
Siang hari yang sama saat Aksa menuju rumahnya untuk menemui kakek.
.
.
.
Dengan setengah berlari, Noah menyegerakan kakinya mendatangi lobi perusahaan. Ia sedang menjemput Yora. Gadis itu ada di sana sekarang.
Karena gelisah dan tidak tenang, gadis ini menelepon Noah. Namun rasa gelisah itu makin menjadi karena telepon di sana tidak segera di jawab oleh pria itu.
"Kemana Kak, Noah?" Yora mondar-mandir di depan perusahaan seraya menggigit kukunya dengan gelisah yang tercetak jelas di wajahnya.
Setelah menunggu, akhirnya nada menyambung terdengar.
"Halo, Yora. Maafkan aku tidak segera menjawab telepon mu," sahut Noah di seberang.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku ada di bawah sekarang. Tolong jemput aku," kata Yora di telepon tadi. Sebenarnya ia terkejut saat Yora mengatakan ada di bawah sekarang. Makanya ia terburu-buru.
Saat sudah sampai di bawah, Noah melihat gadis itu duduk di taman depan gedung dengan wajah cemas. Kenapa dia di sana? Kenapa tidak masuk saja?
"Yora," panggil Noah pelan. Gadis itu langsung berdiri dan menoleh ke belakang.
"Kak Noah? Apa Kak Aksa ada?" tanya Yora cemas. Ternyata dia tidak ingin di ketahui pria itu.
"Aksa tidak ada," jawab Noah. Tangannya terulur membetulkan topi yang di pakai gadis ini untuk menutupi wajahnya. "Manis," celetuk Noah membuat Yora menatapnya dengan wajah takjub. Kemudian Noah tersenyum. "Ayo ikut ke ruanganku."
...****************...
"Bagaimana kabar itu? Apa benar?" tanya Yora yang masih belum menanyakan langsung pada mamanya. Ia menatap pada Noah yang duduk di sampingnya.
"Aksa juga tidak tahu. Dia baru mendengar kabar ini dariku yang menunggunya muncul di kantor," jawab Noah.
"Ti-tidak tahu? Jadi ... hanya Mama dan Maya yang tahu?" tanya Yora heran.
"Aku juga kurang paham. Namun kata Aksa kakek juga pernah bilang soal pernikahan. Kakek menginginkan kamu dan Aksa menikah secepatnya."
"Oh, benarkah? Bagaimana ini ... Kak Aksa akan marah padaku ...," ujar Yora panik. Dia kembali menggigit kukunya.
"Jadi kamu hanya mengkhawatirkan Aksa?" tanya Noah menunjukkan raut wajah tidak terima.
__ADS_1
"A-apa maksud Kak Noah?" tanya Yora seraya melepas jari-jarinya dari gigi yang menggigitnya.
"Bukan hanya Aksa yang marah, Yora. Aku pun marah. Karena jika kamu menikah dengan Aksa, itu berarti tidak ada kesempatan aku untuk berada di sampingmu. Kesempatan yang hanya setitik itu akan lenyap."
Yora menatap Noah takjub. Ia lupa ada satu hati yang perlu ia jaga. Itu hati milik Noah yang selalu menemaninya. Pria yang selalu ada saat dia kesulitan. Itulah pria ini.
"M-Maafkan aku, Kak Noah. Bukan maksud aku hanya memikirkan Kak Aksa, tapi aku ..." Yora jadi tidak enak hati. Dia mendekat pada Noah untuk membuat pria itu agar tidak marah.
"Kali ini aku terima, tapi lain kali ... jangan macam-macam mengkhawatirkan pria lain Yora," ujar Noah dengan nada jenaka. Dia mencubit pipi Yora membuat gadis ini bersemu merah. "Oh, aku lupa. Aksa sekarang ada di rumah untuk menemui kakek."
"Menemui kakek? A-apa dia akan membongkar semuanya sekarang?" tanya Yora panik.
"Mungkin. Aku lihat kilat marah pada bola matanya tadi. Pasti dia ingin membantah perintah Kakek untuk menikah demi Lisa."
"Apakah itu pasti berhasil?" tanya Yora cemas.
"Kemungkinan berhasil adalah nol. Kakek pemegang kendali semuanya. Jika ada nenek, mungkin kita masih bisa mencoba meminta pada beliau untuk meluluhkan hati Kakek, tapi sekarang nenek tidak ada. Jarang sekali ada yang bisa membuat kakek luluh."
