Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 73 Perintah


__ADS_3


Ponselnya bergerak. Ada orang yang meneleponnya. Dia mendelik saat tahu itu Aksa. Ini jam pelajaran. Namun Aksa memaksa untuk tetap memintanya mengangkat telepon. Meski ada rasa bersalah perkara jas itu, tapi Lisa menggeram saat ponselnya nyala dengan nama Aksa di sana.


 


Sera melirik. Ingin tahu kenapa Lisa heboh sendiri. Dia menyenggol lengan Lisa untuk bertanya. Lisa hanya tersenyum tanpa menjawab. Meski tidak puas dengan respon Lisa, Sera memilih memperhatikan guru lagi.


 


 


Akhirnya Lisa meminta ijin keluar kelas dengan alasan ke toilet.


 


“Aksa. Kamu tidak tahu kalau aku masih jam pelajaran?” sembur Lisa saat menekan tombol terima.


 


“Oh, ya?”


 


“Kenapa tiba-tiba meneleponku?” tanya Lisa. Ini sangat tidak terduga. Setelah aksi marah Aksa soal jas itu, Lisa sudah berpikir akan lolos dari kejaran pria itu untuk mengerjainya. Nyatanya tidak.


 


Pria ini tiba-tiba meneleponnya dan mengusiknya saat jam pelajaran masih berlangsung.


 


“Datang ke kantor sepulang sekolah,” perintah Aksa.


 


“Hanya itu?” tanya Lisa kesal.


 


“Ya.”


 


“Kamu kan bisa mengirim pesan. Bukan meneleponku saat jam sekolah, Aksa.” Lisa kesal.


 


Aksa sebenarnya tahu ini jam belajar di sekolah, tapi dia tidak bisa bertaruh bahwa Lisa akan datang sesuai perintahnya, jika hanya lewat pesan.


 


“Aku tunggu di kantor.” Aksa menutup telepon dengan perintah di akhir kalimatnya. Lisa menggeram kesal. Namun Lisa segera menyimpan Ponselnya karena ada guru yang lewat di lorong.

__ADS_1


 


 


 


**


 


 


 


Lisa datang dengan mobil jemputan dari perusahaan. Tentu dengan orang kepercayaan Aksa. Namun saat Lisa datang ke ruang kerja Aksa, pria itu tidak ada di tempat.


 


“Dia menyuruhku kesini, tapi dia menghilang sendiri. Memangnya aku ini bawahannya apa?” omel Lisa.


 


“Buatku kamu memang bawahanku,” sahut Aksa yang muncul tanpa sepengetahuan Lisa. Hingga membuat gadis ini terhenyak kaget.


 


Aksa menutup pintu dan berjalan menuju meja kerjanya. Lisa yang duduk di sofa memperhatikan dengan bibir menipis kesal.


 


 


Aksa yang sudah berdiri.di dekat tiang pajangan, melepas jas kerjanya dan menyampirkan ke tiang gantungan itu.


 


Dari belakang sini, Lisa melihat tubuh pria ini begitu bagus. Bidang dengan lekukan-lekukan manly.


 


Pamer, desis Lisa seraya membuang muka.


 


Setelah selesai meletakkan jasnya di gantungan, Aksa membuka kancing pergelangan tangannya lalu duduk.


 


"Bagaimana sekolahmu?" tanya Aksa terkesan basa-basi.


 


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Tidak mungkin kamu memintaku datang hanya untuk menanyakan kabar, kan?" tanya Lisa tidak percaya.

__ADS_1


 


"Tidak. Aku memang sedang ingin menanyakan kabarmu," ungkap Aksa membuat Lisa mengernyitkan dahinya.


 


"Hanya tanya kabar? setelah membuatku berbohong saat hendak keluar kelas hanya untuk menerima teleponmu?" tanya Lisa tidak percaya.


 


Aksa menghela napas.


 


"Kamu lumayan lucu, Aksa," decih Lisa. Aksa tersenyum samar. "Apalagi setelah aksi menghilang itu." Lisa sadar bahwa ia juga bersalah.


 


"Aku merasa konyol saat itu, " kata Aksa.


 


"Aku rasa tidak. Jika ceritanya tenyata kamu tersakiti saat aku membuang jas mu ke lantai, karena itu adalah jas berharga, aku minta maaf." Lisa harus berani minta maaf. Karena menurutnya wajar Aksa marah.


 


"Kamu bisa meminta maaf?" sindir Aksa.


 


"Jangan memulai perdebatan," cegah Lisa.


 


Krunyuk ... suara perut bergemuruh lapar terdengar. Itu berasal dari perut Lisa.


 


"Maaf, aku lapar," kata Lisa berterus terang. Meksipun mukanya tidak langsung menderita  saat mengatakannya, tapi ia bersungguh sungguh. Aksa melihat tangan gadis ini mengelus perutnya pelan.


 


"Kenapa bocah seperti kamu itu punya selera makan yang tinggi, hah?" tanya Aksa yang akhirnya meminta sekretarisnya menyiapkan makan siang.


 


"Aku sedang dalam masa pertumbuhan yang penting. Jadi aku butuh asupan makanan yang bergizi," sahut Lisa seenaknya.


_____


 


 

__ADS_1


__ADS_2