Tunangan Palsu

Tunangan Palsu
Bab. 53 Interogasi


__ADS_3


"Masuk ke mobil. Ikut denganku," ajak Aksa.


 


"Kemana?"


 


"Kamu hanya cukup bilang iya, dan masuk mobil. Paham?" kata Aksa ketus. Lisa mengangguk. Tidak lanjut bertanya. Ia membuka pintu belakang mobil dan masuk.


 


Aksa yang mau masuk ke dalam mobil menengok ke belakang.


 


"Kenapa duduk di sana? Duduk di depan!" perintah Aksa. Lisa patuh. Ia keluar dan kembali masuk lewat pintu depan.


 


***


 


Ternyata ia di bawa ke perusahaan. Lisa yakin ini perusahaan keluarga Candika. Tangan Lisa segera menutup resleting jaket untuk menutupi seragamnya. Ia merasa panik karena sekarang tampilannya bukan menjadi Yora.


 


"Bersikaplah biasa. Yang mereka tahu kamu adalah tunanganku," kata Aksa yang tahu Lisa panik.


 


 


Sesampainya di depan ruangan Aksa, ia membuka pintu tanpa mempersilakan gadis ini masuk. Namun Lisa tidak mau berpikir panjang. Dia langsung masuk dan duduk di sofa.


 


"Ternyata tanpa di persilakan pun kamu langsung duduk." Ini sebuah cibiran.


 


Mendengar itu Lisa langsung berdiri. Sepertinya dia salah.


 


"Kenapa berdiri?" tanya Aksa yang membalikkan badan dan hendak menuju ke sofa juga.


 


"Bukannya ternyata aku tidak sopan, jika langsung duduk sementara tuan rumah belum menyuruhku duduk?" tanya Lisa datar. Bibir Aksa menipis.


 


"Kamu mempermainkanku?" tuding Aksa. Lisa melebarkan mata. Terkejut dengan pertanyaan Aksa. Lalu berdecak pelan. Lisa memilih diam. Dia bertekad untuk tetap berdiri sebelum pria ini menyuruhnya. "Kamu akan tetap berdiri saat aku akan bertanya banyak hal padamu?"


 


"Oke. Aku anggap itu perintah untuk menyuruhku duduk. Terima kasih." Lisa akhirnya duduk. Aksa melihat gadis ini seraya menipiskan bibir.


 


"Katakan. Jika kamu palsu, kemana Yora yang asli?" tanya Aksa.


 


"Aku tidak tahu," jawab Lisa singkat.


 


"Tidak tahu? Itu tidak mungkin. Kamu pasti sudah di beritahu soal Yora yang asli." Aksa tidak semudah itu percaya.


 


"Aku hanya pesuruh. Aku hanya di perintahkan ini dan itu tanpa perlu bertanya banyak hal," sangkal Lisa.


 


"Jangan menyembunyikan informasi. Kamu bukan sedang berada di posisi yang bisa memilih menjawab atau tidak. Kamu harus menjawab. Titik," tegas Aksa dengan mencondongkan tubuhnya pada Lisa.


 


"Kamu akan membebaskan aku dari segala hal yang memungkinkan aku di penjara karena masalah ini?" tanya Lisa.


 

__ADS_1


"Kamu tidak takut padaku, ya?" tanya Aksa. Lisa menatap pria di depannya. Lalu berpindah melihat ke arah lain.


 


“Tidak mungkin aku tidak takut. Hanya saja jika ada kesempatan baik, aku akan menggunakannya. Aku tidak bisa mundur menjadi Yora.” Aksa terdiam melihat telad di mata Lisa.


"Tapi Kamu tidak bisa menawar, bocah. Kamu di nyatakan bersalah. Apapun alasanmu, kamu di anggap bersalah. Jadi tidak ada tawar menawar.”


 


Lisa terdiam sejenak. Aksa menunggu pernyataan gadis ini.


 


“Yora yang asli koma. Hanya itu yang aku tahu.” Lisa terpaksa mengatakannya. Jarinya bergerak-gerak. Bukan hanya saat ini. Sudah sejak tadi. Rasa sakit masih ada karena ulah Aksa. Bahkan ia menyembunyikan itu dari Arka dan orang-orang di sekitarnya.


 


“Jadi maksudmu, Yora masih dalam keadaan koma?” tanya Aksa. Lisa mengangguk. Bola mata Aksa terusik oleh jari-jari Lisa yang tidak bisa diam. “Jarimu terluka karena waktu itu?” tanya Aksa yang menyadari gadis ini sejak tadi mendesis samar oleh rasa sakit.


 


Lisa mendongak. Ia terkejut Aksa memperhatikannya. Bibir Lisa diam.


 


Brak! Pintu terbuka.


 


“Aku pikir kamu sudah pulang, tapi mereka bilang ...” Noah terkejut melihat ada seorang gadis duduk di sofa.


 


“Yo ... Ra?” tanya Noah terkejut. Mendadak ia ragu saat melihat tampilan gadis ini berbeda. Matanya mengerjap.


