Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 79 Kejutan untuk Arka


__ADS_3


Noah berada di bar malam ini bersama Aksa.


 


"Sepertinya aku sempat mengabaikanmu soal Yora palsu. Padahal aku sendiri tidak yakin gadis yang selama ini bersamamu itu adalah Yora,” kata Noah menyesal tidak langsung percaya saat sepupunya ini mengatakan soal Yora yang palsu.


 


"Dia punya nama. Namanya Lisa," ralat Aksa seraya menyesap minuman di depannya.


 


"Ah, ya namanya Lisa. Sepertinya kamu tidak memberinya hukuman karena sudah membohongimu," kata Noah yang sadar Aksa tidak marah saat ada yang membohonginya. Bahkan sekarang terlihat sangat akrab.


 


"Aku sengaja membuatnya berada di pihakku. Agar aku tahu apa maksud keluarga Wijaya melakukan ini. Juga ... mencari dimana keberadaan Yora sekarang," jelas Aksa. “Itu untukmu.”


 


"Jadi ... kamu akan membiarkan seorang bocah di sampingmu dalam waktu yang lama?" tanya Noah dengan sedikit ledekan di sana.


 


"Ya," sahut Aksa tanpa menoleh. Ia menyesap minumannya. Noah menengok ke samping. Menatap pria ini lama.


 


"Iya, katamu?" tanya Noah terkejut.


 


"Apa yang kamu ributkan?" tanya Aksa merasa itu bukan hal yang aneh. Namun bagi Noah tentu tidak. Noah menipiskan bibirnya. Ini hal aneh bagi Aksa.


 


Jika Aksa ingin tahu alasan kenapa keluarga Wijaya ingin Lisa menggantikan Yora, Noah justru sebaliknya. Dia hanya ingin tahu keadaan Yora. Dia yang mencintai gadis cemas dengan keadaannya.

__ADS_1


 


"Aku akan mencari keberadaan Yora. Aku ragu gadis itu bukan hanya koma," kata Noah.


 


"Silakan. Kamu boleh mencari Yora yang asli, tapi jangan sampai membuat Lisa dalam bahaya. Aku tidak akan memaafkan itu, Noah," ancam Aksa.


 


“Kamu tertarik padanya? Bocah itu?” tanya Noah terkejut sendiri dengan pertanyaannya. Aksa tidak menjawab. Noah menyadari itu adalah jawaban iya. Ia berulang kali terkejut dengan keanehan ini. Namun Noah berusaha menerima perubahan yang tidak terduga.


 


***


 


Sarapan di keluarga Candika sebenarnya rutin di lakukan. Demi keakraban keluarga, begitu alasan papa Adiwangsa. Namun nyatanya sarapan selalu membuat suasana tidak nyaman.


 


 


"ARka, papa punya usulan untukmu," kata mama seraya tersenyum perhatian pada Arka. Kepala cowok ini mendongak dari piringnya. Ia mencoba mendengarkan walau tak ingin.


 


Anggita memberi kode pada suaminya untuk bicara.


 


"Sudah, kamu saja yang bicara," kata Adi wangsa memberi kesempatan pada istrinya untuk bicara. Anggita setuju. Allen memperhatikan dengan seksama. Sementara Aksa melirik sejenak, lalu kembali fokus pada piring makanannya.


 


"Karena Aksa sudah punya tunangan, papa dan mama juga akan menjodohkan kamu dengan putri teman papa," kata Anggita dengan wajah senang.


 

__ADS_1


Aksa langsung mendongak melihat ke arah mereka bicara. Sementara Arka membeku si tempatnya mendengar kabar barusan.


 


"Mama pasti memikirkan itu untuk masa depanku. Tapi aku rasa itu masih jauh, aku masih SMA, jadi soal perjodohan lebih baik di bicarakan setelah aku dewasa nanti," kata Arka seperti berusaha menghibur diri.


 


"Apa katamu?" tanya Adi wangsa seperti ingin marah.


 


"Tunggu, suamiku. Aku akan menjelaskan lagi. Mungkin Arka tidak paham," kata Anggita menahan Adi wangsa marah. Sekarang dia langsung menoleh pada Arka lagi. "Arka ... Ini bukan perjodohan yang akan di lakukan  setelah kamu dewasa. Ini perjodohan yang sebentar lagi akan di lakukan."


 


"Sebentar lagi?" tanya Arka tidak setuju. Aksa dan Allen melihat ke satu arah.


 


"Ya. Papa akan menjodohkan kamu dengan putri perusahaan elektronik. Perusahaan itu bagus juga untuk menambah kekuatan di perusahaan kita," kata Adiwangsa menjelaskan.


 


Arka menatap tegang. Tidak ada kalimat bantahan di sana. Namun raut wajah itu ingin marah. Aksa tahu pasti Arka tidak setuju.


 


"Papa tidak harus mendengarkan kalimat-kalimat penolakan atau semacamnya. Karena kita memang harus melakukan perjodohan ini jika ingin perusahaan tetap kuat." Adiwangsa mengelap mulutnya dengan serbet makan. "Aku sudah selesai. Kalian selesaikan makan kalian. Papa berangkat dulu." Anggita berdiri.


 


"Ya, Pa," Allen menyahut. Aksa hanya mengangguk. Sementara Arka tetap di tempatnya dengan wajah merah karena kesal. Ia ingin marah.


 


Anggita mengantarkan suaminya lebih dulu sebelum kembali lagi ke meja makan.


_________

__ADS_1


__ADS_2