
Bahu Yora menegang saat tahu suara Aksa. Senyumannya hilang. Noah sendiri yang tertawa kegirangan, pun segera berhenti. Wajahnya kaku saat melihat ke pintu.
"Aksa, kenapa tidak ketuk pintu dulu?" tanya Noah yang langsung berdiri.
"Sejak kapan aku mengetuk pintu ruangan kamu dulu sebelum masuk?" tanya Aksa balik. Noah baru menyadari bahwa ia keliru. Pria ini panik. Aksa memang tidak pernah mengetuk pintunya.
"Ya, itu memang kebiasaan mu. Kamu kan tidak tahu aku ada tamu atau tidak kalau begitu ..." Noah berkilah. Yora tetap memunggungi pintu. Ini membuat Aksa tidak bisa melihat di balik tubuh itu. Pria ini melirik. Ia merasa terusik dengan keberadaan gadis ini.
"Aku baru tahu kamu punya kekasih baru. Dia berbeda dengan wanita yang datang tadi," celetuk Aksa membuat Noah melebarkan mata kemudian menoleh pada Yora. Pria ini panik.
"Apa yang kamu katakan? Aku tidak punya kekasih Noah," tepis Noah.
"Oh, ya? Aku pikir ... "
"K-kak Noah punya kekasih?" tanya Yora lambat seraya membalikkan tubuhnya. Aksa menoleh pada gadis itu lalu tersenyum.
"Aku pikir merasa mengenalmu, ternyata kamu Yora. Halo," sapa Aksa tersenyum miring melihat ke Noah yang menggeram karena kesal. "Aku tidak tahu kamu ada di sini. Kakek meminta kamu ke sini?" tanya Aksa yang mulai berjalan mendekat. Meskipun ia sudah 'membuang' Yora, status mereka tetap Tunangan. Dia tidak bisa langsung membuang status itu seenaknya.
"Tidak. Aku sendiri yang ingin ke sini," kata Yora.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Noah pada Aksa. Merasa pria ini sudah menghancurkan suasana bagus tadi.
__ADS_1
"Aku mau mengajakmu makan siang. Namun karena ada Yora, tidak jadi." Aksa mulai duduk.
"Kalau begitu, kenapa kamu duduk di sana?" tanya Noah menunjuk kursi yang di duduki Aksa.
"Aku ingin bicara dengan Yora." Kali ini Aksa menunjuk gadis di depannya.
"Bukankah kamu memilih Lisa daripada dia?" Noah mengingatkan.
"Justru karena aku memilih Lisa, aku harus banyak mengobrol dengan Yora," tukas Aksa.
"B-bicara apa?" tanya Yora merasa sedikit takjub. Karena ini pertama kalinya Aksa ingin bicara dengannya.
"Aksa, kamu bilang ..." Noah protes.
"Ini bukan seperti apa yang dia pikirkan, Yora. Jangan salah paham," kata Aksa meluruskan sambil menunjuk Noah. Gadis ini melirik Noah.
"Aku ... aku tahu itu." Yora menunduk. Meskipun wajahnya memerah, dia paham itu. Noah menatap Yora. Dia pikir Aksa menarik kata-katanya untuk memilih Lisa lalu kembali dengan Yora, tapi ia salah. "Hati Kak Aksa sudah untuk Lisa. Aku mengerti," imbuh Yora. Noah menatap gadis itu dengan iba.
"Bagus. Jadi aku bisa bicara dengan bebas," kata Aksa lega karena tidak ada kesalahpahaman di sini.
__ADS_1
"Apa ... apa yang ingin Kak Aksa katakan?" tanya Yora.
"Banyak. Itu adalah ..."
Drrt, drrt ... Ponsel Aksa bergetar. Dia menatap layar ponsel. Bibirnya tersenyum. Yora sampai mengerjapkan mata takjub. Mungkin tidak banyak waktu untuk dia bisa melihat senyuman pria ini. Ini waktu yang tepat untuk menikmatinya.
"Ada apa?" tanya Aksa masih dengan senyuman di bibirnya.
"Emm ... itu. Aku ..." ujar suara gadis di seberang tersendat-sendat.
"Kenapa gugup? Kamu gugup karena mendengar suara ku?" tanya Aksa dengan wajah tengil yang menggoda. Dua orang di saja jadi tertarik. Dengan siapa pria ini bicara.
... _______...
__ADS_1