
Lisa harus mengajak Aksa turun. Jika tidak, perempuan paruh baya itu tetap memintanya membujuk Aksa. Dan juga akan terlihat aneh jika pria itu tidak turun. Menunjukkan bahwa hubungan mereka tidak manis. Meskipun kenyataan adalah iya.
"Ayo, turun," paksa Lisa lagi.
Bola mata Aksa melihat ke arah tangannya yang di tarik. Dia masih belum terbiasa ditarik-tarik dengan paksa seperti ini. Apalagi saat mendongak dan melihat raut wajah tidak menghormatinya itu.
"Kenapa susah sekali, sih. Bukannya kamu hanya di suruh makan?" gerutu Lisa. "Di rumah ku saja, tanpa di suruh ... aku dan Giri akan makan dengan berebut lauk. Sementara kamu, susahnya minta ampun. Makan aja sulit." Lisa ngomel lagi. Mirip ibu-ibu.
"Giri?" tanya Aksa yang mendengar nama asing di telinganya.
Lisa terkesiap. Ia sadar barusan terlewat terbuka pada pria ini. "Oh, tidak. Lupakan. Ayo turun.” Lisa langsung mengalihkan pembicaraan.
“Kenapa memaksa seperti ini? Kamu ingin meminta perhatianku?” tanya Aksa bikin naik darah.
Lisa menghela napas. “Ya. Aku meminta perhatianmu,” kata Lisa. Aksa diam menatap gadis ini yang mulai serius bicara.
“Kenapa?”
“Selain karena aku tidak mau terlihat tidak keren saat tidak bisa menyelesaikan tugas mama untuk membuatmu bangun dan turun, aku juga kelaparan kalau kamu tetap di sini,” jawab Lisa membuat Aksa menyipitkan mata.
“Lapar?”
__ADS_1
“Ya. Aku sangat kelaparan Aksa. Perutku terus berbunyi. Perutku keroncongan. Aku tidak terbiasa tidak makan malam saat mau tidur. Aku lapar,” kata Lisa emosional. Lapar memang membuat orang tidak sabaran. “Jadi aku mohon turunlah.” Lisa memasang wajah marah dan melas bersamaan.
Aksa tidak menduga jawaban lugas Lisa. Jadi di pikirannya hanya lapar? Persis saat pesta saat itu. Kata lapar memang mampu membuatku terheran-heran. Sejak pertama kata lapar itu menunjukkan bahwa dia memang bukan Yora.
“Oke," kata Aksa setuju.
“Oh, terima kasih.” Lisa melepaskan pegangan tangannya. Dia berjalan lebih dulu ke pintu. Membuka pintu dan keluar.
"Lisa," kata Arka yang berada di luar kamar terkejut.
"Eh, Arka," balas Lisa ikut terkejut melihat cowok ini ada di depan kamar. Aksa muncul selanjutnya dari balik pintu. Bola mata Arka makin tajam melihat keduanya keluar dari pintu yang sama. Dan itu bukan sekedar pintu. Itu adalah pintu kamar tidur.
"Anu, dia ... ingin bertanya sesuatu padaku." Lisa berusaha meluruskan salah paham dengan menjawab. Arka menatap tajam ke arah Lisa. Memintanya diam saat dirinya menginterogasi Aksa.
"Ya. Aku memang ingin menanyakan sesuatu padanya," kata Aksa.
"Bertanya? Dengan mengajaknya masuk ke kamarmu?" Arka jelas curiga. Siapa pun pasti curiga kalau melihat keadaan ini. Lisa melirik tajam ke arah Aksa. Ini semua gara-gara pria ini. Dia sudah menolak tadinya. Namun pria itu memaksanya.
"Aku tidak menyentuhnya. Dia sendiri yang menyentuhku," kata Aksa membuat Lisa mendelik ke arahnya.
"Kenapa pada ngumpul di sini? Mama menunggu sarapan pagi di bawah." Allen muncul di belakang mereka.
"Tidak. Kita hanya membicarakan pertandingan Arka. Ya. Kita mau turun ke bawah." Aksa langsung memberi penjelasan.
__ADS_1
Di antara ketiga orang ini, hanya Aksa saja dalam keadaan normal. Jika Arka terlihat naik darah melihat keduanya keluar dari balik pintu kamar. Sementara Lisa sedang cemas karena takut Arka salah paham.
Jadi keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Aksa sendiri yang merasa tidak punya masalah langsung bisa merespon pertanyaan Allen.
"Oke. Ayo Kak Arka. Aku pikir tadi Kak Arka mau ke toilet, ternyata berada di sini ..." Allen mendekat ke cowok ini heran.
Sebenarnya ia sudah berada di meja makan, tapi melihat Lisa yang di suruh membangunkan Aksa tidak kunjung kembali, ia ingin melihat keadaan gadis itu. Dan ternyata dia melihat ini. Gadis itu baru saja keluar dari kamar Aksa.
**
Meja makan tampak penuh dengan adanya Lisa yang muncul di rumah ini. Karena hari libur, Lisa di tahan untuk pulang.
"Mama senang Aksa ikut sarapan juga." Anggita tersenyum pada Aksa lalu Lisa.
"Ini pertama kalinya Aska ikut sarapan saat libur begini." Adiwangsa juga ikut memuji kehebatan gadis ini memaksa Aksa turun. Dia juga tersenyum pada Lisa.
Meski tersenyum, Lisa sedang dalam keadaan kalang kabut. Dia tidak terlalu mendengarkan apa yang di katakan kedua orang itu. Hanya senyuman senjata yang tepat dalam keadaan ini. Lisa masih kebingungan dengan sorot mata dingin Arka. Meski menunduk, Lisa tahu cowok marah. Apalagi kalimat Aksa yang tidak masuk akal.
Aksa yang duduk di mejanya menerima semua ocehan mama papanya dengan tenang. Dia tidak ingin berkomentar. Ini memang di luar kebiasaannya.
Hari libur Aksa di isi dengan kegiatan bersama Tiara atau mengurung diri di dalam kamar. Kali ini ia terpaksa pulang karena mendapat perintah menemani Allen tadi malam.
_____
__ADS_1