"Oh, bagaimana ini? Aku juga tidak ingin pernikahan ini terjadi." Yora terus saja panik.
Keduanya diam.
"Sebaiknya aku bicara juga dengan kakek," kata Yora tiba-tiba.
"Apa maksud kamu, Yora?" tanya Noah mengerutkan keningnya.
"Apa yang akan kamu bicarakan?" Noah terkejut. Ia mencemaskan gadis ini.
"Apa saja yang membuat batal pernikahan ini," jawab Yora hilang akal.
"Kamu belum memberi tahu mama soal ini. Bagaimana mungkin kamu akan mengatakannya pada kakek?" kata Noah mengingatkan.
"Aku tahu, tapi aku tidak mau jika menikah. Aku sudah menerima pernyataan cinta Kak Noah. Aku juga ingin merasakan di cintai," ungkap Yora membuat Noah melebarkan mata terkejut. "Seandainya ... seandainya aku menikah. Bukankah aku tidak bisa merasakan cinta Kak Noah?"
Yora tidak sadar apa yang dia katakan barusan, membuat debaran di dada Noah tidak karuan. Pria ini tersenyum Yora menggebu-gebu ingin dicintainya. Itu lucu dan menggemaskan.
"Kamu membuat aku berdebar Yora ..." Noah mengatakannya karena tidak tahan lagi dengan tingkah gadis ini. Yora sadar dan mulai tersipu malu.
"Aku harus membantu Kak Aksa untuk bicara pada Kakek."
"Kamu yakin ingin mengatakan pada Kakek? Kamu tidak takut?" tanya Noah.
"Ya. Aku takut, tapi aku yakin." Yora sudah bertekad.
"Baiklah. Aku antar."
__ADS_1
***
Tamu yang di maksud kakek adalah Yora dan Noah. Dua manusia itu ternyata menyusul kesini.
"Selamat siang, Kakek ..." Yora membungkukkan badan memberi salam.
"Siang, Yora," sahut kakek. Noah yang muncul di belakangnya ikut membungkuk.
"Kenapa Noah ikut masuk?" tegur Kakek merasa Noah tidak berkepentingan. Yora menoleh ke belakang. Pria itu memang sedang kebingungan karena memang tidak punya kepentingan dalam kasus ini. Aksa mendengus melihat sepupunya panik.
"Maaf, Kakek. Yora yang meminta Kak Noah untuk menemani," kata Yora menundukkan kepala. Bermaksud meminta Kakek setuju jika pria itu ada di dalam ruang baca yang pasti akan sangat menegangkan ini.
"Kalian dekat?" tanya Kakek sambil menyipitkan mata.
"Yora itu tetangga saat rumah papa di sana, Kek." Noah memberi penjelasan. Kakek diam sejenak.
"Baiklah. Duduklah."
"Jadi Noah boleh menemani Yora?" tanya Noah antusias.
"Duduk dan diam," perintah kakek dengan mengetatkan gerahamnya. Noah tahu itu artinya tutup mulutmu.
Kakek mengalihkan perhatian pada Yora "Karena kamu sudah sengaja datang ke sini, pasti ada hal penting yang ingin di katakan."
"Iya." Yora menoleh pada Aksa sebentar.
"Kalau begitu sebaiknya mereka aku suruh keluar," kata Kakek yang akan menyuruh Aksa dan Noah keluar dari ruangan ini.
"Tidak Kakek. Saya bisa bicara dengan kakek saat ada mereka." Sepertinya tekad Yora kuat. Dalam bicaranya, Yora terlihat tegas meski suaranya tidak terlalu keras.
Aksa yang sejak tadi diam, menatap gadis ini. Apa yang akan di katakan Yora pada kakek?
"Baiklah kalau begitu. Bicaralah."
"Sebelumnya Yora minta maaf. Karena telah mengganggu Kakek saat bicara dengan Kak Aksa. Sebenarnya, Yora bisa di ikutkan dalam pembicaraan ini."
"Apa kamu tahu apa yang sedang kakek bicarakan?" tanya Kakek lembut.
"Iya, Kek. Yora tahu. Bukannya kakek sedang membicarakan soal pernikahan Yora dan Kak Aksa bukan?" ujar gadis ini yakin.
Alis kakek terangkat. Jawaban Yora mengejutkan. Kenapa terkejut? Bukannya kakek memang sedang membicarakan pernikahan mereka berdua?
__ADS_1
...______...