Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 120 Ada hubungan apa?


__ADS_3

Setelah segala alasan yang di gunakan untuk mengusir Aksa, dia bisa menenangkan keadaan sementara. Karena dia akan di hadapkan dengan kebingungan keluarganya.


 


Kemunculan Aksa tadi siang membuat Lisa di sidang bapak. Karena Bapak terkejut dengan lamaran yang dadakan itu.


 


Petang ini, Lisa terdiam di depan tv. Ibu dan Bapak menatap putrinya yang menunduk.


 


"Itu tadi apa-apaan, Lisa?" tanya Ibu yang sudah mendapat cerita dari bapak dengan lembut. Lisa diam. Dia juga tidak mengerti kenapa pria itu langsung saja melamar dirinya di depan bapak. Meski terdengar konyol, tapi melamar itu bukan mainan.


 


"Kenapa enggak jawab?" tanya ibu lagi.


 


"Aku kurang tahu, Bu."


 


Mungkin ini adalah jawaban paling konyol yang diutarakan Lisa pada kedua orang tuanya saat di tanya. Ibu dan bapak saling berpandangan.


 


Bi Sarah yang masih ingin tahu bagaimana kelanjutan cerita ini ikut duduk di sana. Bahkan Giri pun ada. Mereka seakan ingin tahu kejelasan dari mulut Lisa sendiri.


 


Apa Aksa terlalu terburu-buru ya? Lisa memang baru putus dari Arka. Tiba-tiba saja dia langsung membuat pernyataan ingin melamar. Bukannya itu terlalu mendadak?


 


"Bi, tolongin Lisa gih. Kali aja, dia memang enggak tahu," bisik Giri sangat pelan. Bi Sarah yang dengar menoleh cepat.


 


"Bantuin gimana?" tanya Bi Sarah.


 


"Kalian berdua ... Jangan berisik," desis Bapak yang merasa terganggu dengan adiknya. Bi Sarah meringis. Lalu dia menowel Giri. Beliau pun menggiring keponakannya menjauh dari sana.


 


"Maksud kamu apa minta bantuan Bibi?"


 


"Sepertinya Lisa dan Aksa belum jadian."


 


"Lho, kalau belum jadian kenapa melamar?" tanya Bi Sarah heran.


 


"Aksa itu ... mungkin sedikit gila. Jadi dia ambil jalan pintas untuk segera mendapatkan Lisa. Arka dan Aksa ini adik kakak," jelas Giri singkat membuka fakta yang mencengangkan bagi bibi mereka.

__ADS_1


 


"Benarkah? Wahhh ... Keponakan Bibi memang hebat." Bi Sarah melipat tangannya dengan bangga. Giri menipiskan bibir melihat kelakuan bibinya.


 


"Sekarang bukan waktunya untuk bangga, Bi." Giri mengingatkan.


 


"Oh, iya. Hehehe." Bibi terkekeh.


 


"Nanti Lisa bakal cerita sendiri. Pokoknya sekarang Bibi harus menolongnya," tandas Giri.


 


Bi Sarah mengangguk.


 


...***...


 


Di sekolah, Lisa banyak diam. Bukannya berwajah lesu, tapi sedang berpikir keras. Dia sedang berpikir soal kejadian kemarin. Istirahat kedua ini, dia dan Sera hanya makan camilan di kelas.


 


"Kenapa diam terus?" tegur Sera pelan.


 


 


"Apanya yang enggak. Kamu kelihatan punya beban besar. Ada masalah?" tanya Sera pengertian.


 


"Aku mau bilang, tapi tolong tutup mulut. Jangan kasih tahu Sabo," ancam Lisa.


 


"Oh oke. Jika enggak boleh kasih tahu Sabo, berarti ini ada hubungannya sama Arka." Sera menebak.


 


"Enggak ada sih, tapi lebih baik dia enggak tahu." Lisa mengibaskan tangannya di depan wajah Sera. "Aksa datang ke rumah."


 


"Bukannya dia memang sering ke rumah kamu."


 


"Kali ini dia datang ke rumah dan ngobrol sama Bapak," lanjut Lisa.


 


"Ngobrol sama Bapak? Lalu?" Sera mulai was-was.

__ADS_1


 


"Dengan pede-nya dia bilang sama Bapak kalau dia melamar ku," ujar Lisa gemas.


 


"Apa?! Melamar?" seru Sera terkejut. "Tunggu. Hubungan kalian berdua itu apa sih?" tanya Sera yang sadar bahwa Lisa dan Aksa hanya sebagai klien dan pelaksana saat menjalankan sandiwara konyol itu.


 


"Emm ... hanya teman," kata Lisa sambil menggaruk keningnya dan sedikit menunduk saat menjawab. Dia gugup dan kebingungan.


 


"Teman? Jika hanya teman, kenapa Aksa tiba-tiba berani bicara soal melamar? Bahkan bicara langsung pada Bapak,” serang Sera. Dia mulai mencurigai sesuatu.


 


"A-aku tidak tahu." Lisa gugup.


 


"Jangan bilang enggak tahu. Pasti kamu tahu sesuatu,” tuding Sera dengan wajah curiga.


...______...



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2