
Kenapa dia ada di sini sih? Bikin gak aman saja. Apa yang sedang di lakukannya?
"Yang ini bagus sayang?" tanya seorang wanita dengan manja di kamar pas sebelah. Lisa bersandar di dinding kamar pas. Dan terdengar dengan jelas suara dari kamar ganti di sebelah.
"Ya. Itu bagus sayang. Pilihlah sesuai seleramu, aku yakin semua seleramu pasti cocok dengan tubuh indahmu. Kamu sengaja mendatangiku karena rindu kan?" kata seorang pria dengan nada penuh cintanya.
Wow. Lisa yang mendengarnya di buat merinding mendengar kalimat penuh cinta tersebut.
Cklek! Setelah beberapa menit, Lisa membuka pintu perlahan. Merasa tidak ada suara Aksa di sana. Dan ... Set! Lisa ternyata malah berpapasan dengan Aksa yang menuju ke kamar pas sebelah. Lisa memutar tubuhnya untuk membelakangi Aksa. Kamar pas ada di sudut counter. Dan jalan satu-satunya untuk keluar adalah harus melewati lelaki itu.
Aksa yang mendekat ke kamar pas melirik kearah pemilik tubuh tinggi dan kecil itu. Namun hanya sebatas itu karena Aksa sibuk melihat perempuan di dalam kamar pas yang mulai menunjukkan pakaiannya.
"Kamu memang cantik sayang. Apapun yang kamu pakai memang sangat cantik."
Jadi yang sedang memuji seorang perempuan dengan penuh cinta itu adalah Aksa? Sungguh menggelikan. Jadi dia pria yang seperti ini?
Lisa mencebik sendiri.
Padahal di depan aku yang menjadi Yora dia begitu dingin. Ya ... tidak aneh sih. Pertunangan itu adalah keinginan kakeknya. Mungkin sebelum itu dia sudah memiliki seorang perempuan yang dicintainya.
Jadi Yora memang benar-benar hanya menjadi sebuah status saja sebagai tunangan Aksa.
Kenapa aku semakin kasihan dengan gadis bernama Nayora itu. Semua yang di sekitarnya adalah palsu.
Bicara soal palsu, Lisa teringat akan dirinya sendiri yang juga palsu. Lalu dia mendengus geli.
__ADS_1
"Sayang, kapan kita akan bertemu lagi?" tanya wanita itu manja. Lisa meraba tengkuk lehernya yang merinding. Dia masih berada disana mendengar percakapan 'dewasa' di antara Aksa dan kekasihnya.
"Aku akan segera meneleponmu jika waktuku luang."
Walaupun Lisa tidak melihat, dia yakin saat ini Aksa sedang mengecup kekasihnya. Tangan Lisa berpura-pura memilih pakaian agar terlihat lebih natural aktingnya. Lisa mengusap-usap telinganya merasa jengah dengan percakapan di belakangnya.
Hhh ... ni laki. Gombal banget.
Lisa masih berdiri di sana di depan gantungan kemeja wanita. Menunggu pasangan di belakangnya pergi dan dia bisa bebas. Jarak Lisa dan kekasih Aksa sangat dekat sekali. Hanya dibatasi oleh tas besar milik wanita itu. Lisa coba mengangkat kemeja di gantungan itu ke atas. Seakan-akan sedang meneliti secara menyeluruh kemeja yang akan di belinya. Mengasah bakat aktingnya untuk menjiwai perannya.
"Baiklah. Aku akan menunggumu. Tapi jangan lupa meneleponku ya ...," kata wanita itu bergelayut mesra pada lengan Aksa. Karena ingin terlihat lebih menggemaskan, wanita itu menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan manja. Dia ingin Aksa semakin tertarik dengannya. Dan semua itu menyebabkan tragedi.
Srek! Dan tak sengaja menyebabkan pakaiannya yang lebar tersangkut di hanger baju yang sedang di pegang Lisa. Mata Lisa mendelik melihat pakaian wanita itu robek. Dengan mata dan kepalanya sendiri dia menyaksikan baju berbahan lace itu tersangkut dan ...
