Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 118 Berbincang dengan Bapak Lisa


__ADS_3

Karena istilah Pak Guru dari bibir Giri melekat pada benak keluarga Lisa, mereka menyambut Aksa sedemikian rupa.


 


"Pak Guru ini seharusnya enggak usah bawa apa-apa kesini. Enggak apa-apa," kata Bapak.


 


"Iya, Pak. Itu untuk Bapak sekeluarga." Aksa tersenyum. Dia mulai terbiasa dengan sebutan 'Pak Guru' untuknya.


 


"Kalau bawa-bawa gitu kan mirip sama orang yang sedang melamar," canda Bapak Lisa yang membuat gadis ini melirik ke arah Bapak. Aksa tersenyum bahagia mendengar itu.


 


"Kalau memang boleh, saya juga berniat untuk melamar, Pak." Aksa justru melanjutkan candaan itu.


 


"Heh? Memangnya Pak Guru ini mau sama putri saya? Si Lisa ini?" Bapak justru tergelak mendengar kalimat Aksa. Pria ini terkejut mendapat respon seperti itu.


 


"Memangnya kenapa, Pak?"


 


"Dia ini kan bebal. Terus suka berantem. Mentang-mentang dia anak pelatih karate." Bapak masih menyisakan gelak tawa. Ada nada bangga di sana. Lisa membuat raut wajah masam.


 


"Oh, begitu? Pantas saja Pak. Waktu itu saya kena tendangan mautnya." Aksa malah curhat. Itu mengakibatkan Lisa jadi diam. Bukan karena malu, tapi ia jadi ingat bibirnya yang di kecup pelan. Aksa tidak sadar itu.


 


Sialan! Aku kan jadi ingat lagi momen itu. Dasar Aksa!!


 


"Lisa mengeluarkan jurus tendangannya? Wah, bagaimana rasanya?" Bapak Lisa makin menggila.


 


"Lumayan sakit." Aksa menjawab dengan setengah bercanda juga. Pun dia jujur soal ini. Tendangan Lisa waktu itu membuatnya meringis kesakitan.


 

__ADS_1


"Kalau gitu tendangan Lisa tambah kuat. Karena kan Pak Guru ini badannya tegap dan bagus."


 


"Pak, sudah dong. Jangan cerita karate lagi. Dia pasti bosan," kata Lisa menghentikan ocehan bapak.


 


"Aku tidak apa-apa, Lisa," kata Aksa seraya tersenyum.


 


"Lha, ini Bapak guru baik Kok. Hahahaha ..." Mungkin karena sudah lama tidak bisa melakukan apa-apa, bapak terlihat senang bicara dengan orang baru.


 


"Ini minumannya untuk Pak Guru," tutur Bi Sarah membawakan minuman untuk Aksa.


 


"Terima kasih," kata Aksa.


 


...***...


 


 


"Kenapa bawa banyak oleh-oleh banyak? Itu sangat berlebihan karena sampai di kira lamaran." Karena Bapak sudah tidak lagi menemani Aksa di ruang tamu, Lisa leluasa bicara.


 


"Kalau memang di ijinkan, aku akan melamar kamu sekarang, Lis ..."


 


"Ishh, kenapa tiba-tiba ngomong mau melamar. Kapan jadi pacar?" tanya Lisa yakin bahwa mereka berdua belum menjadi sepasang kekasih.


 


"Jadi kamu belum yakin kalau aku serius?" tanya Aksa.


 


Lisa membuang wajah ke arah lain. "Tentu saja." Sebenarnya dia malu mengatakan itu.

__ADS_1


 


"Mmm ... Aku memang belum mengatakannya dengan baik. Baiklah." Aksa mengambil napas panjang sebelum mengatakan sesuatu.


 


"Heh, apa?" tanya Lisa terkejut. Tiba-tiba Aksa menarik tangannya. Menggenggam jari-jari gadis ini dengan lembut. Lisa panik. Ia menoleh ke kanan dan kiri. "Lepaskan tanganku, Aksa," desis Lisa.


 


"Tunggu sebentar saja. Aku sedang menyatakan cinta padamu." Aksa tidak mau mendengarkan Lisa. "Aku sayang ke kamu Lis. Aku ..."


 


"Lisa ... Ternyata Bapak ini bukan ..."


 


Duk! Lisa mendorong tubuh Aksa mendadak karena Bapak tiba-tiba muncul. Saking takutnya, Lisa mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong Aksa agar menjauh dari dirinya. Membuat Aksa terjatuh dari kursi.


 


Aksa meringis mendapat dorongan lumayan kuat dari gadis ini.


 


"Kenapa Pak Guru, eh, bukan. Bapak kenapa?" tanya Bapak Lisa heran.


 


"Tidak apa-apa. Bapak ini tidak apa-apa, Pak." Lisa langsung memberi keterangan tanpa di minta. Bapak yang tadi menoleh ke Aksa, kini melihat ke putrinya.


 


Sedikit mengerutkan kening karena Lisa menjawab. Padahal beliau bertanya pada tamu.


 


"Saya tidak apa-apa, Pak." Aksa yang sudah duduk dengan baik menjawab. Lisa menggigit bibir melihat Aksa yang masih sesekali meringis.


 


"Ada apa, Pak? Kok tiba-tiba muncul," sungut Lisa. Dia menyalahkan Bapak.


 


"Sebenarnya, Bapak ini bukan Pak Guru, ya?" tanya Bapak Lisa yang sepertinya mendapat informasi baru.

__ADS_1


...______...



__ADS_2