"Sok jadi detektif," cibir Aksa dengan jenaka. Allen melipat bibirnya. Membalas cibiran Aksa. Sepertinya usaha tadi manjur. Allen tidak lagi ingin menoleh ke belakang. Dia asyik makan lagi ikannya dengan senang.


 

__ADS_1


Bola mata Aksa tetap memperhatikan di seberang sana. Dimana Arka masih bersenda gurau dengan Lisa.


 


Jujur, Aksa agak tertarik. Kalimat-kalimat Biema di resto puncak kala itu membawa angin baru di dalam otaknya.


 


Ternyata tidak seburuk itu dekat dengan seorang bocah. Bahkan mereka sampai pada jenjang pernikahan. Itu benar-benar suatu hal baru di otak pria ini.


 


"Siapa?" Tiba-tiba Allen menoleh ke belakang. Ini sungguh di luar dugaan Aksa yang fokus ke depan.


"Hei!" tegur Aksa.


"Sepertinya itu Kak Arka ya? Lalu yang bersama dengannya itu siapa?"


 


Bersamaan dengan kepala Allen yang menoleh ke belakang, Lisa sudah memakai jumper-nya. Jadi tidak terlihat jelas dari tempat mereka makan siapa gadis yang bersama Arka.


 


"Pasti itu Lisa," kata Allen sok tahu. Aksa terkejut.


 


"Lisa?" Aksa menyebut nama itu lagi. Dia terkejut nama gadis itu disebut oleh adiknya.


 


"Ya. Kakak pernah dengar nama itu?" tanya Allen. Kepala Aksa menggeleng.


 


"Lalu ... kamu sendiri memangnya kamu tahu siapa Lisa itu?" tanya Aksa sangat penasaran.


 


"Aku dengar itu kekasih Kak Arka, tapi aku belum pernah bertemu langsung sih ... Hanya dengar namanya saja." Allen menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


 


Aksa menghela napas


_______

__ADS_1


__ADS_2