Wanita itu terkejut melihat pakaiannya yang robek agak panjang. Bahan baju yang di kenakan wanita itu memang tipe bahan lace yang rapuh. Apabila sekali tersangkut memang sangat mudah robek. Lisa termangu sejenak.
Wanita itu melihat Lisa dengan geram. Di tatap seperti itu, membuat Lisa juga menatap gantungan baju di tangannya dengan geram. Lalu meletakkan ke tempat semula dengan kesal.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" teriak Marissa marah. Aksa melihat ke arah gadis yang dimarahi Marissa. Lisa langsung menunduk sambil menutup setengah wajahnya dengan tangan.
Cih! Kenapa harus ada adegan ini sih.
Padahal sebentar saja mereka berdua akan segera pergi dari sini. Namun karena kejadian ini, membuat Lisa harus berhadapan langsung dengan kekasih Aksa. Entah yang ke berapa. Dan lagi Aksa sekarang justru sedang melihatnya.
"Kau tidak dengar apa yang aku tanya barusan?!" Marissa murka. Dan Lisa hanya diam saja. Dia tidak merasa bersalah atas insiden ini. Semuanya karena wanita itu yang tidak bisa diam. Karena dia selalu saja melenggok-lenggokkan tubuhnya dengan manja dan membuat bajunya yang lebar tersangkut. Itu bukan salah Lisa.
__ADS_1
"Lihatlah, Aksa ... dia tidak mau meminta maaf karena membuat pakaianku robek ..." ujar Marissa merajuk manja. Raut wajahnya di buat sesedih mungkin.
Lisa jadi ingin muntah melihatnya. Aksa melihat robek di baju Marisaa lalu menatap ke arah gadis di depannya lagi. Lisa semakin menunduk dan semakin erat menutupi wajahnya.
Jangan sampai kelihatan, jangan kelihatan. Rapal Lisa dalam hati. Walaupun mungkin Aksa tidak langsung mengenali, tapi Lisa tidak mau wajahnya tanpa makeup dari Maya dilihat oleh Aksa.
Kaki Aksa maju, membuat Lisa memundurkan kakinya juga. Apa yang akan di lakukan Aksa? tanya Lisa dalam hati. Ternyata Aksa mencoba menghindarkan Lisa dari tatapan mata Marissa yang murka dengan menutupinya.
Aksa berdiri tepat di depan Marissa. Membelakangi Lisa untuk mencoba menenangkan perempuan ini.
"Sudahlah Marissa, kau akan terlihat semakin cantik kalau terus marah seperti itu. Dan aku sangat lemah dengan perempuan berwajah cantik," ujar Aksa sambil memegang bahu Marissa lembut. Membuat wanita itu menutup mulutnya dengan cute karena terpesona dengan kalimat lelaki ini. Lisa yang mencoba mendongak tak kuat menahan tawa.
"Pfftt .... " Lisa segera menunduk lagi sambil menahan tawa. Aksa melirik. Dia tahu gadis itu sedang menertawainya. Kalimat rayuannya barusan terdengar sangat lucu baginya. Aksa tidak suka itu.
Dirinya ditertawakan oleh gadis biasa seperti dia?
"Aksa ..." Marissa memegang pipi Aksa dengan wajah terharunya. Dia sangat terharu mendengar kalimat pria ini. Matanya berkaca-kaca. Tidaaaakkk! Ini adegan lawak yang bikin perut sakit. Lisa sampai perlu memukul-mukul gantungan baju karena merasa geli melihat potongan adegan sebuah drama komedi.
Aksa semakin menautkan alisnya. Merengut.
Lisa lupa diri yang membuatnya melepas tangannya. Namun untung saja kepalanya melihat ke arah lain yang membuat Aksa tidak bisa mengenalinya. Aksa hanya bisa menatap punggung Lisa saat gadis itu berjalan keluar dari counter pakaian.
______
TUNANGAN PALSU
__ADS_1