
Yora berlari di lorong rumah sakit dengan wajah kalut. Noah juga ikut berlari di sampingnya. Wajah mereka sama-sama cemas. Tidak jauh dari mereka, Lisa dan Aksa juga berlarian dengan ekspresi wajah yang sama. Sebenarnya ada apa dengan mereka?
Waktu kembali di saat nyonya Anne muncul dengan proposal pernikahan untuk putrinya.
"Tenangkan dirimu Anne. Sepertinya kamu harus bicara jujur padaku. Ada apa dengan semua ini?" tanya Kakek merasa ada yang janggal dengan keinginan Anne menikahkan putrinya.
"T-tidak.Tidak ada apa-apa. Saya hanya terlalu senang putriku di jodohkan dengan Aksa, cucu Anda." Anne merapikan kembali cara bicaranya. Meralat apa yang bisa di ralat. "Seperti yang pernah Anda katakan. Bahwa Aksa dan Yora mungkin lebih baik segera menikah saja," kata Anne dengan suara bergetar.
"Anne, cukup!" hardik kakek Candika. Semua orang diam. Maya sempat menutup matanya karena suara tuan Candika, bersuara keras. "Katakan apa tujuanmu dengan perjodohan ini? Kenapa kamu berkata Lisa itu gadis pembohong? Apa karena kamu tahu kalau gadis itu sedang menyamar menjadi Yora?!"
Tubuh nyonya Anne makin gemetaran. Maya iba dan juga takut melihat kemarahan pemilik perusahaan Candika.
"B-bukan," sangkal Anne.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu menyuruh Lisa menyamar menjadi Yora?!"
Mendengar itu Anne dan Maya terkejut.
"Tu-tuan tahu soal itu?" tanya Anne terbata-bata. Kakek diam seraya menatap lurus perempuan ini tajam.
"Katakan dengan jelas apa alasanmu melakukan itu?" tanya Kakek. Beliau tidak langsung mengusir wanita ini. Nyonya Anne tertunduk. "Demi Yora, jujurlah pada kakek tua ini hingga aku bisa memaafkan mu."
Maya mengelus punggung Nyonya Anne. Pasti majikannya ini lebih terkejut daripada dirinya. Lebih pusing dan lebih was-was.
"Saya ... mengidap kanker otak stadium empat. Saya divonis tidak bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Karena itu saya ingin Yora mendapatkan pria yang ia cintai," ungkap Anne membuat semua orang terkejut di buatnya. Bahkan Maya menutup mulutnya karena sangat kaget. Ini pertama kalinya dia mendengar perihal sakitnya nyonya Anne.
Kakek dan Pak Aknam tertegun mendengar pengakuan yang sangat di luar dugaan ini.
"Jadi kamu ingin Yora mendapatkan yang ia mau?" tanya Kakek lembut.
"Ya. Saya ingin memberikan sesuatu yang ia impikan."
"Namun kenyataannya berbeda, Anne. Yora tidak lagi ingin menikah dengan Aksa."
__ADS_1
"T-tidak Kakek. Jangan berkata seperti itu. Biarkan putriku menjadi bagian dari keluarga Anda," mohon Anne.
"Aku bisa mengabulkannya, tapi tidak seperti yang kamu inginkan."
"A-apa yang kakek katakan?" tanya Anne tidak mengerti.
"Aku akan bicarakan dengan Yora, apakah dia mau menikah dengan cucuku yang lain?"
"S-siapa?" tanya Nyonya Anne yang berpikir kalau tidak ada cucu Candika selain Aksa. Maklum saja. Karena keinginan putrinya, nyonya Anne ikut terobsesi dengan Aksa.
"Noah. Mungkin aku akan menjodohkan mereka berdua. Karena sepertinya mereka lebih cocok," ujar Kakek seraya menoleh pada Pak Aknam. Pria tua itu tersenyum seraya mengangguk setuju.
"B-bolehkah? Saya sudah m-melakukan perbuatan buruk. S-saya sudah menipu Anda." Nyonya Anne merasa tidak pantas.
"Aku mungkin masih marah soal itu, tapi karena Aksa sudah tidak ingin membahas tentang kebohongan itu, aku juga akan diam. Mungkin aku juga melakukan ini demi Yora. Bertobatlah dengan baik. Urusan putrimu serahkan padaku," kata Kakek mengambil keputusan.
"T-terima kasih Kakek." Tangis Anne berderai.
"Mama!" teriak Yora di depan pintu kamar perawatan sebelum operasi. Mendengar suara putrinya, nyonya Anne terkejut. Padahal Tuan Candika berjanji untuk tidak memberitahu. Bahkan Nyonya Anne sudah berpamitan pada Yora kalau dirinya ada pekerjaan di luar kota. Namun kakek tua itu justru memberitahu putrinya.
