
Setelah berdebat soal beli atau hanya mengganti kancing yang baru, Lisan akhirnya kalah dan mendapat seragam baru. Padahal menurutnya, itu masih bisa menjadi seragamnya untuk tahun depan. Namun Aksa tidak ingin memilih jalan yang susah. Ia meminta sekretarisnya untuk membelikan seragam baru untuk Lisa dan mengantarkan gadis itu pulang.
Setelah kejadian itu, Noah tetap belum yakin. Dia masih bingung soal Yora palsu dan asli. Meskipun dia tidak menyangkal banyak perbedaan dari diri Lisa dengan Yora, Noah masih tidak bisa sepenuhnya yakin.
"Aku akan mengajakmu bertemu dengan Lisa. Bukan Lisa yang duduk di ruanganku kemarin, tapi Lisa dengan dunianya sendiri. Kamu akan mengerti," janji Aksa.
**
Noah terheran-heran saat mobil mereka berhenti di depan lapangan basket.
"Tumben kamu mengajak ke lapangan basket, Aksa," ujar Noah dengan dengusan lucu sekaligus senang.
"Karena aku akan menunjukkan sesuatu padamu," kata Aksa seraya menatap lurus ke depan. Ia fokus pada kerumunan anak-anak muda yang ada di lapangan basket malam ini. Noah tidak mengerti. Namun dia yakin ada satu hal serius yang akan terjadi. Jadi Noah ikut saja kemana Aksa berjalan.
Saat itu Lisa sedang main basket dengan trio berandal juga Arka.
"Tunggu, bukannya itu Arka? Kita pernah kesini karena aku melihat Arka saat itu," ujar Noah ingat. Aksa baru menyadari itu. Ia tidak sadar sejak tadi karena fokus pada sosok Lisa yang sedang men-dribble bola dan mengecoh lawan. "Kamu ingat tempat ini rupanya." Noah menepuk bahu Aksa.
Benar. Ini tempat waktu itu. Jadi saat itu Lisa sudah tahu tentangku? Atau memang saat itu Arka sedang menyembunyikan Lisa karena tahu sandiwara ini?
"Gadis itu jago juga main basketnya," komentar Noah yang belum sadar bahwa itu adalah Yora palsu. Jika saat itu Arka lebih dulu yang melihat kemunculan Noah dan Aksa, kini Lisa lebih dulu yang melihat pria ini. Karena saat bola itu terlepas dari tangannya dan menggelinding tepat di depan Aksa dan Noah.
__ADS_1
"Aksa ...," desis Lisa yang terkejut melihat pria itu muncul di sini setelah beberapa menit meneleponnya. Dia tidak menduga pria ini meluncur ke tempatnya. Ia pikir Aksa hanya iseng menanyakan lokasi tempat ia sekarang.
"Halo, Lisa," sapa Aksa. Karena terkejut, ia membiarkan bola basket itu menggelinding hingga menyentuh ujung sepatu Aksa.
Aksa membungkuk lalu memungut bola itu. Tangan Lisa terulur meminta bola itu. Namun Aksa tidak menyerahkannya.
“Eh, dia kan temanmu waktu itu Ka,” kata Nero. “Aksa dan Noah kan?” Mereka semua memperhatikan Lisa yang berbincang dengan dua pria. Sebelum di beritahu, Arka sudah tahu itu mereka saat Lisa tidak segera melemparkan bola.
"Dia mirip ... Yora," lirih Noah.
"Bukannya dia sudah paham soal itu? Cepat berikan bola itu,” kata Lisa seraya berusaha meraih bola itu dari tangan Aksa, tapi pria itu cekatan untuk menghindarkannya dari tangkapan Lisa.
"Noah belum yakin soal palsu dan asli, Lisa. Aku maklum karena itu kejadian aneh. Tidak banyak orang yang berani melakukannya," terang Aksa. Lisa menipiskan bibir.
"Aku pikir siapa yang datang kesini, ternyata kalian." Arka datang mendekat dan langsung meminta Lisa menggeser tubuhnya menjauh. Aksa melihat gerakan itu. Seperti ingin melindungi Lisa darinya.
Dalam sekejap bola itu berpindah tangan. Sepertinya Arka berhasil merampas bola di tanah Aksa. Mungkin karena perhatiannya teralihkan pada gerakan Arka yang melindungi Lisa darinya, bola itu kembali pada pemilik tanpa di sadari.
"Kita berhenti!” teriak Arka seraya melemparkan bola pada mereka yang sejak tadi menunggu Lisa mengambil bola.
__ADS_1
“Kalian saling kenal?” tanya Noah seraya menunjuk Lisa dan Arka.
“Tentu saja. Dia kekasihku,” ungkap Arka mengejutkan.
“Kamu tahu tentang dia yang menjadi tunangan Aksa? Tunangan palsu maksudku.” Noah meralat. Bola mata Arka melihat ke Aksa sebentar.
“Ya.”
“Astaga,” ujar Noah terkejut. Dia menatap Aksa, Arka dan Lisa bergantian. Merasa aneh dengan mereka bertiga. “Jadi aku sendiri orang yang normal di sini.” Noah menggelengkan kepala. “Tunggu. Apa itu artinya kamu adalah teman Sera?” tebak Noah. Lisa mengangguk. “Oh, kamu gadis yang menarik itu?” Noah terkejut lagi.
Dua mata pria yang lain menatap tajam pada Noah. Ini membuat Noah mengerjapkan mata seperti jadi tersangka.
“Aku juga pernah mengenalnya saat bukan menyamar jadi Yora,” jelas Noah. Arka dan Aksa menoleh pada Lisa bersamaan.
“Itu memang benar. Hanya sebuah kebetulan.” Lisa meminta dipahami.
Mungkin bukan tidak tahu, tapi tidak menyangka bahwa Yora yang selama ini dia kenal adalah palsu. Bukankah ini kasus aneh? Bahkan Aksa bertingkah biasa saja. Itu membuat Noah tidak yakin bahwa itu Yora palsu. Kini, setelah Arka juga membenarkan bahwa gadis itu adalah bukan Yora, Noah sangat yakin.
Hatinya mulai cemas lagi. Memikirkan bagaimana keadaan Yora sang pujaan hatinya sekarang.
____
__ADS_1