 


Aksa membiarkan Noah bingung. Ia yakin Noah sendiri meragu melihat tampilan lain Lisa yang menyamar sebagai Yora.


 


“Kamu ... Yora?” tanyanya ragu pada Lisa. Gadis ini diam. Dia menoleh pada Aksa. Lisa tidak ingin menjawab. Menurutnya Aksa lebih berhak untuk memberikan jawaban. “Dia Yora, kan?” tanya Noah lagi. Jika biasanya ia yakin Lisa adalah Yora, tapi kali ini ia harus bertanya pada Aksa karena hatinya ragu.


 


“Ya. Dia Yora,” kata Aksa mengejutkan. Lisa yang tadinya menunduk, kini langsung menoleh Aksa. Mengedipkan mata merasa ia salah dengar. Aksa hanya melirik ke arah Lisa sebentar. Dia tahu Lisa sedang terhenyak kaget mendengar jawabannya.


 


 


Aksa menganggukkan kepala.


 


Noah kini melihat ke arah Lisa.


 


“Kenapa kamu terlihat pucat, Yora?” tanya Noah kemudian. Lisa hampir saja tergelak mendengar itu. Ya. Saat ini Lisa tidak di make over oleh Maya. Ini asli dirinya sendiri. Ini bukan pucat, tapi karena Lisa sempat berada di bawah sinar matahari tadi.


 


“Dia sedikit tidak enak badan,” sahut Aksa kembali mewakili Lisa.


 


“Benarkah?” Noah langsung mendekat. Lisa spontan mundur. Noah terkejut. Ia sempat lupa kalau gadis bernama Yora adalah tunangan Aksa.


 


Meskipun Aksa sudah tahu bahwa dirinya mencintai Yora dan pria itu tidak punya perasaan yang sama, bukan berarti ia bisa bersikap berlebihan pada gadis ini. Karena bagaimanapun, Yora mencintai Aksa.


 


“Maaf Yora.”


 


Lisa merasa tidak enak hati karena menyadari ia sudah menyakiti hati Noah barusan.


 


“Aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut barusan,” kata Lisa.


 

__ADS_1


“Kalian masih berbincang? Aku ikut.” Noah bermaksud bergabung.


 


Lisa yang merasa perlu Noah untuk membuat Aksa berhenti mengintimidasinya setuju.


 


“Tidak. Yora sedang tidak enak badan. Dia harus pulang.”


 


***


 


“Aku bisa pulang sendiri,” kata Lisa.


 


“Tidak. Orang orang kakek akan melapor jika aku ketahuan membiarkanmu pulang sendiri karena di sini masih area mereka,” kata Aksa membuat Lisa menoleh ke sekeliling dengan was-was. Itu berarti ada mata-mata kakek.


 


“Hei, kamu bilang pada Noah kalau aku palsu?” tanya Lisa.


 


“Kenapa? Aku berhak mengatakan itu pada semua orang.”


 


“Memang. Kamu belum tahu, kalau dia menyukai Yora asli?”


 


Aksa menoleh sebentar dengan heran ke arah Lisa.


 


“Darimana kamu tahu soal itu?” Aksa bertanya dengan curiga.


 


“Emm ... Itu. Aku punya teman yang dulu bertetangga dengan Noah. Dia tahu soal Yora. Dia juga mengerti soal hati Noah."


 


“Jadi kamu juga menceritakan soal penipuanmu pada orang lain?”


 


Lisa baru sadar. Jika begitu, Sera juga sebenarnya mengenal Yora.


 


“Itu tidak mungkin," sahut Lisa.


 


“Ternyata kamu juga sempat memakai otakmu,” olok Aksa. Lisa menipiskan bibir kesal.


 


“Hei, kenapa tadi bilang ke Noah kalau aku ini Yora asli?” Lisa ingin tahu itu sejak tadi. “Bukankah kamu sudah mengatakannya pada Noah kalau aku ini palsu. Kenapa enggak sekalian buat dia menginterogasi aku?”


 


“Tidak perlu memberiku perintah untuk menyuruh Noah menginterogasimu. Jika sudah waktunya, cukup dari mulutku saja kamu sudah bisa di jebloskan ke penjara," ketus Aksa.


 


Lisa tahu Aksa lebih berkuasa dari Noah.


 


“Dan berhenti memanggilku dengan santai. Aku bukan ‘hey’. Namaku Aksa. Dan aku bukan temanmu, bocah. Aku pria dewasa. Pria dewasa tidak bermain-main dengan bocah ingusan sepertimu. Jadi jangan sekali-kali bertingkah dekat hanya karena aku tidak mengungkap kebenaran siapa kamu sebenarnya pada orang lain,” ancam Aksa yang mampu membuat kepala Lisa mengangguk mengerti. Mulutnya pun tersegel tidak banyak bertanya.


 


Menurutnya juga aneh, ia tidak membongkar soal Yora palsu pada Noah. Padahal waktu itu ia sangat antusias untuk membuat Noah percaya bahwa gadis di depannya sekarang.


 


_____


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2