Brak! Pintu terbuka dengan keras.
"Mama!" panggil Yora dengan tangis yang mulai membasahi pipinya.
"Yo ... Ra." Suara nyonya Anne lemah. Yora langsung memeluk tubuh mamanya. Awalnya para perawat ingin mencegah, tapi orang suruhan kakek yang sudah ada di sana memberi kode untuk membiarkan. Jadi para perawat itu mundur. Membiarkan pasien mereka.
"Kenapa mama harus menyembunyikan ini dari Yora? Kenapa?!" Yora marah.
Nyonya Anne pun tidak bisa lagi menahan tangisannya.
"Jika hidup mama sudah tidak lama lagi, bukankah seharusnya kita menghabiskan waktu lebih banyak bersama-sama? Bukan malah mama menghilang sendiri seperti ini!" keluh Yora terluka atas pilihan mamanya menanggung semua rasa sakit itu sendirian. "Masih ada aku, kenapa mama merasa sendiri ..."
"Maafkan mama, Yora. Maafkan mama." Mereka pun berpelukan dan menangis. Menumpahkan semua hal yang menyesakkan.
__ADS_1
"Aku tidak ingin menikah dengan Kak Aksa, itu bukan bualan. Aku tidak apa-apa. Mama jangan cemaskan itu. Karena ada satu orang yang benar-benar mencintai Yora." Yora berbalik dan memberi kode pada Noah untuk mendekat. Pria itu mendekat.
Nyonya Anne tahu siapa yang mendekat itu. Mereka sudah saling kenal. Hanya saja mungkin tidak dekat jika itu berurusan sebagai calon menantu.
Benar, kata kakek Candika. Pria ini lebih cocok dengan putriku. Sorot matanya yang hangat mampu membuat putriku aman dan nyaman.
"Kak Noah menyayangiku. Jadi tenangkan pikiran mama. Yora baik-baik saja tanpa Kak Aksa," ujar Yora seraya mengusap air mata di pipi nyonya Anne. Dia pun mengusap air mata di pipinya sendiri.
Noah mengusap kedua lengan Yora untuk tenang. Noah tahu, meskipun gadis ini berusaha memberi semangat untuk mamanya, dia sendiri butuh semangat.
"Maaf, bisa kami memulai persiapan operasi?" Para perawat mulai ingin ambil alih.
"E, itu ..."
"Ya. Kita sudah selesai. Benar kan Yora?" tanya Noah meminta Yora setuju. Gadis ini menganggukkan kepala dengan mata memerah. Air matanya ingin tumpah lagi.
"Doakan mama sayang ... Hingga mama bisa melihat kalian berdua menikah."
"Iya selalu. Yora selalu mendoakan mama." Mata gadis ini berkaca-kaca. Setelah itu Yora harus rela membiarkan para perawat itu membawa mamanya menuju ruang operasi. "Mama ..." Tangis Yora meledak lagi. Ia pun menjatuhkan dirinya pada dada Noah yang ada di sampingnya. Pria ini memeluk Yora dan mengusap kepalanya.
Lisa yang menyaksikan juga sempat meneteskan air mata. Ia segera menghapus air mata itu dengan punggung tangannya.
"Jika kamu tahu kalau alasan nyonya Anne adalah ini, apa kamu masih mau menghapus ikatan pertunangan kalian dan membuang Yora demi aku?" tanya Lisa. Mungkin Lisa bersimpati, makanya dia bisa bertanya seperti itu.
"Alasan nyonya Anne dan hatiku adalah dua hal berbeda. Meski bukan kamu, mungkin aku tidak bisa mencintai Yora," kata Aksa jujur.
"Entah kenapa itu terasa menyakitkan padahal bukan aku." Lisa tersenyum sedih. "Lalu ... " Lisa menoleh pada Aksa dengan tatapan tajam. "Jika bukan aku, apa kamu akan tetap dengan Tiara atau para wanita mu yang lain?" Lisa mulai menyudutkan Aksa.
"Jangan membahas sesuatu yang sebenarnya tidak penting, Lis. Itu bukan pertanyaan yang bijak," kata Aksa tidak mau terjebak. Lisa diam. Aksa menggenggam jari-jari gadis ini. Lisa mendongak. "Jangan berpikir yang tidak-tidak dan membuatmu lelah. Karena sekarang tanganmulah yang aku genggam. Itu berarti kamulah pemenang hatiku, Lisa."
...____...
__ADS_1