Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 61 Menjelaskan


__ADS_3


Arka menarik tangan Lisa dan membawanya menjauh dari orang-orang di rumah. Dia membawa Lisa ke ujung lorong.


 


"Apa yang kalian lakukan tadi? Dia memaksamu?" tanya Arka sangat ingin tahu.


 


"Dia memang memaksaku, tapi bukan seperti yang kamu bayangkan."


 


"Dengan tidak menyentuhmu sama sekali?" tanya Arka tidak percaya. Lisa mengangguk. "Kamu tahu dia siapa, kan? Pria yang bagaimana?"


 


"Aku tahu, tapi Aksa tidak menyentuhku. Percayalah Arka. Aku tidak mungkin diam saja kalau dia menyentuh sembarangan. Kita hanya bicara," Lisa menjelaskan lagi.


 


"Dan kamu yang menyentuhnya?" Rupanya Arka juga terjebak dengan kalimat Aksa.


 


"Ka. Jangan termakan apa yang dia katakan," sergah Lisa.


 


"Hhh ... Aku terus-terusan cemas, Lis."


 


"Iya paham, tapi coba tenanglah. Mungkin sulit tapi ... percaya padaku. Kamu bisa kan?" mohon Lisa. Arka menghela napas.


 


"Ya. Maafkan aku, Lis. Kamu bisa bayangkan apa yang aku rasakan saat melihat kalian berdua keluar dari pintu kamar yang sama kan?"


 


"Iya." Lisa mengangguk.


 


"Eh, Arka?" tegur Anggita mengejutkan. Untung bibir mereka sudah menutup soal tadi.


 


Perempuan paruh baya yang masih cantik itu mendekat.


 


"Aku pikir kamu Aksa. Kenapa Yora bersamamu?" tanya Anggita yang menemukan mereka berdua. Pertanyaannya sudah mencurigakan.

__ADS_1


 


"Ya, Tante. Aku yang mengajaknya ngobrol. Karena sepertinya ini kesempatan. Biasanya kan jarang bertemu, jadi aku ingin juga dekat dengan adik Aksa." Lisa langsung berinisiatif menjawab.


 


Melihat raut wajah Arka, sepertinya cowok itu enggan bicara.


 


"Oh, begitu. Benar. Arka ini sangat jarang berkumpul. Dia seperti hidup di dunia sendirian. Jadi jarang mau berkumpul dengan keluarganya." Anggita justru membuka soal Arka. Mendengar ini, Arka menipiskan bibir seraya menatap mamanya datar. "Sebaiknya kamu menemani Aksa."


 


Mama Arka selalu mendorong Lisa untuk bersama Aksa. Mungkin benar, karena di mata mereka Lisa adalah tunangannya pria itu.


 


Tangan Anggita meraih lengan Lisa dan membawanya pergi. Lisa kebingungan karena masih bicara dengan Arka. Bola matanya menoleh ke Arka saat kakinya berjalan menjauh.


 


Arka menggeram dan meninju udara karena kesal. Kemudian memejamkan mata sebentar dan kembali menatap ke depan. Dimana Lisa menghilang bersama mamanya.


 


**


 


Anggita tidak menemukan Aksa, dimana-mana.


 


 


"Enggak apa-apa kok, Tante. Biar Yora ..."


 


"Oh ... Aksa di luar." Anggita bisa menemukan Aksa secepatnya. Lisa terhenyak kaget karena Anggita segera membawanya keluar.


 


Ternyata pria itu duduk di luar seraya melihat pegawai rumah ini mencuci mobil.


 


"Aksa," panggil Anggita. Aksa menoleh dan menemukan mama dan Lisa. Matanya tertuju pada lengan Lisa yang di tarik Anggita.


 


"Kenapa Yora di tarik-tarik?" tanya Aksa.


 

__ADS_1


"Eh? Bukan. Maksudnya bukan begitu." Anggita kebingungan karena Aksa menganggapnya salah.


 


"Tante hanya mengajakku untuk menemukanmu." Lisa berbicara. Anggita tersenyum setuju. Aksa menoleh pada gadis itu. "Kamu tidak bisa di temukan di mana-mana."


 


"Kenapa mencariku?" tanya Aksa lagi. Kali ini dia menoleh pada Anggita.


 


"Itu Aksa. Mama takut Yora tidak terbiasa dengan lingkungan di rumah kita. Jadi mama hanya ingin membuat Yora nyaman, dengan mengajaknya mencarimu."


 


Namun saat Aksa melihat ke Lisa, wajah gadis itu bukan merasa ingin mencarinya. Justru gadis ini tampak kesal harus bertemu dengannya. Dia tahu kenapa itu.


 


"Makasih ya, Ma. Sudah membawa tunangan Aksa ke sini." Aksa tersenyum tipis. Anggita ikut tersenyum senang.


 


Aksa jarang sekali memperlihatkan senyuman seperti ini padanya. Anggita pun meninggalkan Lisa bersama Aksa.


 


Sepeninggal Anggita, Lisa duduk di samping Aksa.


 


"Apa maksud kamu mengatakan pada Arka kalau aku menyentuhmu?" desis Lisa dengan tetap duduk di kursinya.


 


Arka yang tadinya mau menyentuh ponselnya tidak jadi.


 


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya meluruskan kesalahpahaman saja," sahut Aksa.


 


"Meluruskan?" Bola mata Lisa membulat.


 


"Arka berpikir aku menyentuhmu, tapi yang ada di dalam sana adalah kamu yang menyentuhku lebih dulu. Bahkan aku diam saat kamu menarik-narik tanganku," kata Aksa dengan santai. Namun respon Lisa makin garang.


 


"Meskipun begitu, seharusnya kamu diam. Jangan membuat keadaan makin runyam," kata Lisa geram.


 

__ADS_1


"Aku tidak bisa diam. Arka akan terus mencurigaiku," bela Aksa dengan wajah santai yang menyebalkan.


______


__ADS_2